Monday, October 20, 2014

Tikus



Tikus

Istriku mungkin adalah orang yang paling jijik dengan tikus. Setiap kali kami mengontrak rumah, yang paling dia risaukan adalah apakah rumah itu dengan mudah bisa dimasuki binatang pengerat berbulu abu-abu kehitaman yang bisa memasuki lubang berukuran 1 sentimeter itu. Karena itu, dia akan dengan sangat rewel memerintahkan tukang untuk menutup semua lubang angin dengan kawat kassa, menambal bagian bawah pintu dengan sebilah papan tripleks, serta memastikan semua lubang pembuangan air di kamar mandi tidak dapat dijebol dari bawah. Yang terakhir ini, jika tidak bisa dilem dengan lem besi maka dia akan membeli bata ringan untuk menutupnya.

Sebenarnya, hal yang terakhir itu menyisakan keruwetan tersendiri. Maklum, kami masih mempunyai seorang bayi yang belum bisa buang air besar di toilet. Walhasil, sisa-sisa tahi sering sekali menempel di bata ringan itu. Perlu ekstra waktu dan tenaga untuk membersihkannya, minimal seminggu sekali. Dari kegiatan membersihkan kamar mandi ini, aku kemudian mendapatkan musibah. Larutan pembersih lantai keramik sering menciprat ke kaos hitam yang sering aku kenakan, dan yang paling parah mataku pernah tepercik sehingga meninggalkan noda merah seperti berdarah selama berhari-hari.

Saat aku dipanggil atasanku, mataku yang merah itu membuat keningnya berkerut dan lantas dengan cepat dia menutupi matanya. “Ah. Kamu lagi sakit mata ya? Pakai kacamata dong! Biar teman-teman di kantor tidak ada yang tertular.” Buru-buru aku menjelaskan bahwa mataku baik-baik saja. Maksudku bukan sedang sakit mata akibat virus yang gampang menular lewat udara. Tetapi, penjelasanku seperti sia-sia. Dia lantas menyuruhku cepat-cepat meninggalkan ruangannya. Dan percakapan yang tadinya hendak disampaikan langsung disusulkan dalam bentuk e-mail.

Akibat email dari atasanku, hari ini aku lembur. Padahal, malam ini aku sudah berjanji untuk pulang cepat karena istriku kurang enak badan. Dia ingin tidur setelah minum obat dan tak ada yang menjaga bayi kami. Belum aku member kabar kepadanya, tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Nana! Istriku.

“Ya?”

“Katanya mau pulang cepat? Kok sudah jam 9 belum sampai rumah?” Cerocosnya seperti senapan serbu tentara.

“Lembur,” jawabku singkat.

“Huh. Kebiasaan! Selalu tidak bisa tepati janji. “ Suaranya terhenti dan tergantikan bunyi tut-tut-tut tanda panggilan itu sudah berakhir.

Belum lagi aku sempat memasukkan jenis kelamin, usia, dan pengeluaran per bulan untuk mencari media apa yang tepat bagi target penonton iklan yang hendak ditayangkan dalam sebuah sistem analisis data, telepon genggamku kembali berbunyi.

Nana! Istriku kembali meneleponku.

Sebelum aku berkata apa-apa, terdengar jeritannya, “Ayah! Ada tikus masuk rumah!”
Perkataan ini membuatku tidak bisa tidak untuk menyanggupi kepadanya untuk segera pulang. Aku minta waktu sepuluh menit untuk membereskan pekerjaanku, minimal mendapatkan data yang sedang aku cari, menyimpannya dalam format Microsoft Excel dalam folder data pengiklan yang bersangkutan. Sebenarnya, aku perlu waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di rumah. Artinya, setidaknya , aku akan berada di rumah setengah jam kemudian.

“Naik ojek saja biar cepat sampainya!” Teriaknya kembali di ujung telepon.

Sampai di rumah, istriku sudah tidur menurut pengakuan ibu mertuaku. Aku segera masuk ke dalam kamar. Kulihat anak bayi kami tertidur pulas sambil menyusu pada botol susunya dengan kaki di atas bantal guling. Istriku terbangun ketika aku tadi membuka pintu.

“Tikusnya di dapur. Tadi Nunik melihat ekornya di bawah lemari makan,” bisiknya pelan. Nunik adalah adik istriku yang tinggal bersama kami setelah memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai tenaga pemasaran di kota M.

“Kenapa Nunik tidak memburunya?” godaku.

“Kamu itu. Perempuan di mana pun takut sama tikus!” balasnya.

“Takut atau jijik?”

“Sudah, cepat sana cari! Keburu dia bersarang di gudang lalu beranak pinak. Hiii…”

Hanya mengganti celana panjang dengan celana pendek dan membuka kemeja, aku pun segera pergi ke dapur. Mengintai celah-celah lemari, kardus-kardus, galon-galon air minum, tabung gas, ember-ember, bahkan sampai keranjang pakaian kotor pun aku bongkar. Tidak ada tanda-tanda tikus itu.

Menunggu dan mencari tikus ke segala penjuru rumah itu membuat aku mengingat penelitianku sewaktu di bangku kuliah. Skripsiku adalah tentang morfologi, sebuah ilmu yang mempelajari bagian-bagian dari tubuh hewan untuk membedakan antar spesies. Ilmu inilah yang digunakan untuk menggolongkan aneka jenis burung finch ketika Darwin mendarat di Galapagos. Khusus untuk hewan mamalia, morfologi juga berarti tentang sidik jari. Penelitian yang aku lakukan ketika itu adalah mencari pola sidik jari tikus yang ada di Kota B. Membandingkan apakah ada perbedaan sidik jari tikus itu dengan catatan sidik jari yang pernah dibuat di Jepang dan Norwegia sekian puluh tahun silam sebelum penelitianku itu.

Jadi, menangkap tikus bukanlah pekerjaan yang sulit untuk aku lakukan sebenarnya. Tapi, setelah selesai penelitian yang memakan korban puluhan ekor tikus di Kota B itu karena aku memburunya setiap malam selama enam bulan, aku juga merasa jijik dengan binatang itu. Bau klorofom bercampur bau tikus yang setiap malam aku hirup telah membuat aku merasa sangat mual jika melihat binatang itu baik dalam keadaan hidup atau sudah berbentuk bangkai yang banyak ditemui di jalan-jalan perumahan akibat tertabrak sepeda motor atau mobil.

Rasanya sudah satu jam aku menekan perasaan jijikku sendirian di dapur. Aku tak berani untuk minum karena takut muntah. Rasa mual yang timbul di perut itu terjadi karena aku membayangkan bagaimana nasib Sang Tikus nanti di tanganku. Bisa-bisa kepalanya pecah karena terpukul gagang sapu, isi perutnya keluar karena tersabit, atau dia mengalami luka dalam karena terlempar kayu pengganjal pintu. Semua alat-alat pembunuhan itu telah kusiapkan dekat dengan tempatku berdiri. Senter di tanganku mengarah ke berbagai sudut ruang dapur yang temaram.

Telinga kuawas-awaskan untuk mendengar setiap bunyi, tapi tak kudengar cicit ataupun krasak-krusuk yang menandakan adanya tikus. Pernyataan dari Nunik bahwa ia melihat ekor tikus di bawah lemari makan kembali aku selidiki. Rasanya sudah tiga kali aku membungkuk untuk melihatnya, dan hasilnya tetap tidak ada. Aku pun mulai cemas. Kalau malam ini tikus itu tidak ditemukan, besok pagi bisa-bisa aku diminta untuk ijin tidak masuk kerja. Hanya demi mencari sampai dapat seekor tikus di dapur.

Kalau aku beralasan sakit, bisa-bisa teman-teman di kantor akan menganggap mataku yang merah dari kemarin itu memang benar sakit mata yang disebabkan karena virus. Lalu mereka akan memintaku mengambil sisa jatah cutiku untuk beristirahat di rumah. Apalagi jika atasanku mendengar kabar ketidakhadiranku di kantor. Dia yang dari tadi yakin kalau aku sakit mata pasti akan menelepon dengan panik untuk memastikan bahwa dia tidak tertular. Dan jika aku berkata aku sakit yang lain, pasti dia tidak percaya karena hari ini aku terlihat sehat dan bugar.

Paling-paling aku akan beralasan sakit perut akibat salah makan. Istilah yang aneh menurutku. Karena untuk makan, seharusnya kita bisa memilih makanan yang akan masuk ke dalam tubuh kita. Supaya kita tetap terjaga kesehatannya. Maka, mana mungkin kita bisa salah makan? Misalnya kita makan di warung pun makanan yang akhirnya masuk ke dalam perut kita adalah makanan yang kita pilih berdasarkan kesadaran kita. Artinya tidak mungkin salah.

Sambil menunggu tikus itu muncul – setidaknya memberikan tanda di mana dia berada – aku membaca novel Salman Rushdie, Harun dan Samudra Dongeng. Salah satu yang membuat aku membeli novel ini adalah gara-gara perkataan Murakami yang menyebut (tidak secara tepat begini ucapannya, tetapi bisa diartikan sama) bahwa agar kita punya pikiran yang berbeda dengan orang lain, carilah bacaan yang sekiranya orang tidak ramai membacanya. Dan menurutku, pilihanku untuk membelinya – meskipun salah satu alasannya adalah buku ini masuk dalam obral sebuah toko buku – tidak salah. Rushdie menulis dengan sangat lancar. Dia menceritakan dongeng yang tidak mirip dengan dongeng-dongeng yang pernah aku baca sebelumnya. Tidak ada tokoh yang begitu heroik, bahkan tokoh-tokohnya kebanyakan punya cacat dan tidak menarik tampilannya. Bayangkan saja seorang putri raja disebut-sebut punya deretan gigi yang tidak bagus dilihat. Belum lagi bentuk hidungnya. Belum lagi suaranya. Dan dia punya kebiasaan yang sangat aneh sebagai putri raja, jalan-jalan ke perbatasan negara tetangga yang bermusuhan dengan negerinya hanya untuk melihat senja.

Sebenarnya bisa dimaklumi kebiasaannya itu, karena negerinya adalah negeri yang selalu siang. Tidak ada pagi, senja, bahkan malam. Aku bisa mengerti alasannya. Dan aku yakin jika aku tinggal di tempat seperti itu juga akan melakukan hal yang sama dengan putri yang namanya berasal dari kata dalam Bahasa India yang artinya bergunjing. Stereotip memang, perempuan dan pergunjingan. Dan gara-gara membayangkan kebosanan Batcheat, putri raja itu, akan kondisi negerinya yang selalu siang, aku jadi mengantuk.

Tapi aku berpikir jika aku jatuh tertidur di dapur, bisa-bisa tikus itu mendekatiku dan masuk ke dalam celana pendekku. Bisa sangat menderita aku bila hal itu terjadi. Maka aku kuatkan mataku agar tidak menutup. Aku kembali mengawasi sekitarku. Dan…tiba-tiba aku lihat tikus berukuran sebesar anak kucing itu tengah berada di atas pipa air! Aku kebingungan – bagaimana cara membunuh tikus yang berada di atas pipa air seperti seorang akrobat di sebuah sirkus itu?

Walhasil, yang aku lakukan hanyalah menggusah agar tikus itu mengarah ke angin-angin di atas pintu yang kawat kasanya telah rusak karena pemasangan pipa air itu. Dan benar saja, dia berlari ke ujung pipa air di atas pintu. Aku bersyukur, setidaknya jalan pikiranku dengan tikus itu sama! Begitu dia terlihat berusaha merusak (tepatnya memperbesar bagian kawat kasa yang berlubang karena pemasangan pipa air itu) aku matikan lampu dapur, menutup pintu dapur yang ke arah ruang tengah dan mengganjal bagian bawah pintu dengan palang kayu agar tikus itu tidak bisa masuk ke dalam ruang tengah. Setelah itu aku masuk ke dalam kamarku.

Istriku terbangun ketika pegangan pintu kuputar.

“Sudah dibunuh tikusnya, Yah?”

“Tidak. Dia sudah lolos ke lubang kawat kasa di atas pintu dapur,” jawabku berbohong.

“O,” tanggapnya singkat dan bersiap untuk tidur kembali dengan menarik selimut.

“Besok, Ibu panggil saja tukang untuk membetulkan kawat kassa itu. Biar dia tidak bisa masuk,” aku menambahkan sebelum naik ke ranjang dengan teramat pelan supaya anak bayi kami tidak bangun.

Tapi aku belum bisa tidur meski mataku sudah sangat mengantuk. Aku berpikir bagaimana jika tikus itu berubah pikiran – tidak jadi ke luar malah masuk ke dalam kardus sepatu misalnya? Seperti dalam novel Harun dan Samudra Dongeng, Jikka, Sang Jin Air, itu mencuri (tepatnya mengambil) kembali alat pemutus hubungan dari bantal Harun yang tadinya digunakan oleh Harun untuk melakukan negosiasi dengannya agar dibawa ke majelis Kepala Telur untuk diberikan penjelasan mengenai Proses Rumit yang Tidak bisa Dijelaskan – kenapa dunia ini bisa terhubung dengan dunia dongeng setiap saat.


Jakarta, Oktober 2014.

Labels: , ,

Sunday, September 28, 2014

Hantu Perempuan dan Hotel Berarsitektur Kiri

Sambil melambaikan tangan, Tinuk bertanya padaku, “Apakah kau suka dengan tulisan-tulisan George Orwell?” Yang membingungkanku, Tinuk menanyakan hal itu tepat setelah aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan juga sebab aku memang bingung dituduh begitu.
Tinuk tertawa. Hal itu seolah membuat aku tampak begitu bodoh. Tapi aku benar-benar tidak paham apa hubungan pertanyaanku dengan pertanyaannya, atau lebih tepatnya apa hubungannya gedung berarsitektur kiri dengan George Orwell.
“Sudahlah, jangan cemberut begitu. Kalau kau penggemar George Orwell tentu pernah membaca esainya yang berjudul Dapatkah orang-orang Sosialis Hidup Bahagia. Dalam esai itu dia menyebutkan salah satu yang bisa dianggap kesalahan dari paham yang dianggap Kiri itu adalah membangun gedung dengan AC tersentral dengan lampu-lampu berderet yang bersinar terang,” katanya dengan nada membujukku agar tidak bingung dan terlihat sedih karena kebodohanku.
Aku melongo. Sebab yang aku tahu Orwell hanya menulis novel Animal Farm dan 1984 saja. Ketika aku berkata bahwa aku hanya tahu novel-novel Orwell, Tinuk kembali tertawa.
“Orwell juga menulis puisi,” katanya.
Kali ini aku melihat wajahnya dengan sangat jelas. Beberapa hari sebelum hari ini, aku tak pernah mau untuk menatapnya karena takut. Tinuk adalah hantu perempuan yang kutemui di apartemen, tempat aku menginap selama mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah kota kecil di benua Eropa ini. Dia suka muncul dari kamar mandi secara tiba-tiba. Lalu, jika kamar tidurku terbuka, dia akan segera masuk dan duduk di atas meja kerjaku. Duduk di antara tumpukan buku-buku.
Pertama kali aku bertemu dengannya, adalah ketika aku duduk menghadap ke arah pintu kamarku yang terbuka. Saat itu aku tengah membaca kumpulan sajak Rendra tepat pada sajak “Nyanyian Angsa”. Tiba-tiba aku mendengar suara gagang pintu kamar mandi seperti hendak dibuka. Aku berhenti membaca.
Kuperhatikan dengan seksama gagang pintu kamar mandi yang letaknya memang berhadapan dengan kamarku. Tidak. Gagang pintu itu tidak bergerak.
Belum lama aku pandangi gagang pintu itu dari jauh, tiba-tiba sesosok perempuan bergaun merah sudah berdiri di hadapanku.
Tentu aku tidak berpikir perempuan itu keluar dari buku Blues Untuk Bonnie itu. Tapi lucunya, aku sempat berpikir jangan-jangan dia bernama Maria Zaitun! Sebab dia tidak berperawakan orang Eropa, tetapi lebih mirip dengan orang dari Asia. Mungkin juga orang Indonesia.
Belum sempat aku melihat wajahnya yang tertutup rambut panjang hitam, aku melihat gaun merahnya semakin dekat dengan wajahku. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya gelap belaka.
“Aku senang jika ada teman. Di sini, aku sangat kesepian. Kota ini dingin dan seolah tenggelam dalam sepi. Itu sebabnya aku menampakkan diri padamu.” Hantu perempuan itu bicara tanpa henti begitu aku membuka mata. Dia seolah tahu aku telah siuman. Suaranya terdengar seperti dari belakang punggungku.
Aku masih ketakutan dan tak berani menoleh atau memalingkan wajahku ke arah suaranya. Tapi hantu itu masih bicara. Kudengar lamat-lamat dia bercerita tentang seorang tentara yang mencintainya dan membawanya ke kota ini. Aku jadi tertarik untuk mendengar ceritanya lebih lanjut.
Dengan memberanikan diri, aku bangkit dan menghadapkan tubuhku ke arah suara hantu itu berada, tapi wajah kutundukkan ke lantai. Takut jika penampakannya memang menyeramkan seperti gambaran hantu-hantu dalam film Jepang atau Indonesia.
“Ah. Kau rupanya tertarik dengan cerita percintaanku ya?” godanya.
Dengan rasa ragu karena malu mendengar perkataannya dan tebersit keberanian untuk menganggap hantu itu seolah khayalanku saja, aku mencoba mengangkat wajahku.
“Bagaimana tadi ceritanya kau bisa meninggal di kota ini?”
“Kau rupanya lebih tertarik dengan cerita daripada berkenalan denganku. Pantas kau masih sendiri sampai saat ini.”
Dia, tanpa diminta, memperkenalkan dirinya. “Aie Thin Noe namaku. Aku lahir di Burma, atau Myanmar saat ini. Perang telah membuat keluargaku berantakan. Dan kau pasti tahu gadis sepertiku akan mudah jatuh ke tangan yang salah dalam kondisi seperti itu. Singkatnya, aku menjadi budak nafsu para tentara. Untunglah seorang tentara dari kota ini datang dan menyelamatkanku. Meski awalnya tetap sama saja, sebagai laki-laki yang jauh dari rumah, lalu bertemu dengan pelacur seperti aku, dia hanya menginginkan aku sebagai pemuas nafsu belaka. Tapi cinta lama-lama tumbuh di hatinya, dan sampailah aku di sini.”
Aku mencoba mencari tahu seperti apa wajahnya yang tersembunyi di balik helaian-helaian rambut hitam panjang. Dan seperti tahu maksudku, tangannya bergerak menyibak rambutnya. Aku gugup. Alih-alih melihat wajah yang kini terbuka, aku kembali menunduk.
“Namamu susah kusebut. Bagaimana jika aku panggil kau Tinuk?”
Dia tertawa. Berbeda dengan suara tawa kuntilanak yang cenderung mirip ringkik kuda, tawanya terdengar renyah seperti seorang gadis manja.
Hari-hari selanjutnya, aku makin akrab dengan kehadiran Tinuk. Justru, Tinuk entah bagaimana caranya bisa membuatku merasa betah tinggal di kota ini. Tak jarang, dia ikut dalam perjalananku dari apartemen ke kampus. Dia juga sering mengejutkanku dengan membisikkan judul buku yang bagus ketika aku berada di toko buku. Setelah aku membayar di kasir untuk satu seri buku 1Q84 karya Haruki Murakami, dia tiba-tiba menyeletuk.
“Kamu paling suka cerpen Murakami yang mana?” tanyanya.
Tentu pertanyaannya tak segera kujawab. Takut dikira orang aku mengalami gangguan jiwa. Tapi dia mengulangi kembali pertanyaannya. Dengan langkah cepat, aku keluar dari toko buku. Memotong jalur sepeda dan menuju sebuah jalan kecil yang mengarah ke taman kota. Tepat di pagar taman kota yang di sana terdapat sebatang pohon yang tengah berbunga, lagi-lagi dia bertanya hal yang sama.
“Kau aneh. Aku baru membeli novel, kau malah bertanya soal cerpen,” jawabku ketus karena merasa terganggu.
“Aku yakin kau mau menjawab pertanyaanku. Benar, bukan?” godanya lagi.
Kulemparkan pantatku di atas bangku yang tersedia di trotoar. Meletakkan novel baru itu. Dan sambil melihat matanya yang hitam seperti dalam lukisan Jeihan, aku berusaha mengingat beberapa judul cerpen Murakami.
“Aku suka Second Bakery Attack,” kataku setelah lama terdiam.
“Aku menduga kau punya otak kapitalis!” rutuknya.
Kapitalis? Apa hubungannya pilihanku akan cerpen Murakami dengan ideologi ekonomi itu? Aku jadi bertanya tanya, apakah hantu itu memang punya kemampuan untuk menggabungkan beberapa hal dalam sebuah percakapan? Rasanya, aku tak mau bertanya atau menjawab pertanyaannya lagi.
“Berikan aku alasan mengapa kau beranggapan demikian?”
“Rasa lapar,” katanya, ”dalam cerpen pilihanmu itu teramat menakjubkan bukan? Nah, aku hanya menghubungkan jika kau suka dengan cerpen itu tentunya kau juga beranggapan ada banyak hal yang bisa dieksplorasi menjadi cerita. Artinya, dalam hidupmu, kau pun akan menganggap begitu.”
“Ah. Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu,” sanggahku, “Aku justru seorang yang memimpikan semua orang dalam dunia ini hidup dalam harmoni. Boleh saja jika kau menganggapku seorang utopis.”
“Utopis?” selidiknya. Bola matanya yang hitam itu seakan-akan membesar memandangiku dengan lekat. “Semua orang yang dianggap pelopor suatu gerakan biasanya seorang yang utopis.”
Dia kemudian bercerita di masa pergerakan besar menentang kaum borjuis di kota ini, beberapa bangunan indahnya pernah beralih fungsi.
“Gedung di sebelah sana dulunya sebuah arena pertunjukan. Saat mereka berkuasa, gedung itu menjadi semacam laboratorium atau pusat pengkajian ilmiah. Dan gedung-gedung yang berderet di jalan utama itu, dulunya dibangun sebagai apartemen milik rakyat. Atau untuk rakyat yang mau dipimpin dengan ideologi mereka.” Ketika dia menjelaskan demikian, aku merasa sedang dibawa bertamasya dengan dipandu oleh seorang tour guide. Aku lantas teringat sebuah upaya pencarian jati diri bangsa melalui arsitektur bangunan yang sering disebut sebagai post-constructivism. Maka selesai dia bercerita, aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang berarsitektur kiri kepadanya.
“Dalam hidup ini, semua itu dapat dihubung-hubungkan, termasuk pertanyaanmu itu dengan tulisan-tulisan George Orwell. Kau pasti belum tahu bahwa dia juga menulis puisi yang mirip dengan kisah hidupku, bukan?”
Kali ini aku tertarik dengan perkataannya. Aku menduga pasti puisi George Orwell yang dimaksud masuk dalam kategori puisi cinta, tetapi dia berkata puisi ini berjudul Ironic Poem about Prostitution.
Ah. Aku lupa bahwa latar belakang hidupnya adalah seorang pelacur. Tak berapa lama, dari bibirnya – atau setidaknya demikian – meluncurlah puisi tersebut;
When I was young and had no sense
In far-off Mandalay
I lost my heart to a Burmese girl
As lovely as the day.

Her skin was gold, her hair was jet,
Her teeth were ivory;
I said, "for twenty silver pieces,
Maiden, sleep with me".

She looked at me, so pure, so sad,
The loveliest thing alive,
And in her lisping, virgin voice,
Stood out for twenty-five.

Selesai dia membaca puisi itu, giliran aku yang tertawa getir. Pelacur berkebangsaan Burma. Mirip sekali dengan kisah Tinuk. Lalu, ironi pada soal sikap sedih pelacur itu dengan permintaan naiknya harga penawaran sungguh terasa menyedihkan. Tawaku cepat berganti dengan diam begitu aku melihat dia seperti termenung.
“Kenapa?” Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.
“Tak apa. Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu tadi soal gedung berarsitektur kiri yang ingin kau ketahui di kota ini. Kau lihat gedung di sebelah sana? Tepat di perempatan di seberang taman ini. Yang warnanya kuning tua dengan atap seperti berpagar dan ada semacam tugu kecil di empat sudutnya itu?”
Aku melempar pandangan searah dengan tangannya menunjuk. Memang ada bangunan besar berwarna kuning dengan banyak jendela berbingkai putih. Gedung itu seolah dibagi menjadi beberapa bagian. Lantai pertama dihiasi beberapa pintu besar yang melengkung seperti pintu gereja. Tiga lantai di atasnya berjendela dengan bentuk kotak sederhana. Menuju ke tiga lantai di atasnya, ada semacam balkon panjang. Dan jendela di lantai paling bawah - dari tiga lantai di atas balkon - dibentuk dengan bingkai melengkung, sedangkan dua lantai lagi sama seperti bentuk jendela tiga lantai pertama. Lalu setelah itu, ada satu lantai dengan jendela berukuran lebih besar dari semua jendela. Dan dua lantai terakhir dibangun agak menjorok ke dalam karena ada semacam selasar dengan tiang-tiang besar. Bangunan itu diakhiri dengan hal yang persis seperti dikatakan Tinuk; pagar dan tugu kecil di empat sudutnya.
“Apakah bangunan itu yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri?” Aku kembali bertanya pada Tinuk.
“Aku tak tahu sebenarnya yang kau maksud dengan arsitektur beraliran kiri, tapi bangunan hotel itu mirip sekali dengan apartemen yang ada di Kutuzovsky Prospekt, Moskow. Di sanalah aku dibunuh suamiku sendiri yang mengira aku hendak berselingkuh dengan temanku. Padahal aku datang ke hotel itu untuk menghadiri pertemuan orang-orang Burma perantauan di kota ini.”
Setelah Tinuk mengatakan hal itu, aku tertegun cukup lama memandangi bangunan itu, sampai-sampai tak kusadari Tinuk sudah tidak ada lagi di sampingku. Tapi bukan karena Tinuk menghilang aku memungut novel Murakami di atas bangku dengan cepat, memasukkannya ke ransel, lalu bergegas menyeberang jalan. Aku melakukan itu semua karena desakan rasa lapar. Rasanya, siapa pun tahu jika rasa lapar menyerang, apalagi ditambah suhu udara yang di bawah 10 derajat celsius, orang akan berjalan dengan sangat tergesa. Tidak terkecuali aku.

Jakarta, September 2014.

Labels: ,

Wednesday, September 17, 2014

Monumen Bulan dan Kota yang Ingin Merdeka

Panggih terlihat lebih kurus dan hitam dibandingkan beberapa bulan lalu aku melihatnya, tapi senyumnya tetap sama. Bersahabat. Dia merentangkan kedua lengannya, melupakan sejenak koper besar yang tadi diseretnya, untuk segera mengharapkan aku berada di dalam pelukannya.

“Kau tetap cantik dan menyenangkan untuk dilihat. Itu yang membuat aku bahagia bisa datang ke kota ini,” bisiknya.

“Kau tak berubah. Nggombal senantiasa,” balasku.

Dan tawa kami segera pecah, sebelum dihentikan oleh seorang bapak yang menggerutu karena tersandung kakinya oleh koper Panggih dan nyaris jatuh. Buru-buru Panggih melepaskan pelukannya dari tubuhku lalu menghampiri bapak tersebut dan meminta maaf. Aku memalingkan badan untuk menelepon Yanto, sopirku, untuk segera menjemput kami. Ketika badanku kembali ke posisi awal, Panggih sudah berdiri dekat denganku dengan raut muka seperti keheranan.

“Sudah berganti pemimpin, kota ini masih saja semrawut lalu lintasnya,” keluhnya.

Aku teringat tulisan-tulisan pendek Nalfin yang kerap mengomentari tentang kota dan tata pemerintahan kota termasuk janji-janji politik yang tak ditepati, tak jarang pula Nalfin menuliskan tentang perilaku warga kota yang justru membuat ruwet kota. Aku mengutipkan tulisan Nalfin untuk menimpali keluh kesah Panggih, ”Sebenarnya bukan pemimpinnya yang salah urus dan salah atur, tapi warganya juga semakin ngawur dan tetap mau menang sendiri. Lihat saja, di daerah yang sebenarnya tidak boleh parkir, mereka parkir semaunya. Ini baru di kawasan bandara.”

Panggih tertawa, lalu katanya, ”Kau tak perlu menjelaskan seperti itu, mentang-mentang aku baru kembali dari luar kota. Toh, aku penduduk kota ini.”

Aku jadi tersipu, tapi lantas egoku muncul.

“Kalau kau sudah tahu, kenapa tadi mengeluh? Pekerjaan yang sia-sia. Haha.”

Lagi-lagi Panggih mengubah raut mukanya. Kali ini terlihat sangat serius. Agaknya dia mau mengeluarkan argumentasinya. Benar saja, kata-kata ini segera meluncur dari bibirnya dengan cara yang sama sekali tidak mengandung nada bercanda – Di dunia ini tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Orang bisa saja menganggapnya begitu, tetapi kenyataannya belum tentu demikian. Kau pernah melihat topi yang dimuati gulungan tisu yang berfungsi jika penggunanya sedang kena flu? Bagi banyak orang hal itu sia-sia tetapi ada masanya hal itu berguna meskipun cuma sesaat. Banyak hal bagus dimulai dari apa yang dianggap sia-sia, tetapi karena perkembangannya, modifikasi, evolusi, bahkan revolusi, justru pada akhirnya menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Lihat saja sekarang ini trem yang dulu dianggap tak lagi memenuhi kebutuhan suatu kota, sekarang malah hendak dihidupkan lagi di Surabaya.

Kalau dia sudah mericau begitu, sulit untuk menghentikannya. Pertemuan yang tadinya dimulai dengan hangat berangsur dengan pasti menjadi sesuatu yang sangat menjemukan. Tapi Panggih bukanlah Panggih jika tidak bisa membelokkan cerita. Begitu melihat aku merengut, Panggih mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya. Sebuah novel!

“Novel apa itu? Karya siapa?”

Panggih mengatakan bahwa dia bertemu seseorang dalam perjalanan. Che Sien, namanya. Menurut Panggih pasti nama samaran atau nama pena, karena kata tersebut ada dalam petikan puisi Inferno karya Dante Alighieri, yang lengkapnya adalah “e avanti che sien di là discese, anche di qua nuova schiera s'auna.” Dan orang itu juga bukan seorang keturunan Tionghoa, lagi pula seorang Tionghoa tidak akan menulis Sien, pasti menulisnya Xian. Dan Chen Sien mengaku sebagai penulis.

“Novel ini mungkin nasibnya akan baik jika bisa mendapatkan penerbit yang jaringan distribusinya luas. Karena beberapa orang yang membaca mengatakan bahwa cerita yang saya bangun dalam novel ini sangat menarik, mengaduk-aduk perasaan. Ya, sayangnya karena penerbit novel ini hanya mampu mendistribusikan ke toko buku lokal dan sekitaran kota ini, akhirnya nasibnya berakhir sebagai tumpukan buku tak berguna di gudang. Saya sendiri harus menebus sekian ratus eksemplar agar bisa saya pasarkan sendiri,” gerutu Che Sien sambil membanggakan karyanya.

“Sudah melahirkan berapa novel, Mbak?”

“Ada tiga novel yang saya tulis, tapi yang berhasil diterima penerbit hanya satu ini,” katanya sambil menyerahkan novel berjudul Monumen Bulan kepada Panggih.

“Yang lainnya?”

“Satu novel tentang cara menulis novel yang saya kelindankan dengan cerita rakyat dikatakan terlalu dangkal ceritanya. Sedangkan yang bercerita tentang anak-anak muda yang penuh suka duka dalam membesarkan sebuah band indie sempat ditaksir untuk diterbitkan sebagai cerita bersambung di tabloid lokal, sayangnya kemudian tabloid itu bangkrut.”

“Kenapa judulnya Monumen Bulan? Memangnya itu ikon di kota ini? Maaf, saya baru sampai di sini jadi belum tahu banyak cerita tentang kota ini.”

“Bukan. Monumen Bulan hanya sebuah kiasan yang saya ambil dari cerita lelaki yang menikah dengan alien.”

“Menikah dengan alien? Betapa absurd cerita seperti itu!” kataku.

“Ya. Che Sien mengatakan begitu karena dia banyak membaca tentang dunia paralel yang menyatakan bahwa kemungkinan besar ada yang seperti kita di planet yang lain. Mereka yang bergerak dan berbicara seperti kita. Ah, kalau aku ceritakan kau tak akan membaca novel ini. Bagus kok!”

“Aku penasaran jadinya,” kataku sambil merebut novel itu dari tangan Panggih.

Panggih diam saja. Sepertinya tidak rela novel itu berpindah tangan.

“Kau masih percaya dengan cinta?”

“Apa?”

“Biasanya orang yang suka membaca kisah percintaan adalah mereka yang kesepian atau memikirkan bahwa cinta itu adalah sesuatu yang indah, sakral, dan begitu mengharu biru.”

“Apa itu salah?”

“Tidak. Tidak ada yang salah dengan kisah cinta. Yang salah adalah orang lebih banyak merasa begitu tetapi dalam keseharian justru menafikan cinta. Sembrono!”

Aku heran Panggih begitu kesal dengan fenomena yang menurutnya terjadi. Padahal aku justru merasa saat ini orang butuh lebih banyak diberikan gambaran tentang cinta agar tidak sembrono dalam menjalani hidup. Seperti pengalaman tadi pagi saat aku menyeberang jalan, seorang pengendara sepeda motor hampir saja menabraknya. Padahal aku sudah berada di tengah jalan dan dia hendak berbelok dari arah kiri ke kanan, dan tetap melaju kencang. Akhirnya aku hanya memelototi pengendara sepeda motor itu, sementara dia dengan tak acuhnya hanya memelankan laju sepeda motornya. Ya. Di kota ini, pejalan kaki adalah pihak yang selalu dituntut mengalah. Trotoar semakin sempit, ketika menyeberang harus menunggu jalan agak lengang, dan hampir tidak ada lampu tanda orang menyeberang.

“Kamu itu yang sembrono. Menuduh orang tanpa bukti-bukti. Bukankah lebih baik diperbanyak ajaran tentang cinta?”

“Percuma. Sudah begitu banyak orang bicara cinta, tapi manusia tetap tidak berubah. Apa kurang Budha, Kristus, Muhammad, Rumi, Gandhi, Neruda bicara soal cinta?”

Aku tertawa. Panggih heran.

“Kenapa tertawa?”

“Jangan-jangan. Kita ini adalah alien di kota ini. Sehingga selalu heran dengan perilaku manusia lain.”

Panggih tidak menimpali perkataanku, kali ini dia menunduk memperhatikan jam tangannya. Aku segera sigap. Kupencet lagi nomor Yanto.

“Sampai mana, To?”

Dari seberang, Yanto menjelaskan bahwa untuk keluar dari tempat parkir membutuhkan waktu 10 menit karena antriannya begitu panjang. Saat ini dia sudah ke luar, tetapi jalan menuju tempat penjemputan terhambat oleh rombongan bus yang menurunkan jemaah calon haji.

“Yanto sudah mengarah ke sini, tapi terhambat di ujung sana,” jelasku pada Panggih tanpa diminta. Panggih manggut-manggut. Dia menunjuk sebuah bangku panjang yang baru saja ditinggalkan dua orang dengan ransel besar. Aku menuruti kehendaknya, mengekor dia menuju bangku tersebut.

“Kau pernah tidak membayangkan kota itu sebagai suatu organisma yang terus bertumbuh?”

“Tidak. Buat apa? Bagiku kota seperti dikatakan oleh Trancik yang dipentingkan adalah makna dari setiap ruang yang ada di dalam kota itu. Artinya, kota bukanlah organisma tetapi tempat. Dan selalu begitu.”

“Jadi, tidak ada kota yang tumbuh?”

“Secara teori begitu. Kota tumbuh karena adanya aktivitas manusia dan penambahan fungsi dari daerah. Jadi kota itu harus tumbuh jika manusianya mulai kompleks dalam kehidupannya.”

“Wah. Kalau begitu kota harus merdeka dari keinginan manusia.”

“Kok?”

Kata Panggih, dalam novel Monumen Bulan itu, Che Sien menulis kota Dompayuba dimulai dari peristiwa kematian Sang Alien. Sebuah monumen kecil dibuat di atas kuburannya. Sejak itu, banyak orang datang untuk melihat kuburan Sang Alien. Orang-orang itu lantas membangun pemukiman yang awalnya adalah penginapan-penginapan. Kemudian di daerah perbatasan muncul pasar yang menjual kebutuhan perkabungan dan kebutuhan sehari-hari selama orang-orang itu menginap di dekat kuburan itu. Lalu dibangun areal parkir yang besar dan terminal. Dan seterusnya sampai akhirnya Dompayuba itu terbentuk sebagai kota yang besar.

Aku terbahak, dan menukas cepat, ”Kau bodoh, Panggih! Dari tadi kau cerita kalau Dompayuba tumbuh karena keinginan manusia-manusia itu. Jadi contoh yang kau buat sebagai kota yang tumbuh sebagai organisma itu salah!”

Panggih terkejut dengan komentarku. Dia berdiri dengan cepat, lalu meninggalkanku. Tanpa bicara apa-apa lagi.

Aku bengong melihatnya. Hari yang tadinya kupikir menyenangkan karena bertemu teman lama justru berakhir berantakan. Aku tak mengejar Panggih. Kubiarkan punggung dan koper yang diseretnya segera tenggelam dalam kerumunan orang-orang yang lalu lalang di terminal kedatangan bandara. Sementara pandanganku segera beralih kepada novel yang tadi diberikan olehnya.

Segera kubalik sampul berwarna hitam yang dihiasi gambar obelisk dan bulan purnama serta huruf Monumen Bulan berwarna perak yang di-embos untuk mencari tahu seperti apa tulisan Che Sien ini.

Sang Alien sudah pergi. Dunia yang tadinya merasa kedatangannya sebagai ancaman malah balik berkabung dan mengagumi perasaan cinta Sang Alien terhadap bumi ini terlebih cintanya terhadap Miru, istrinya yang adalah manusia biasa. Cinta, barangkali, kata yang kurang tepat untuk menggambarkan keinginan Sang Alien sebenarnya, karena menurut pengakuan Miru, kedatangan Sang Alien ke bumi ini hanya untuk belajar berinteraksi dengan manusia. Sang Alien merasa ada yang salah dengan manusia. Dia tahu itu dari adanya perang, perkosaan, pembunuhan, pencurian, korupsi, dan pembuangan bayi-bayi. Belum lagi selalu ada orang-orang yang berbohong dan ingkar janji. Termasuk kepada kekasih sendiri.

Kematian Sang Alien diberitakan Miru setelah lama dia menghilang dari keluarganya. Tentu, untuk melarikan diri bersama Sang Alien, karena sejak awal hubungan mereka tidak direstui oleh masyarakat. Miru menangis di pintu gerbang rumah Kolonel Andre, orang nomor satu di salah satu kota di distrik yang terletak di semenanjung pulau itu. Para penjaga rumah Kolonel Andre segera membawa masuk Miru untuk diinterogasi. Maklumlah, mendekati rumah itu saja sudah dicurigai apalagi dengan menangis terisak-isak dan terjatuh. Miru dibawa masuk setelah digeledah dengan seksama oleh penjaga-penjaga rumah itu.

Tangan dan kaki Miru diikat erat pada sebuah kursi. Di depannya, Kapten Yomi dan seorang lagi yang berkacamata dan merokok mengamati berkas yang didapat dari petugas lain. Berkas biodata Miru.

“Kau anak Tuan Modra?”

“Ya.”

“Kenapa sampai di sini? Bukankah rumah ayahmu berada tak jauh dari sini?”

“Aku memang sedang menuju ke sana. Tapi aku terjatuh.”

“Menurut biodata ini, kau sudah delapan bulan meninggalkan rumah. Pergi ke mana?”

“Aku menikah dan ikut suamiku.”

“Di sini tak ada nama suami. Kau pasti berbohong.”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Suamiku tidak diakui oleh keluargaku.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena dia seorang alien.”

Aku tertawa membaca tulisan Chen Sien. Pantas saja jika buku ini tidak laku di pasaran. Cara dia bercerita begitu buruk. Sama seperti tulisanku. Padahal tugasku membuat reportase feature dari Yayasan yang kerap melakukan CSR. Harusnya aku bisa membuat tulisan yang lebih baik dari tulisan-tulisanku sebelumnya. Aku merasa sebagai orang yang salah di tempat yang tidak seharusnya dalam pekerjaanku. Maka ketika Mas Abram memanggilku ke ruang kerjanya, aku tahu ada yang salah dalam pekerjaanku.

“Yun. Aku tahu kau berbakat sebagai penulis. Tapi aku lihat beberapa tulisanmu belum mampu membangkitkan minat bagi calon investor untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yayasan ini. Aku masih mau memberikan kesempatan. Ini penting buatmu dan buatku.”

“Baik. Mas. Maafkan jika saya masih belum becus, tapi saya mau belajar banyak.”

“Nah. Ini ada kesempatan bagus. Aku harap kau mau membuka telinga, mata, dan hati untuk bisa mendapatkan masukan sebanyak-banyaknya dari tamuku ini. Dia seorang jurnalis handal. Dia baru datang dari sebuah distrik di semenanjung. Namanya Panggih. Aku tahu kau mengenalnya melebihi aku. Sebab menurut kabar, kau adalah mantan pacarnya. Bisa kau menjemputnya besok pagi?”

Mendengar kata-kata Mas Abram, aku mendadak gugup. Aku tahu besok pagi mungkin aku harus segera mengajukan resign dari kantor ini.


Jakarta, September 2014

Labels: , ,

Tuesday, October 01, 2013

Dunia di Kepala Kakek

Kakek pernah bercerita bahwa dunia diletakkan di atas seekor mahluk serupa kura-kura. “Tapi,”tegasnya kakek lagi,”Jangan pernah membayangkan dia seperti kura-kura biasa. Dia bertaring panjang seperti seekor singa laut, kaki-kakinya sangat mirip dengan kaki burung, karena itu dunia bergerak dengan cepat. Siang berganti malam hanya dalam hitungan bukan hari, minggu, atau bulan.”

Aku mengingat sebuah gambar tua. Seorang lelaki bernama Atlas memanggul bola dunia di atas bahunya yang kekar.  Pernyataan kakek ingin aku tentang berdasarkan gambaran yang terlintas di kepalaku itu. Tapi dia adalah kakekku. Tak seorang pun bisa membantah perkataannya. Dia bekas tentara. Sering sekali dia menceritakan bagaimana suasana di medan perang kemerdekaan. Tentu saja dengan gaya bicara yang berapi-api agar kami yang terpaksa mendengarkan (karena kakek sudah sering menceritakannya) turut merasakan semangat tempurnya ketika menembaki musuh.

“Kau tahu, di ekor mahluk yang seperti kura-kura itu, ada wajah yang sangat sayu.” Tambahnya lagi. “Wajah?” Aku heran mendengarnya, dan kepadanya aku tanyakan, “Apakah berarti mahluk itu punya dua kepala atau dua muka?” Kakek tertawa terkekeh. “Bukan. Bukan seperti itu. Itu hanya gambaran imajinatif tentang kenangan. Wajah itu milik seorang dewi. Tepatnya Dewi Kesuburan. Karena dunia ini dimulai dengan kesuburan pepohonan dan tetumbuhan.”

Aku masih tidak paham, bagaimana mungkin wajah seorang dewi berada pada ekor mahluk seperti kura-kura itu, tapi aku malas untuk mendebat ucapan kakekku. Kepalaku manggut-manggut saja seolah mengerti perkataannya. Mata kakek menatap tajam kepadaku. “Kau pasti tidak mengerti apa yang aku katakan, bukan?”

“Baiklah, akan aku ceritakan bagaimana sebenarnya kejadiannya. Ketika Tuhan telah menciptakan dunia ini. Tuhan ingin semuanya teratur dan dalam pengawasannya. Maka dipanggillah mahluk-mahluk yang telah diciptakan sebelum tumbuhan, hewan, dan manusia. Mahluk yang berukuran sangat besar dan tinggal dalam kegelapan luar angkasa. Tentu saja tak seorang pun bisa melihatnya karena mereka tersembunyi dan juga tak kasat mata. Dan datanglah mereka, ada empat mahluk yang mendengar permintaan Tuhan, dua mahluk yang mirip manusia, tetapi punya sifat yang bertolak belakang. Yang satu suka dengan kegembiraan, di pundaknya ada binatang mirip singa tetapi selalu tertawa. Yang satu lagi sangat suka dengan kekerasan, kekejaman, dan kemarahan. Di dekat dadanya ada seekor binatang mirip seekor naga. Ketika Tuhan meminta salah satu dari mereka untuk membawa dunia ini, mereka segera berulah. Yang membawa singa tertawa terbahak-bahak dan mengatakan permintaan Tuhan itu sangat mustahil dilakukan. Yang membawa naga bersungut-sungut dan mengatakan permintaan Tuhan itu lebih berat dari tugasnya yang menghasut manusia untuk berbuat jahat.”

“Aku tahu satu mahluk lainnya adalah kura-kura itu. Benar ‘kan, Kek?” Aku memotong pembicaraan kakek agar ceritanya tentang dunia yang diangkut kura-kura ini segera berakhir. Lagi-lagi kakek menatapku tajam. Rupanya dia tidak senang disela begitu rupa.
“Kalau kau tak mau mendengarkan. Baiklah. Pergilah kau bermain!” Tukasnya.

Mendengar nada bicaranya yang meninggi, aku tentu saja tidak ingin mengecewakannya. Lagi pula, malam-malam begini, mana mungkin aku pergi ke luar rumah dan bermain-main? Maka kupasang tampang memelas agar Kakek mau melanjutkan ceritanya ini.

“Satu mahluk lainnya adalah seperti seorang perempuan. Dia berambut panjang dan suka sekali bersolek. Sepasang kakinya mirip dengan kaki naga yang ada di pundak Kemarahan. Dan yang paling mencengangkan adalah payudaranya yang jumlahnya sampai puluhan. Mahluk itulah yang banyak dikatakan orang sebagai Ibu Bumi. Dia tidak menyanggupi permintaan Tuhan karena tubuhnya lebih kecil dari yang lain. Lagipula, jika dia memanggul dunia ini, tentu tak ada waktu baginya untuk bersolek dan melihat wajahnya pada sebuah cermin yang selalu ada di tangannya.”

Sampai di sini, kakek kembali melihat padaku. Memperhatikan apakah aku kembali bosan mendengarkannya bercerita atau malah bersemangat. Nampaknya, aku mulai dirasuki imajinasi dalam cerita kakek. Aku menikmati apa yang digambarkan olehnya dalam cerita itu. Yang tak terbayang olehku adalah dari mana kakek mendapatkan cerita semacam ini. Cerita yang tak pernah kubaca di kitab-kitab suci. Melihat aku mulai tenang, kakek pun melanjutkan ceritanya,”Tinggallah mahluk yang seperti kura-kura itu. Melihat punggungnya yang kuat dan keras, Tuhan tanpa berkata lagi meletakkan dunia di atas punggung mahluk itu.”

“Jadi, begitu saja ceritanya?”
Aku memberanikan diri bertanya kembali karena kakek terdiam seolah cerita yang ingin disampaikannya sudah selesai.

“Ceritanya justru baru dimulai. Karena dunia diletakkan di atas punggung mahluk seperti kura-kura itu, maka terjadilah keributan dari tiga mahluk yang tadinya tidak mau membawa dunia itu. Mereka ternyata minta bagian dari tugas yang diberikan Tuhan. Akhirnya, Tuhan memberikan mereka tugas. Kegembiraan diminta memandu jalannya mahluk kura-kura, Kemarahan berjaga di belakang, agar dunia tidak oleng atau jatuh dari punggung mahluk kura-kura itu. Dan Ibu Bumi bertengger di ada dunia ini mengawasi jalannya dunia ini. Karena itu dalam hidup kita kita harus selalu mengutamakan kegembiraan dalam menjalani hari-hari. Kita boleh marah terhadap diri kita jika kita gagal. Dan kita harus selalu menjaga hidup kita agar segalanya bertumbuh, berbuah, dan berkembang. Bertumbuh cita-cita kita, berbuah segala apa yang kita perbuat, dan indah dilihat semua orang. Juga, kita harus selalu hati-hati dan waspada. Berjalan dengan penuh perhitungan, dan bisa menyiasati bahaya seperti kura-kura masuk dalam tempurungnya, dan tetaplah mengenangkan hal-hal yang subur. Hal-hal yang membuat kita selalu berpikiran positif.”

Kali ini aku manggut-manggut karena mengerti. Ternyata apa yang diceritakan kakek adalah sebuah nasehat yang sangat berharga meskipun dibungkus dengan cerita yang sangat aneh bagiku. Seulas senyum terkembang di bibirku. Cerita yang aneh tetapi punya pesan cerita yang bagus.

“Bagaimana dengan manusia, Kek? Apakah Kakek punya cerita tentang asal muasal manusia?” Aku penasaran.

“Hahaha. Kau tahu bahwa manusia turun ke dunia ini karena dikutuk, bukan? Baiklah aku ceritakan bahwa ketika manusia diturunkan ke dunia itu, dia terjun bebas sehingga mendarat di dunia ini dengan kepala di bawah dan kaki di atas.”

“Ha? Bagaimana bisa, Kek?”

“Tuhan sengaja membuatnya demikian. Agar manusia tidak sombong kepadaNya. Terlebih, agar manusia tahu bahwa jika dalam keadaan terjungkir seperti itu, maka dia merasa batas dari dirinya dan segala kenikmatan yang bisa diraihnya adalah kematian.”

Jakarta, 1 Oktober 2013

Labels: ,

Tuesday, August 13, 2013

Hari Ulang Tahun Seseorang



Hari ini, aku berada di kebun belakang sebuah rumah mewah. Mungkin karena tergesa, atau sisa mabuk semalam, aku tak ingat mengapa pada siang hari seperti ini aku sudah duduk dengan kikuk pada bangku lipat berwarna merah tua. Sepasang kakiku mengenakan sepatu kulit cokelat muda, dan celana hampir senada. Di atas kemeja putih yang kupakai, seseorang atau mungkin aku yang tak sadar tadi pagi, terdapat sweater yang didominasi warna putih tetapi dengan motif kotak-kotak cokelat tua. Seperti sweater yang dulu pernah dihadiahkan untukku dari seseorang teman yang habis jalan-jalan ke luar negeri. Entah Eropa atau Amerika. Rasanya aku mulai susah sekali mengingat segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Jangankan yang dulu-dulu, siang ini juga aku tak mengerti mengapa aku berada di kebun belakang sambil duduk dengan kikuk pada bangku lipat merah tua.

Dalam kebingungan, aku mencoba memraktikkan apa yang disebut sebagai ilmu pengamatan lingkungan. Aku melihat ke segala arah, apa yang ada di sana, apa yang tengah terjadi, dan beberapa orang yang lalu lalang di kebun belakang ini. Perlahan aku mulai mengerti bahwa di kebun belakang ini tengah disiapkan sebuah pesta. Di beberapa bagian kebun telah ditata makanan di atas meja-meja panjang. Pada bagian belakang ada beberapa lampu dan pengeras suara. Di dekat kolam renang, ada sebuah panggung kecil dengan latar belakang papan yang dihiasi dengan gambar-gambar dan juga tulisan “Selamat Ulang Tahun” yang menandakan bahwa pesta di kebun belakang ini adalah pesta ulang tahun. Jadi, aku berada di sini sebagai tamu undangan pesta ulang tahun seseorang. Pertanyaannya, siapakah yang berulang tahun itu, apakah dia punya hubungan denganku, atau yang paling penting adalah siapa yang telah membawaku ke sini? Semua pertanyaan itu harus segera dijawab sebelum tempat ini mulai ramai. Paling tidak agar aku bisa menyesuaikan diri dan membaur dengan para tamu undangan lainnya.

Mungkin, seseorang dari tamu itu akan menanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku tadi. Semisal apa hubunganku dengan orang yang berulangtahun. Atau bisa lebih detail lagi seperti menanyakan kapan pertama kali berjumpa atau dalam kesempatan apa aku pernah bertemu dengan dia. Ini yang harus segera aku temukan jawabannya. Maka aku putuskan untuk bangkit dari dudukku. Yang kutuju adalah bagian belakang rumah di seberang kolam renang yang tengah ditebari bola berwarna-warni. Mungkin supaya kelihatan semakin semarak pesta kebun itu. Belum lama aku berjalan, seseorang segera menggamit lenganku.

“Mau ke mana, Pak?”

Aku segera menoleh padanya, seorang perempuan dengan senyum yang manis. Rambutnya hitam legam dan wangi. Matanya mengingatkan aku pada seseorang yang sudah lama sekali berada dalam pikiranku.

“Ranti?”

Tiba-tiba saja aku bisa mengingat nama seseorang yang baru saja berkelebat dalam benakku setelah aku melihat matanya.

“Bukan, Pak. Aku Dewi, putrinya.”

Putrinya? Kenapa selama ini dia tidak pernah bercerita jika sudah punya anak? Dia menikah dengan siapa? Dalam hati aku merutuk karena di siang hari yang tidak terik dan dipenuhi beraneka warna di kebun belakang ini aku justru dibekap dengan beragam pertanyaan yang memintaku untuk bisa segera mendapatkan jawabannya.

Setelah mengatur nafas, aku memberi isyarat padanya untuk ikut bersamaku kembali ke jajaran bangku lipat merah tua itu. Dia mengangguk dan seperti seorang anak yang baik, dia menggamit lenganku dan membimbingku ke sana.

“Kalau boleh aku tahu, siapa yang membawaku ke mari?” Ini sebenarnya bukan pertanyaan pertama yang harus aku temukan jawabannya dari deretan pertanyaan yang aku punya, tapi ini akan memberiku banyak lubang cahaya pada kegelapan yang menyelimuti pikiranku.
Namun aku heran, mengapa dia tersenyum mendengar pertanyaanku itu. Sepertinya pertanyaanku adalah sebuah lelucon.

“Bapak. Tadi pagi, bapak itu bangun sangat pagi. Lalu mandi dan berpakaian rapi. Dan karena Bapak bilang bahwa hari ini Bapak harus menghadiri pesta ulang tahun Ibu, maka Bapak sama Mas Sasongko, dibawa ke sini.”

“Sebentar. Sebentar. Ibu siapa yang berulangtahun?” Itu pertanyaan pertama dalam daftar pertanyaanku, hanya sudah diberi panduan bahwa yang berulangtahun itu adalah seorang perempuan. Yang disebut Ibu olehnya.

“Ibu Miranti. Ibu saya.”

Miranti? Nah, kebetulan! Aku bisa tanyakan padanya sekarang apa hubunganku dengan yang berulangtahun itu. Lalu di mana dia?

“Ibu sudah lama meninggal. Lima tahun yang lalu. Bapak lupa? Ah. Pasti Bapak mulai pikun.” Dia bercerita dengan datar, tadinya, tapi lama-lama mukanya berubah ceria. Lalu dia berkata lagi, “Bapak tahu, Mas Sasongko sering bilang pada saya, bahwa dia ingin sekali seperti Bapak. Meskipun Ibu sudah lama meninggal, cinta Bapak terhadap Ibu tetap menyala. Buktinya, sepanjang lima tahun ini, Bapak tidak pernah putus menggelar perayaan ulang tahun Ibu!”

Jadi? Miranti adalah istriku dan Dewi yang tengah berbicara padaku adalah anakku? Mengapa aku bisa lupa semua ini dalam waktu semalam saja? Apa yang terjadi semalam denganku? Lagi. Semakin banyak pertanyaan masuk ke dalam pikiranku. Tapi aku tak mau seperti tadi, berusaha mencari jawabannya dengan segera. Aku memutuskan untuk tidak merusak hari ulang tahun seseorang dengan membuka rahasia bahwa aku sudah mulai lupa pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Aku kembali memraktikkan ilmu pengamatan lingkungan dengan memandang panggung kecil di seberang kolam renang. Tapi cahaya matahari yang memantul dari permukaan air membuat mataku terasa sangat silau, dan tiba-tiba membuat air mataku jatuh.

Dewi segera mengeluarkan tisu dari tasnya lalu mengusap pipi dan kelopak mataku, sambil berujar, ”Ibu pasti bahagia di sana melihat Bapak masih mencintainya dengan sangat.”

Lagi-lagi dia tersenyum memandangku.

Jakarta, 14 Agustus 2013

Labels: ,