Tuesday, November 18, 2014

Buku Kegetiran

Dia menyesal telah menikahi Dini, itu aku tahu. Meski tidak secara langsung dia mengatakannya, tetapi dari cerita bahwa dia berkonsultasi dengan seorang kiai di Kabupaten P yang jaraknya ratusan kilometer dari kota ini, di mana - di dalam ceritanya itu - untuk mempelajari sikap yang sebaiknya dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya yang masih melakukan hal-hal yang menurut agama yang dianut sebagai hal tidak berguna dan hanya tambahan-tambahan saja, bahkan termasuk sebagai hal yang dianggap akan menyebabkan si pelaku itu menjadi tidak percaya pada Tuhan, jelas menunjukkan bahwa dia punya rasa penyesalan telah menikahi Dini.

"Apa yang dikatakan Kiai itu?" selidikku.

"Menurut beliau, aku diibaratkan seekor anjing laut di Antartika yang tengah stres karena selalu jadi mangsa hiu, atau malah sedang mabuk kekuasaan sebagai binatang yang berukuran lebih besar lalu dengan semena-mena menggunakan penguin, yang pastinya berukuran kecil, untuk melampiaskan hasrat seksualnya."

"Aku tidak mengerti maksud ungkapan itu. Maksudku, apa hubungannya antara anjing laut dan penguin itu dengan keinginanmu untuk mengubah kehidupan rohani Dini, istrimu itu."

"Itu juga yang aku tanyakan padanya. Persis seperti omonganmu itu. Lalu katanya, pemaksaan keinginan karena merasa sebagai suami yang punya hak untuk dihargai dan dihormati oleh seorang istri, dan bahkan menurut hukum agama juga dijamin kedudukan suami atas istri hingga ada istilah - ke surga ikut, ke neraka turut - membuat aku tak lebih seperti anjing laut terhadap penguin itu. Ngawur dan tidak alamiah."

"Lalu, apa saran dari Kiai itu?"

Dia menarik nafas panjang sebelum berkata bahwa Kiai itu memberikan ilustrasi yang aneh lagi yaitu sikap Manuel Neuer, penjaga gawang dari Jerman itu, tidaklah mempersoalkan perkara di luar lapangan seperti berapa jumlah iklan yang dibintangi oleh Christiano Ronaldo, penyerang Portugal itu. Lebih baik, dia berkonsentrasi pada kehebatannya sendiri dalam menjaga gawang kesebelasan Bayern Munich dan timnas Jerman sehingga kehebatannya diakui dengan lebih daripada harus iri dengan nominasi bola emas yang didapatkan oleh CR7.

“Semua ada tugas dan porsinya masing-masing. Begitu tegas Sang Kiai kepadaku,” katanya sambil berulangkali menggaruk kepala dan menepuk-nepuk jidat.

“Sia-sia berarti kau pergi ke sana?”

“Tidak juga, Runa. Aku justru merasa mendapatkan pencerahan.”

“Lalu, kenapa kau masih terlihat kusut begitu?” sahutku sambil meninju lengannya.

Dia mengaduh – aku rasa bukan karena sakit, tapi lebih karena kaget – mengusap-ngusap lengan kirinya dengan tangan kanan, yang membuat cincin perkawinan yang terbuat dari emas putih itu terkena cahaya lampu, dan satu butir berlian yang menjadi mata dari cincin itu seolah mengerlip. Setelah mengaduh kecil, dia malah tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum begitu? Kau sedang merasa bahwa aku sebenarnya yang terbaik untukmu, bukan?”

“Kau sepertinya memang sudah tahu alasannya aku mengajakmu rendezvous di Butikopi sore ini, Runa.”

Aku tertawa. Baru kali ini aku merasa menang dalam hal bermain hati dengan laki-laki. Bayu mengakui bahwa dirinya telah salah meninggalkan aku. Langkah kaki para pelayan tiba-tiba menjelma suara tepuk tangan yang mengelu-elukan diriku. Ruap aroma kopi jadi confetti yang ditebarkan di atas kepalaku. Aku menjadi bintang sore ini. Di tempat ini. Tepatnya di dalam hati Bayu Anggoro, mantan model sampul majalah pria yang sukses jadi pengusaha muda di bidang energi terbarukan alias produsen kincir angin di negeri ini.

“Kau senang?”

Sindirannya yang tiba-tiba menghentikan kegilaan bayangan di kepalaku. Aku melihat sorot matanya teramat sedih.

“Bukan. Aku bingung,” ujarku menutupi perasaanku.

“Bingung kok tertawa.”

Aku katakan bahwa perasaanku berada di antara pikiran jahat: siapa suruh meninggalkan diriku, hingga hidupmu jadi berantakan, juga ada pikiran gembira: kau mengakui aku yang terbaik untukmu, sekaligus ada pikiran sedih: apa yang bisa aku perbuat dengan keadaanmu seperti itu. Ada juga kecemasan: apakah kau akan meninggalkannya dan memilih menikah denganku, dan apa yang harus aku jawab dari keadaan seperti itu?

“Tidak. Runa. Aku tidak akan seperti Apple yang kembali memesan chip dari Samsung. Lebih baik aku akan terus menekan TCD untuk memperbaiki kualitas chip yang mereka produksi dan mungkin karena track record mereka yang buruk, mereka juga harus mengurangi nilai jual chip mereka itu. Aku pantang menjilat ludahku.”

“Wow. Itu suatu hal bagiku.” Aku balik kaget dengan pernyataannya.

“Itu juga suatu hal bagiku.” Dia menunduk, menekuk jemarinya dan mengeratkan kedua tangannya di atas meja. Seperti hendak berdoa.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Ini yang kiai itu bilang padaku: bawalah istrimu jauh dari lingkungannya yang sekarang. Jauhkan dari sumber-sumber pengaruh kebiasaan buruknya. Lalu, di tempat yang baru itu, sebagai suami aku harus rajin memberikan contoh beribadah yang baik menurut apa yang aku yakini. Mudah-mudahan dengan cara-cara seperti itu istrimu akan berubah.”

Aku mendengus. Jika dari tadi dia sudah tahu apa yang dia lakukan, kenapa dia bercerita panjang lebar denganku, bahkan memintaku secara khusus untuk mengenang kisah cinta di antara kami berdua?

“Aku telah berbuat salah,” katanya kemudian.

Aku menduga ini ada hubungannya dengan kisah cinta kami. Alisku naik menunggu kata-kata berikutnya.

“Sebagai suami, aku lebih banyak mendikte apa yang harus Dini lakukan. Tidak boleh begitu, harus begini. Pokoknya terlalu banyak menuntut. Itu tidak benar, bukan?”

Mendengar dua kata pertama yang baru saja dia ucapkan rasanya sudah membuat aku ingin segera meninggalkan Butikopi. Apakah masih perlu aku berpendapat dengan pertanyaan retorik yang dia ungkapkan? Rasanya tak perlu. Aku membisu. Tanganku mengubah bentuk tisu dari lembaran menjadi bola dengan hanya beberapa gerakan. Harusnya dia tahu bahwa aku sudah bosan dengan pertemuan ini.

Dia malah tersenyum. Entah apa maksud senyumannya kali ini. Aku melihatnya sekilas dan melemparkan pandanganku ke bagian kafe yang temaram. Jujur saja, aku ingin menangis. Barangkali jika ada yang melihat ke dua mataku ini seperti busa yang terlalu banyak menyerap air. Tidak. Aku tidak boleh menangis.

Setelah berdehem sebentar, aku tanyakan padanya lagi: apakah sudah punya pandangan akan tinggal di mana?

Dia tidak menjawab, diperlihatkan padaku dari telepon genggamnya daftar 10 kota yang ternyaman untuk dihuni. Aku memerhatikan daftar kota itu dengan sekelumit alasan pada tiap kota. Dalam daftar itu disebut Garut, Bandung, Yogya, Surabaya, dan beberapa kota lainnya yang dipuncaki oleh Purwokerto.

“Purwokerto?”

Dia malah tertawa.

“Tidak, Runa. Aku tak akan memilih Purwokerto. Karena di sana banyak saudara Dini. Mungkin aku akan memilih Garut.”

Kok?

“Paling dekat dengan Bandung dan Jakarta. Di sana ada beberapa tempat pariwisata juga. Rasanya cukup nyaman untuk membesarkan Kalia.”

Tiba-tiba saja dia menyebut nama anaknya. Aku rasa itu adalah alasan paling utama baginya untuk tetap mempertahankan hubungan pernikahan mereka. Ya. Itu yang paling mungkin.

“Kau sendiri bagaimana? Masih tetap ingin tinggal di sini?”

Ya. Tentu saja. Meskipun kota ini masih menyisakan duka akibat kegagalan kisah cinta kami, dan banyak tempat yang membuat aku merasa hidup ini teramat getir dengan menyadari bahwa tempat-tempat itu seolah jadi monumen yang setiap saat menggali kembali lubang luka, tapi di kota inilah aku juga mencari nafkah. Mau bagaimana lagi?

“Ya. Pasti aku masih akan tetap di sini. Anggap saja, aku tengah menjalani hidup seperti sedang menulis sebuah buku tentang kegetiran,” ucapku datar.

“Kau memang perempuan perkasa,” pujinya sambil menggenggam tanganku yang masih berkutat dengan tisu di atas meja.

“Karena itu kau menyesal meninggalkanku?”

Dia tersenyum sambil berkata, ”Justru karena itu aku meninggalkanmu. Kau tak pernah memerlukan aku.”


Jakarta, November 2014

Labels: , ,

Sunday, November 09, 2014

Gadis Pemetik Jeruk

"Kita menangis untuk menunjukkan
bagaimana kejadian sebenarnya,"
David Wagoner


Gadis yang akan aku ceritakan ini, bukanlah gadis yang membawa sekantung jeruk dalam sebuah trem yang berjalan seperti diceritakan dalam novel Gaarder. Karena gadis ini tidak ada bisa membuat rasa ketertarikan yang amat sehingga aku sebagai laki-laki merasa – oh dunia, aku tengah jatuh cinta pada gadis itu - seperti yang dirasa oleh Jan Olav saat itu. Bahkan saking jatuh cintanya, Jan Olav meneruskan rasa cintanya itu dengan bercerita lewat surat kepada anaknya, Georg, setelah dia meninggal. Dia, kalau boleh saya katakan, lebih mirip dengan Sri Sumarah dalam kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Betapa tidak, tadi ketika dia terjatuh akibat memetik jeruk, dia berbaring saja di lantai teras rumahku. Dia tidak mengaduh, tidak juga memekik-mekik ketika mengurut lengan dan kakinya yang mungkin sedikit keseleo akibat terjatuh itu. Dia terbaring saja seolah dirinya telah mati dan tengah dihanyutkan di aliran sungai Gangga. Yang aku pikirkan ketika melihat dia terbaring itu adalah – betapa bodohnya dia!

Aku juga bukan tengah meremehkan sikap sumarah atau pasrah yang dianut oleh Sri, dalam novelette Sri Sumarah itu - meskipun orang tuanya menasehatinya untuk terus berbuat bagi hidupnya, yang padahal secara nyata telah dilakukan Sri tanpa harus diminta – ketika aku melihat sikap gadis itu, tetapi menurutku sikap diam dan pasrah gadis itu sungguh keterlaluan. Aku sebagai orang yang paling dekat dengan peristiwa jatuhnya dia akibat memetik jeruk sampai tidak merasa kasihan karena dia jatuh, karena tadi dia langsung berdiri, dan berjalan menuju teras rumahku, lalu berbaring sambil menguruti lengan dan kaki dengan diam. Aku tadi hanya mendengar suara gedebum, dan melihat dia melakukan hal itu semua dalam diam, sehingga aku mengambil kesimpulan: dia tidak mengalami apa-apa akibat dia jatuh tadi.

Kalau aku bercerita dengan gaya bahasa yang merepet seperti tadi, tentu bukan karena aku bosan melihat tingkahnya, tapi sungguh aku kuatir karena akibat dari perbuatannya itu. Jangan-jangan tangan atau kakinya patah akibat jatuh itu. Tapi aku juga bertanya-tanya sendiri: mengapa dia sepertinya tidak mengalami apa-apa? Dan yang membuat aku begini, tak lain karena dia seorang gadis yang manis. Mungkin begini jika diceritakan secara lambat: rambutnya hitam, panjang sebahu. Kulitnya coklat, tetapi sedikit terang. Orang bilang sawo matang? Menurutku lebih cerah dibandingkan itu. Lalu hidungnya mancung seperti hidung peranakan campuran orang Indonesia dengan orang Kaukasian. Bibirnya juga tipis. Dan yang paling penting kelopak matanya tidak sipit sehingga ketika dia terbelalak justru terlihat menjadi lebih cantik. Nah, kira-kira kalau melihat gadis seperti ini di jalan ketika kau berlari sore – seperti yang sedang jadi tren di kalangan pekerja kantoran di wilayah Jakarta Selatan, apakah kau akan menegurnya; selamat pagi, karena kau begitu grogi.

Begitulah, tiba-tiba aku menangis karena sedari tadi aku telah berpikir keras – bagaimana gadis semanis dirinya seolah tidak mampu berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri? Mungkin kondisiku saat ini sama persis dengan patung Bunda Maria yang digambarkan terduduk menangis menerima tubuh Kristus yang telah mati dalam karya bertajuk Pieta yang pernah aku lihat di dalam gereja Santo Petrus di Vatican beberapa bulan lalu. Kau bisa bayangkan orang yang menangis karena tidak bisa berbuat banyak bagi orang lain, bukan?

Ya. Aku mengerti. Kau akan mengatakan terlalu jauh perbandingan yang aku kemukakan padamu. Tapi menangis di mana-mana sama saja. Dari mata keluarlah air mata yang lantas turun ke pipi. Bedanya, beberapa orang lalu sesenggukan dan yang lainnya – seperti halnya aku – segera menghapus air mata itu dan meninggalkan segaris tipis kelembaban pada kedua belah pipi.

+++

Tentu aku bukan Bu Susi. Perempuan jebolan kelas 2 SMA yang mampu bicara lewat tindakannya untuk mengubah hidupnya. Dari seorang pembeli ikan di pasar nelayan hingga mampu menjadi pengusaha lawatan pesawat ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Aku lebih cantik dari dia, hingga banyak lelaki yang tertarik pada parasku ini. Mungkin jika dibandingkan dengan Nadine, anak Bu Susi dari suaminya yang asli Swiss, aku sedikit kalah cantik. Tapi, di kampung ini, siapa yang telah mengenal Nadine sebelum hebohnya pengangkatan Bu Susi sebagai menteri dari Presiden Jokowi? Mereka lebih dulu kenal aku. Itulah hebatnya aku.

Aku dilahirkan dari nenek keturunan Portugis yang berasal dari Jepara. Bapakku juga seorang keturunan Arab yang sering sekali menepis untuk disangkut-pautkan dengan para habib, karena menurutnya leluhurnya tidak berasal dari Hadramaut, Yaman, tetapi mereka berasal dari Kuwait. Nah, bayangkan saja wajah campuran antara hispanik dan arab yang aku miliki. Tentu kau tertarik untuk melihat sendiri kecantikannku secara langsung, bukan?

Dari seluruh kampung ini, hanya Ardy yang sepertinya tidak tertarik pada diriku. Padahal aku sudah berusaha memikat perhatiannya. Dari mulai gaya berjalan, berpakaian, bertutur kata, sampai-sampai aku sering mengutip ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jepang ketika berbicara dengannya karena aku tahu dia sangat suka dengan sinema, lagu, dan budaya J-Pop. Tapi semuanya itu seolah tidak berarti baginya. Mungkin dia memang terlalu mengharapkan pendamping gadis Jepang asli. Bukan gadis campuran hispanik-arab seperti aku.

Tadi pagi, aku mendengar kisahmu tentang Ardy. Kebiasaan dia setiap siang – karena dia hampir selalu tidak pernah bangun pagi – adalah menghabiskan waktu di jendela kamarnya. Melihat ke arah rumpun pohon jeruk yang ada di depan rumahnya. Aku berpikir, jika aku berlaku gila seperti tiba-tiba datang dan mencuri beberapa buah jeruk itu dari pohonnya, mungkin dia mau keluar dari rumah lalu mengajakku bicara berdua. Hal yang selama ini tidak pernah bisa terjadi antara aku dan dia.

Tapi keadaannya jadi sangat lain dengan keinginanku. Berusaha memetik langsung jeruk dari pohonnya itu ternyata menyulitkan diriku. Pohon yang agak tinggi tetapi rapuh membuat aku bingung antara harus memanjat atau melompat, dan buah-buah jeruk yang harus dipelintir dan ditarik kuat-kuat agar terlepas dari tangkainya, akhirnya membuat aku jatuh dan terkilir.

Sayangnya, aku tidak ingin aksi ini lantas bubar begitu saja. Aku ingin dia tetap mengamatiku dengan wajah dinginnnya dari jendela kamarnya. Aku tidak ingin dia tergesa keluar dari rumah lantas marah-marah karena aku mencuri buah-buah jeruk miliknya, atau keluar dengan perasaan kasihan karena aku jatuh. Maka aku putuskan untuk segera berdiri, berjalan ke teras rumahnya, lalu membaringkan diri di lantai dan berpikir segalanya akan baik-baik saja. Bukankah seperti kau sering katakan bahwa jika ingin berpikir segalanya akan baik kita harus diam, mengambil napas panjang, lalu memikirkan dalam-dalam hal-hal apa yang akan terjadi kemudian? Aku menuruti semua perkataanmu, Teman.

Dan beginilah aku sekarang: berbaring diam di teras rumah Ardy. Hanya saja, beberapa saat kemudian, rasa sakit mulai menyerang. Akibatnya, tanpa sadar, air mata keluar dari kedua bola mataku. Aku menangis. Segera perasaan malu menekan agar aku tak sesenggukan seperti ketika aku menangis begitu tahu ibuku adalah pelaku kawin kontrak dan bapakku hanya bertahan enam bulan lalu pergi entah ke mana, atau mungkin juga telah mengawini lagi beberapa perempuan lain di Cipanas. Juga sama seperti ketika ibu bercerita bahwa leluhurku memang perempuan yang diambil sebagai istri simpanan orang-orang Portugis ketika menjajah tanah Jawa.

Dalam hatiku saat ini tiba-tiba tebersit keinginan tinggi: aku ingin seperti Ibu Susi, dan aku tak lagi akan peduli pada Ardy!

+++

Aku tengah membaca puisi karya David Wagoner ketika seorang tukang pos – hal yang sangat jarang kutemui belakangan ini – datang. Dia menyampaikan sebuah surat dari seorang teman lama yang kini tinggal di Swedia. Tepatnya di kota Sundshult. (Sungguh, sampai sekarang, aku tidak tahu bagaimana cara mengejanya dengan benar, ada yang mau membantu?).

Dia bercerita tentang sejenis hantu yang disebut Huldra. Hantu yang sering berwujud perempuan cantik tetapi jika didekati akan berubah dengan menampakkan ekornya yang panjang seperti ekor rubah. Konon, di negara tetangganya, Huldra justru mirip dengan sundel bolong di Indonesia. Punya lubang di punggung. Aku tidak tahu motivasi apa yang membuatnya bercerita demikian, tapi aku menangkap dia sangat rindu dengan Indonesia. Mungkin pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga di sana tidaklah seperti dia bayangkan sebelum berangkat ke sana. Mungkin saja demikian. Karena seperti dulu ketika aku mengenalnya, dia tidak pernah berterus terang apa yang dia inginkan.

Dia tidak pernah meminta tolong padaku. Tidak pernah mau merepotkan aku dengan hal-hal yang menurutnya sangat sederhana. Padahal mungkin – jika dia minta – aku tak pernah keberatan.
Jujur saja, aku tidak terlalu suka dengan dirinya, karena menurutku dia terlalu dibuat-buat ketika bergaya, bercerita, berpakaian juga. Dia sering bertingkah seperti gadis harajuku di depanku. Padahal – jika dia didandani sedemikian rupa – dia mirip dengan Megan Fox. Tapi entah kenapa dia malah ingin seperti gadis Jepang. Aneh bukan?


Sejak peristiwa dia terbaring hampir seharian di teras rumahku, gara-gara jatuh dari pohon jeruk, dia mulai menjauh dariku. Dia juga tidak lagi bergaya seperti gadis-gadis Jepang. Tetapi mulai menjadi dirinya sendiri – yang aku tak bisa ceritakan seperti apa karena dia sungguh berubah dari biasanya. 180 derajat perubahannya. Lalu, dia menghilang, entah ke mana.

Baru belakangan ini, aku menemukannya kembali – terimakasih Zuckerberg! – lewat grup sekolah menengahku di facebook. Kami berinteraksi sekadar berbagi kisah hidup. Aku tidak jadi pergi ke Jepang - meskipun Jepang sekarang menggratiskan visa – karena ijazah keperawatanku tidak sesuai akreditasi yang diminta. Dia, seperti aku telah tuliskan di atas, menjadi asisten rumah tangga di Swedia.

Kembali ke suratnya, dia menceritakan Hulda yang telah menikah dengan seorang pria. Cerita ini berasal dari kota yang berbeda dengan kota tempat tinggalnya yaitu di Sigdal. Sebelum menikah, Hulda itu memberi syarat kepada pria yang akan menikahinya: jangan memberitahu jati diri sebenarnya dari calon pengantin perempuannya. Tapi, lantaran penasaran, pria itu bercerita pada teman-temannya di malam lepas bujang. Entah bagaimana caranya, Hulda itu tahu bahwa kekasihnya itu telah melanggar syarat yang dia minta. Akibatnya, pria itu dihajarnya dengan ekornya, dan mengakibatkan pria itu kehilangan pendengaran sekaligus akal sehatnya alias menjadi gila.

Setelah itu, dia bercerita tentang peristiwa yang dulu pernah terjadi di halaman depan rumahku. Membaca kalimat-kalimat berikutnya, aku merasa menjadi calon pengantin pria dalam kisahnya tentang hantu berekor itu.

Jakarta, November 2014

Labels: , ,

Ular atau Anak Kucing

Meskipun semua orang tidak setuju, tapi Wikar tetap berpendapat bahwa Mona itu tidak cantik. Menurut Wikar, kecantikan seorang gadis itu didapatnya ketika dia mengerling, mengikat rambut, dan menoleh sambil berjalan. Mona tidak pernah melakukan itu semua. Wikar berpendapat, Mona selalu tampak serius jika berbicara. Gerak tangannya terlalu kaku. Dan kakinya seperti dihentak waktu berjalan. Semuanya membuat bulat keputusan Wikar untuk menganggap bahwa Mona tidak cantik.

Sebetulnya, Wikar teramat percaya pada omongan Disrun soal kecantikan seorang perempuan. Padahal Disrun hanyalah pemuda pengangguran yang setiap hari mengamen di pasar. Disrun kerap bercerita pada Wikar bahwa perempuan yang cantik itu bergerak seperti ular. Pelan dan gemulai. Itu menurutnya. Karena gerak yang pelan dan gemulai itu memancing rasa penasaran dari lelaki yang memandanginya.

“Tidak semua perempuan bergerak lamban, Wikar,” sergah ibunya ketika Wikar bercerita tentang Disrun dan kriteria kecantikan perempuan.

“Kalau aku bergerak lamban, dari mana kau akan kuberi makan? Aku harus cak-cek-cak-cek mengerjakan ini-itu agar rejeki selalu mengalir di rumah ini. Kau tahu sendiri bapakmu cuma sopir angkot!”

Dalam hati, Wikar membalas perkataan ibunya – makanya ibu tak pernah kuanggap cantik. Wikar hanya manggut-manggut mendengar celotehan ibunya. Dari wajahnya yang menatap kosong ke tumpukan belanjaan, yang sedang dibongkar oleh ibunya untuk segera memasak aneka sayuran matang yang nanti siang dijual secara keliling dari rumah ke rumah di beberapa kompleks perumahan di sekitar kontrakan, tampak bahwa dia sama sekali tidak menggubris perkataan ibunya.

“Mona itu cantik lho, Wikar.”

Perkataan itu membuat lamunan Wikar bubar. Sudah berulangkali ibunya berusaha menjodohkan dirinya dengan Mona dan Wikar selalu menolak. Wikar merasa dirinya lebih cocok bersanding dengan Ayu, janda beranak satu yang rumahnya di ujung gang, atau dengan Dini, buruh pengepakan kacang telur, yang sering berkesah dirinya sudah bosan ditanya “kapan nikah” oleh orangtuanya.

“Bu, Mona itu meskipun tamatan SMA juga, anaknya biasa saja. Kalau dia cantik pasti sudah jadi rebutan lelaki. Mungkin sudah dari dulu Disrun mengajaknya kawin.”

“Ah. Kamu itu. Disrun lagi. Disrun lagi. Lalu kamu maunya sama siapa? Ayu? Janda genit yang sering kau apeli tiap malam minggu? Atau siapa itu? Yang suka kemari itu? Yang anaknya kecil-kecil tapi montok.”

“Dini?”

“Ya. Itu.”

“Tidak lah Bu. Ayu itu hanya perlu teman ngobrol. Dan menurut dia, aku paling enak diajak ngobrol. Kalau Dini ke sini, pasti juga cari teman curhat.”

“Lalu kenapa dengan Mona? Apa kau tidak mau jadi temannya dulu. Paling tidak untuk menjajaki kemungkinan apakah perjodohanmu dengan dia bisa berlanjut atau tidak, Wikar,” keluh ibunya dengan nada agak putus asa menasehati Wikar berkali-kali agar mendekati Mona.

“Disrun bilang, hati-hati dengan perempuan yang bertingkah seperti anak kucing, Bu.”

“Maksudnya?”

Wikar menjelaskan bahwa menurut Disrun, perempuan yang berbahaya untuk didekati itu mirip dengan anak kucing. Terlihat lucu, menggemaskan, seperti tengah mengharapkan perhatian dan kasih sayang, namun ketika sudah dekat, yang ada dia akan berbuat seenak hatinya, bahkan jika dilihat anak kucing ketika merasa kehilangan – dia akan berteriak-teriak di jalan atau di tengah keramaian.
Saat Disrun memberitahu hal-hal semacam itu pada Wikar, kejadiannya persis ketika ibunya menasehati. Wikar hanya manggut-manggut sambil memandang sesuatu di kejauhan.

“Memalukan, ya?” Wikar menyimpulkan paparan Disrun.

“Ya. Begitulah, Kar,” yakin Disrun.

“Begini,” lanjut Disrun, “misalnya hubungan kita gagal, dia bisa saja datang ke rumah kita untuk bercerita perangai atau kelakuan kita ke orang tua kita. Ke saudara-saudara kita. Kemudian, ketika dia pulang, yang ada kita berperang sendiri dengan keluarga kita. Repot, kan?”

“Jadi, aku harus cari perempuan yang seperti ular ya Run?”

“Ya, dong!”

“Siapa, ya?”

Disrun mengangkat bahu sambil menoleh pada Wikar yang garuk-garuk kepala.

***
Sejak diceritakan bahwa kedua pihak orang tua Wikar dan Mona telah sepakat untuk menjodohkan mereka ketika beranjak dewasa, Mona sering berkeluh kesah pada Disrun, pemuda kampung yang wajahnya cukup tampan sebenarnya, tapi karena hidupnya banyak berada di jalan menggelandang dan mengamen di pasar, maka tampilan Disrun selalu awut-awutan. Badannya bau antara bau badan karena jarang mandi, bau rokok, dan bau minuman.

Mona memilih Disrun sebagai teman bercerita karena Disrun adalah cinta monyetnya di SMP. Sejak mereka putus, tentu akibat masa depan Disrun yang tidak jelas, mereka masih berteman. Karenanya, ketika Disrun mengatakan dia akan mencari tahu seperti apa watak dan perangai Wikar, Mona merasa gembira. Setidaknya dia tidak buta-buta amat tentang Wikar, sehingga kalau mereka bertemu nanti dia bisa sedikit bersiasat untuk membuat Wikar tidak mau dijodohkan dengan dirinya.

“Tenang saja, Mona. Aku sudah cekoki Wikar dengan informasi yang ngawur tentang perempuan. Aku bilang, jangan pernah mendekati perempuan yang kelihatan lemah, tak berdaya, klemar-klemer, manja, dan seperti memberikan harapan. Dekatilah perempuan yang seperti ular. Cekatan tetapi bergerak pelan. Aku bilang padanya, kau tahulah bumbu cerita para lelaki, perempuan yang cekatan tetapi bergerak pelan itu akan dahsyat di ranjang!”

“Ih. Kamu pikirannya selalu ngeres!”

“Namanya juga laki-laki. Apa sih yang diharapkan laki-laki dari seorang perempuan selain gairah asmara di ujungnya? Hahaha…”

“Wikar percaya?”

“Jangan bilang Disrun kalau tidak berhasil membujuknya untuk percaya! Hahaha…”

Mona terdiam. Betapa picik ternyata pikiran Disrun. Betapa bodoh juga Wikar yang mau percaya begitu saja pada pikiran dan ucapan Disrun. Diam-diam dia merasa bahagia kisah cinta monyetnya dengan Disrun tidak berlanjut sampai sekarang.

“Aku pulang ya?”

“Kok pulang?”

“Wikar tadi sms mau datang ke rumah. Ini pertemuan pertama aku dengan dia.”

“Jangan lupa! Berperanlah seperti anak kucing yang lembut dan manis. Dia pasti akan menganggapmu tak menarik.”

“Ya. Ya. Lihat nanti saja.”

***

Disrun memandangi kekosongan yang tercipta di pasar ketika para penjual dan pedagang sudah pulang. Pasar saat itu hanya menyisakan bau amis, bacin, dan suara lalat yang mendengung berkali-kali.

Gitar merk Kapook yang digunakan untuk mengamen sedari tadi sudah disandarkan ke salah satu tiang los. Di dekatnya, kantung kain penampung uang receh dan uang kertas kumal digeletakkan begitu saja. Isinya sudah dari tadi disusun di dalam kantung celana denimnya yang sudah robek di sana-sini. Warnanya juga sudah tidak jelas lagi, biru, putih, coklat, kuning, hitam. Yang penting tidak berlubang di bagian selangkangan.

Dihisapnya pelan-pelan rokok yang tinggal seruas jari dengan nikmat. Bibirnya yang kehitaman beberapa kali berdecak.

“Wikra. Wikra. Begitu polosnya dirimu. Kau tidak tahu bahwa aku sering memimpikanmu. Sejak cintaku kandas dengan Mona, aku tak lagi percaya pada perempuan. Perempuan hanya menginginkan kebutuhan fisik saja. Lelaki macam aku mana pernah bisa memuaskan mereka.”

Jemarinya yang dihiasi kuku kecoklatan akibat seringnya kena asap rokok dijentikkannya. Sebatang rokok yang tadi dihisap dibuangnya dengan jentikan jarinya. Puntung itu masuk ke dalam selokan pasar yang dipenuhi air berwarna hitam.

“Wikra. Aku akan membuatmu sadar bahwa cinta bukan cuma bisa didapatkan dari para perempuan!”


Jakarta, November 2014

Labels: , ,

Cara Kesebelas Mengatasi Mabuk Laut

Barangkali hanya ingatan yang bisa memperpanjang sebuah peristiwa, begitulah yang Ishtar ingat dari sebuah percakapan seseorang, entah siapa. Hal itu dia ungkapkan setelah kami berciuman di teras bungalow di pinggir pantai sebelum kami berdua pergi untuk melihat penyu bertelur.

“Kau mengharapkan aku mengenangmu?” tanyaku dengan nada sangat hati-hati, takut dia akan merasa dipojokkan dengan pertanyaan itu. Toh, dia yang lebih dulu mengatakan bahwa antara kami berdua hanyalah teman yang merasa saling membutuhkan. Tidak lebih, dan terlebih bukan sepasang kekasih.

“Tidak. Aku tidak berharap kau akan terus mengingatku. Aku pun demikian, tidak akan mengingat apa yang telah terjadi dari kemarin, atau akan terjadi pada sisa hari ini, atau bahkan besok. Karena aku tahu kau tak akan memilih aku, apa pun alasannya.”

Aku mendengus. Nada bicaranya terdengar seperti orang yang rela disakiti asalkan aku merasa bahagia.

“Kau sangat naïf, Ish. Kau pikir aku bisa melupakan perasaan…atau getaran yang timbul di dalam hati ini ketika kita sedang berdua seperti saat ini?”

“Aku tidak naïf. Tidak juga egois. Apa lagi yang perlu dirumitkan dari sekedar saling membutuhkan saat kita tidak sedang bersama dengan orang yang sebenarnya kita cintai? Atau mungkin bagimu, kau gilai?”

Ya. Aku memang tidak menganggap Ishtar sebagai kekasih. Dia juga tahu bahwa aku sangat tergila-gila pada Kinan, seorang gadis yang cantik dan lama aku incar sebagai pacar, dan kini dia memang sudah jadi pacarku. Meskipun demikian, aku tak bisa menipu diriku sendiri bahwa untuk beberapa hal, aku lebih suka berada di dekat Isthar daripada Kinan. Dia seorang gadis yang pandai membawa diri bahkan lebih dari itu, dia seperti seorang ibu yang tahu kebutuhan anak-anaknya. Tanpa harus meminta kepadanya, Isthar banyak menawarkan sesuatu yang memang kuperlukan. Contohnya ketika aku hendak berlayar, dialah orang yang memberikan daftar cara untuk mengatasi mabuk laut. Dia tahu aku sama sekali belum pernah naik kapal.

“Ada dua belas cara mengatasi mabuk laut, Do. Mulai dari hal-hal yang perlu kamu waspadai sebelum naik kapal sampai pada ketika kau sedang mengalaminya. Tidak hanya obat yang harus kau minum, tapi juga makanan atau minuman apa yang seharusnya kamu hindari agar tidak memancing reaksi berlebihan pada lambung supaya kau tak mengalami mabuk laut.”

Kinan? Dia hanya mengatakan, “Sering-sering update status ya? Kasih tahu apa yang menarik di sana. Jangan lupa oleh-oleh. Aku tak mau makanan, takut basi sampai sini. Kalau ada yang mirip-mirip snow globe, bolehlah. Eh, di sana punya kain khas tidak? Seperti batik, lurik, atau kain tenun? Kalau ada, boleh juga.”

Ishtar juga yang menjelang hari keberangkatanku, tiba-tiba menelepon dan mengatakan,”Aku ambil cuti, Do. Aku tak mau ketinggalan kisah perjalananmu. Aku sudah packing dan membawa peralatan fotografi. Siapa tahu banyak obyek yang menarik.”

Antara perasaan senang dan kuatir karena kenekatannya, aku begitu terkejut.

“Jadi, kau akan ikut bersamaku?”

“Siapa bilang begitu? Aku hanya bilang aku ambil cuti. Kebetulan aku juga memilih berlibur ke Bagansiapi-api. Sama denganmu. Aku dengar di sana ada Upacara Bakar Tongkang yang diadakan komunitas orang Tionghoa yang sudah lama tinggal di sana.”

“Tapi, aku tidak akan tinggal lama di Bagansiapi-api. Aku lanjut ke Pulau Jemur. Tempat penyu-penyu hijau bertelur.”

“Do. Kalau waktunya pas, kita bisa bertemu di sana.”

Kalau waktunya pas. Itu kata kunci dari apa yang sebenarnya aku dan dia alami. Kami berteman sudah cukup lama. Jauh sebelum aku jadian sama Kinan. Hanya aku merasa banyak kecocokan dengan dia justru setelah Kinan dan aku berkomitmen untuk menikah akhir tahun ini.

Banyak orang bilang menjelang pernikahan, godaan terhadap kesetiaan itu datang. Tadinya aku tak percaya, tapi dengan semakin dekatnya aku dengan Ishtar rasanya hal itu bisa dianggap benar. Meskipun Isthar sering mencandaiku dengan menanyakan keseriusanku untuk menikahi Kinan, dia juga bersikeras bahwa hubunganku dengannya tak akan bisa berubah dari hanya sekedar teman.

“Aku tak percaya cinta. Cinta itu lebih mematikan daripada gigitan ular merah di pantai Pulau Jemur,” ujarnya ketika aku desak dia untuk mengemukakan alasannya kenapa sampai sekarang dia tidak mau punya pacar.

Ucapannya itu langsung mengingatkanku pada kebiasanku untuk mencari tahu apa yang bisa membahayakan jika berkunjung ke tempat-tempat tertentu. Ini juga salah satu kecocokan antara aku dan Isthar, sama-sama suka melakukan survei jika akan bepergian. Beda sekali dengan Kinan yang cenderung percaya begitu saja pada tour leader dari biro wisata atau informasi teman-temannya. Pernah ketika dia habis dari Hanoi, dia ngotot bahwa di Vietnam tidak akan ditemukan Starbuck. Hal itu didasarkan pada ucapan tour leadernya yang mengetawainya dengan menyebutkan bahwa produksi kopi di Vietnam adalah kedua terbesar di dunia setelah Brazil, dan juga betapa militannya dulu pejuang Viet Cong mengusir tentara Amerika dari tanah kelahiran mereka. Begitu ada temannya yang baru dari Ho Chi Minh City, dia baru tahu bahwa Starbuck sudah lama buka gerainya di Vietnam.

“Ya, tapi aku benar kalau di Hanoi memang tidak ada Starbuck.” Demikian kilahnya untuk menutupi rasa malunya.

Jadi, selain kepribadian Ishtar yang keibuan, kecocokan cara berpikir dia dengan aku adalah apa yang tak bisa kupungkiri sebagai alasan untuk lebih dekat dengannya. Tapi apakah aku seorang playboy? Itu yang harus aku bisa aku sangkal jika di kemudian hari hubunganku dengan Kinan gagal dan aku beralih pada Isthar.

“Kau tak pernah merasa aku memanfaatkanmu?” selidikku.

“Hei. Bukankah aku tadi bilang bahwa kita hanyalah orang yang saling membutuhkan belaka jika tak sedang bersama orang yang kita cintai?”

“Jadi, kau sudah punya pacar? Kau belum pernah menceritakannya.” Selidikku lagi.

“Tak penting. Bukankah aku juga tadi mengatakan bahwa hanya ingatan yang bisa memperpanjang sebuah peristiwa? Saat ini aku tidak sedang ingin untuk mengingat apa yang terjadi dalam hidupku di waktu yang lain. Saat ini, aku hanya sedang ingin menikmati perjalananku ke sini.”

“Bagaimana jika kutanyakan padamu, apakah kau merasa dirugikan dengan hubungan ini?”

“Do. Apa kau tak cukup jelas dengan perkataan ‘saling membutuhkan’ dari pernyataanku sebelumnya?”

Memang, selama ini aku tidak pernah memanfaatkan dirinya. Yang terjadi sore tadi juga hanyalah sebuah ciuman. Tidak lebih. Tapi di sebuah pantai di sebuah pulau yang sepi seperti ini, bisa saja ciuman itu berlanjut pada hal-hal yang lebih jauh. Tiba-tiba aku merasa diriku begitu kotor berpikir tentang dia. Entah mengapa.

“Apakah kau mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekadar ciuman?” Pertanyaan itu seperti sebuah pukulan tepat di daguku. Keras sekali!
Aku gelagapan.

“Tidak. Tidak. Aku merasa tadi itu sudah cukup jauh untuk sebuah pertemanan, Ish.”

Dia tersenyum seperti mengejekku.

“Aku tahu pikiran laki-laki. Tidak usah munafik, Do.”

“Sungguh, Ish. Aku tak berani memikirkan hal-hal yang lebih dari sekedar ciuman tadi,” ujarku berbohong untuk menutupi pikiran kotorku padanya.

“Santai saja, Do. Kalaupun kau berpikir begitu, toh belum tentu aku akan memberikannya,” godanya.

Lalu lengannya memeluk pinggangku. Dia juga merapatkan tubuhnya kepadaku.

“Dingin.”

Dengan kaku, aku melingkarkan lenganku ke pundaknya. Dia hanya mengeluarkan suara, hmm..seperti seorang anak yang merasa nyaman berada di pelukan ibunya. Lalu kami berjalan menyusur pantai. Kami melangkah hati-hati karena takut ada ular merah yang memang sering melingkar di atas pasir.

“Lihat, Do. Ada penyu yang sedang bertelur. Mari kita dekati!” Teriaknya riang memecah malam yang sedari tadi hening lantaran kami hanyut dalam pikiran masing-masing. Dia segera memisahkan tubuhnya dengan tubuhku lalu dilepaskannya tali kamera yang dikalungkan dan dengan cekatan mulai mengambil foto dari penyu tersebut. Aku sedikit berlari mengikutinya.

Penyu hijau yang oleh penduduk setempat disebut pak-ku ini memang tidak akan beranjak jika sudah mulai bertelur, meskipun di dekatnya ada manusia atau binatang pemangsa. Tetapi jika dia baru sampai pantai dan tahu di pasir pantai ada puntung rokok saja, dia bisa batal bertelur dan memilih kembali ke laut.

Aku dan Ishtar mulai sibuk dengan kamera masing-masing. Berbagai gaya dan sudut pengambilan foto kami lakukan agar mendapatkan foto terbaik dari peristiwa penyu bertelur di Pulau Jemur ini. Kami bahkan sudah melupakan apakah di antara pasir pantai yang kami injak barangkali ada ular merah yang siap mengancam nyawa kami.

Puas mengambil gambar, kami saling menunjukkan hasil pemotretan kami. Ishtar beberapa kali mengomentari fotoku yang kerap tampak datar sehingga tidak bisa menampilkan perbedaan background dan obyek foto. “Maklum, sudah mulai harus pakai kacamata positif ya?” ledeknya. Setelah itu, kami pun berjalan pulang ke bungalow, kembali dengan berpelukan.

Begitu sampai teras bungalow, ketika aku hendak membuka kunci pintu, dia bertanya,”Do. Apakah kamu memang sudah siap mental untuk menikahi Kinan?”

Ini sebuah pertanyaan yang serius. Aku terdiam dan mulai menduga apakah dia akan menyatakan cintanya padaku dan berusaha untuk mencegah pernikahanku dengan Kinan.

“Bukan, Do,” katanya seperti tahu jalan pikiranku,”Aku tidak hendak menggagalkan niatmu untuk menikah. Justru aku mengatakan hal itu agar kau tak berubah pikiran. Karena aku merasa apa yang aku lakukan kepadamu atau setidaknya – ini pikiranku – kedekatanku kepadamu selama ini telah membebanimu. Aku melihat ada keraguan di dirimu untuk memutuskan pertemanan kita yang menurutmu tidak wajar ini.”

Meskipun pintu sudah terbuka, aku termangu di depan pintu. Aku merasa tak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya.

“Apakah kau merasa begitu, Do?” tanyanya lagi.

Ya. Jujur itulah yang aku rasakan. Tapi bagaimana caranya berkata bahwa aku merasa kecocokan dengannya terjadi setelah aku memutuskan untuk menikahi Kinan tanpa membuat dia merasa sebagai orang yang kusingkirkan?

Lagi-lagi, dia seperti tahu apa yang kupikirkan, sehingga dia berkata,”Jujur saja, Do. Aku tak menyesali jika memang perasaanmu kepadaku terlambat. Aku tak akan sakit hati.”

“Tidak. Tidak, Ish. Aku memang menyukaimu. Tapi kau tahu, sebagai laki-laki aku harus bertanggungjawab pada keputusan yang telah aku buat.”

“Menyukaiku? Berarti kau tidak cinta kepadaku?” desaknya.

“Ya. Cinta. Bukankah tadi aku katakan bahwa aku punya getaran di dada ini sehingga aku sangat menguatirkan perasaanmu?”

Tiba-tiba, dia memelukku. Erat.

“Terimakasih, Do. Kau sudah jujur kepadaku.”

Lenganku terasa kaku sekali bahkan untuk aku angkat dan rengkuhkan pada tubuhnya yang melekat di tubuhku. Aku tak tahu harus berbuat apa.

“Apakah ini menyakitkan, Ish?” Pertanyaanku seperti batu besar yang menggelinding dan menimpa dadaku sendiri.

Dia tidak menjawab, melainkan menjarakkan tubuhnya dan tangannya mencari tanganku untuk kemudian ditariknya untuk mengikutinya masuk ke dalam bungalow. Begitu kami masuk, dia memintaku untuk menutup pintu dan menguncinya. Bagai kerbau dicucuk hidung, aku menuruti saja perkataannya. Ketika aku menoleh, dia sudah berbaring di ranjang.

“Kau masih hafal 12 cara untuk mengatasi mabuk laut, Do?” tanyanya.

“Ya. Aku hafal. Tapi aku tak mengerti arah pembicaraan kita ini.”

Dia bangkit dari sikap berbaring, dan memberi isyarat kepadaku untuk duduk di sebelahnya.

“Berarti kau ingat cara kesebelas untuk mengatasi mabuk laut itu, bukan?”

“Ya. Cara kesebelas adalah dengan cara minum air laut atau menceburkan diri ke dalam laut,” jawabku.

Dia tersenyum manis sekali. Aku tahu arti senyuman yang menggoda itu, tapi aku masih tak tahu apa maksud dari perbuatannya itu. Dan setelah bercinta, dia membisikkan kata terimakasih di telingaku.

“Untuk apa?”

“Untuk menyelamatkan aku dari mabuk laut, Do. Aku sudah mencoba berbagai cara agar tak jatuh hati kepadamu, tapi ciuman tadi sore membuat aku yakin bahwa kau pun mencintaiku. Dan itu tidak cukup, Do.”

Aku tertawa. Edan! Benar-benar gila perempuan ini, rutukku dalam hati. Tapi setelah tertawa, aku mendadak diserang rasa kuatir karena tadi sebelum melakukannya dia bertanya tentang kesiapan mentalku untuk menikah dengan Kinan.

Melihat aku berhenti tertawa, dia justu tertawa.

“Kenapa?”

“Aku tahu kau kuatir ini jebakan, bukan?”

Gila! Bagaimana bisa dia menebak setiap apa yang aku pikirkan kepadanya? Apakah mimik wajahku begitu mudah dibaca olehnya sehingga bisa demikian?

“Tenang, Do. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tak ingin mengganggu keputusanmu. Bahwa kau akan tetap menikah dengan Kinan, itu tak akan membuatku sakit hati.”

“Jadi, kau tak akan menuntut apa pun dariku?”

“Tidak, Do. Aku bahkan tak akan memintamu untuk terus mencintaiku. Toh, berulangkali aku katakan bahwa hanya ingatan yang akan memperpanjang suatu peristiwa. Bagiku, sudah cukup bahwa aku mencintaimu dan kau pun demikian. Besok, aku sudah harus menganggap apa yang terjadi hari ini adalah sebuah peristiwa biasa saja.”

“Apakah bisa?”

“Bisa saja. Yang tidak bisa justru mungkin kau, atau Kinan?”

“Kinan?” Aku kaget mendengar Ishtar menyebut nama calon istriku itu.

“Ya. Kinan. Dia memang minta aku untuk menggodamu.”

Ombak yang berdebur di pantai Pulau Jemur, tiba-tiba terasa sampai deburnya di dadaku.

Cisarua, 2014

Labels: , ,

Permintaan Terakhir Martyr Doc

Sebelum kepalanya dipancung, kepala perompak telah memberinya sebuah kesempatan untuk mengajukan satu permintaan. Tidak tiga seperti yang biasa dia dengar dari cerita-cerita tentang jin dalam botol atau lampu minyak. Satu permintaan yang akan dipenuhi oleh kepala perompak itu sebelum acara pemenggalan kepalanya akan disiarkan ke seluruh penjuru dunia melalui internet. Dia, harus memikirkan satu permintaan yang elegan, tetapi tidak terlalu sulit untuk diberikan kepadanya.

"Jangan kira kalau kau meminta burger McDonald tidak akan dipenuhi oleh kepala perompak itu. Dia punya koneksi dengan intelejen Amerika," bisik teman satu selnya.

"Jangan juga kau minta diberi kesempatan menonton video JAV terbaru. Hal begitu mudah sekali didapatkan di pasar gelap atau didownload dari server-server di Indonesia," kata yang satunya lagi.

Dia tidak bisa melihat mereka karena sejak diculik dan dimasukkan ke dalam sel, matanya selalu ditutup dengan kain. Dia kira semua orang yang berada di dalam sel tahanan itu juga sama: sama-sama tidak bisa melihat karena matanya ditutupi kain. Tapi berita siapa yang akan dan telah dipenggal kepalanya selalu bisa mereka simak dari pembicaraan. Dia telah mengenali siapa saja yang tadi bicara. Yang mengatakan soal burger adalah John Alloway, seorang teknisi perminyakan asal Kanada. Yang bicara soal JAV adalah Teguh Sarkoro, ABK asal Indonesia. Dia sendiri adalah seorang misionaris sekaligus petugas kemanusiaan yang bergelar dokter. Orang-orang menyebutnya Martyr Doc.

Dia disebut begitu karena hampir selalu diterjunkan di daerah konflik di seluruh dunia, dimulai dari Bosnia sampai Kongo, Peshawar, dan waktu diculik di atas kapal, sedang mengarah ke Afrika Tengah. Negeri yang tengah dipecah belah oleh sektarian muslim dan kristen.

Bagi kepala perompak ini, kepala seorang Martir Doc sangatlah berharga. Di beberapa negara konflik, pihak-pihak yang bertikai menganggap keberadaan Martir Doc adalah ancaman karena seringnya dia memberitakan dan membocorkan keadaan sebenarnya dari mereka. Soal kekurangan gizi para pejuang misalnya. Belum lagi penyakit ganas yang tengah menyerang mereka. Akibat informasi itu, pihak musuh dengan mudah menemukan cara untuk menghancurkan mereka. Inilah berbahayanya keberadaan Martyr Doc bagi para pejuang itu. Karena itulah, pemenggalan kepalanya sudah pasti akan mendatangkan kucuran dana bagi kepala perompak dan gerombolannya. Dia sudah lama menginginkan sebuah kapal yang cepat dan dilengkapi persenjataan anti pesawat udara. Dengan memberitakan kematian Martyr Doc ke seluruh dunia, dia yakin bahwa kelompok-kelompok pejuang akan memberikan penghargaan pada upayanya tersebut.

Martyr Doc berpikir keras, sesuatu yang mudah dan elegan sebagai permintaan terakhirnya. Dia sudah berdoa semalaman dan dia tak mendengar suara pertolongan dari Tuhan. Dia merasa takdirnya sudah ditentukan besok: mati dengan kepala terlepas dari badan. Dalam perenungannya itu, dia tidak lagi bisa berkonsentrasi pada ayat-ayat kitab suci yang menceritakan bagaimana Stefanus yang dihukum rajam menyerahkan nyawanya pada Yesus yang tiba-tiba dilihatnya di langit-langit yang awannya seolah tersibak. Dia malah merasa terganggu dengan kilasan-kilasan dua video klip musik yang tak sengaja dilihatnya dalam perjalanan laut di dalam kapal kemarin-kemarin itu.

Salah satu video klip musik itu mengisahkan tentang anak lelaki hasil pernikahan campur antara lelaki kulit hitam dan perempuan kulit putih. Lelaki kulit hitam itu seorang pendeta, sehingga anak lelaki itu tumbuh dalam keluarga yang gerejawi. Selalu terlibat dalam doa pagi, doa makan, doa mau tidur, bahkan sangat rajin ikut retreat sekolah minggu. Justru, ketika retreat sekolah minggu itu, anak lelaki itu merasa jatuh hati pada teman lelakinya. Bertahun-tahun dia coba melupakan rasa bersalahnya, tetapi justru cintanya malah makin tumbuh. Dan akhirnya, meskipun ditentang, dengan restu dari ibunda saat anak lelaki itu dewasa, ia menikah dengan teman lelakinya di sebuah gereja yang dipimpin oleh pendeta perempuan. Ketika sampai adegan itu, Martyr Doc mengatakan pada teman-temannya di kapal, "Tak ada denominasi gereja yang mau menikahkan pasangan sejenis, sebenarnya." Dan tak satu pun dari orang-orang yang sedang berada di ruangan makan di kapal itu bersuara menanggapinya.

Lalu video klip satunya, yang juga dia saksikan ketika makan ( dia lupa makan pagi, siang, atau malam) di kapal itu mirip dengan video klip yang tadi, tetapi tokoh sentralnya adalah perempuan. Perempuan yang tumbuh dari ibu seorang feminis. Perempuan muda itu pada akhirnya ingin mengatakan pada dunia bahwa dia merasa dirinya sebagai pecinta sesama jenis. Lucunya, ibunya berusaha keras untuk menentang perempuan muda itu. "Dunia sedang sakit," keluh Martyr Doc. "Banyak orang ingin kembali ke jaman Luth. Di mana laki-laki suka laki-laki, dan perempuan suka perempuan." Lagi-lagi tak ada satu pun dari orang-orangg yang berada di ruangan makan itu kapal itu bersuara menanggapinya.

Sekarang, Martyr Doc tersenyum. Dia tahu apa yang akan dia lakukan sebagai permintaan terakhir darinya sebelum eksekusi pemenggalan kepalanya dilakukan. Segera dipanggilnya penjaga dengan suara lantang. John Alloway dan Teguh Sarkoro berbisik-bisik, tapi Martyr Doc tak mendengar dengan jelas bisikan-bisikan mereka. Dia berkonsentrasi apa pesan yang ingin dia sampaikan pada penjaga itu.

Plak! Penjaga itu menampar pipinya keras setelah Martyr Doc membisikkan perkataannya. "Tidak ada yang meminta seperti itu! Tidak bisa!"

"Tapi kalian sudah berjanji untuk memberikan apa pun yang aku minta sebagai permintaan terakhir."

"Ganti saja permintaanmu itu. Aku yakin Sang Ketua tidak akan mengabulkannya."

"Aku tak akan menggantinya. Itu permintaan terakhirku."

Penjaga itu pun pergi dan tak berapa lama terdengarlah keributan di ruang tahanan itu. Kepala perompak dan beberapa tokoh-tokoh tinggi dalam gerombolan itu datang ke ruang tahanan.

"Permintaan yang gila, Martyr Doc. Permintaan yang gila. Aku jijik mendengarnya," kepala perompak itu berkata dan diakhiri dengan suara orang meludah.

"Tapi karena aku menghormatimu, aku akan lakukan."

"Aku ingin melakukannya dengan mata terbuka," tiba-tiba Martyr Doc berkata.

Dengan bahasa isyarat, kepala perompak menyuruh beberapa anak buahnya membuka penutup mata Martyr Doc.

"Lepaskan juga ikatan tangannya. Aku rasa dia tak akan melawan." Lagi-lagi kepala perompak itu memberi perintah.

Dengan pistol di tangan, dia melambai pada Martyr Doc. Memberinya sebuah telepon genggam, lalu berkata,"Di Youtube, pasti ada video klip itu bukan? Nah, carilah dan putar. Aku ingin tahu adegan seperti apa yang kau inginkan."

Martyr Doc maju, menerima telepon genggam itu. Beberapa detik, jarinya mengetik pada telepon genggam itu. Dan tak lama kemudian sebuah lagu terdengar. Martyr Doc mengulurkan telepon genggam itu kembali pada kepala perompak. Selanjutnya, beberapa orang dari gerombolan turut menyimak layar telepon genggam yang berada di tangan kepala perompak itu.

"Najis! Haram! Dosa! Kurang ajar! Apa-apaan itu?!" Mereka mulai berkomentar.

"Jangan lakukan, Pak!"

"Astaga. Itu bertentangan dengan agama."

"Sudah. Bunuh saja dia. Tak perlu dituruti permintaannya."

"Biar aku saja yang membunuh orang gila ini."

John Alloway, Teguh Sarkoro, dan para tahanan yang ditutup matanya kemudian mendengar suara-suara saling bentak. Lama-lama makin tinggi dan nyaring. Kepala perompak terdengar beberapa kali membentak dan menyebut nama-nama dari mereka. Sampai akhirnya terdengar letusan pistol, rentetan tembakan dari AK47, beberapa suara mengaduh. John, Teguh, dan para tahanan yang ditutup matanya segera tiarap, jongkok, atau jatuh terduduk, akibat berlari dan berlindung dari tembakan-tembakan itu.

Setelah sunyi yang lama, John, Teguh, dan para tahanan lain yang tadi ditutup matanya, bertanya-tanya apa yang terjadi. Mereka mendengar suara beberapa orang mengaduh, ngorok dan tercekik seperti kehilangan nyawa, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan lamat-lamat terdengar orang berdoa, "Terimakasih Tuhan. Permintaan terakhirku untuk berciuman seperti sepasang laki-laki dalam video klip tentang persamaan hak untuk kaum LGBT telah mengakibatkan pertikaian dalam kelompok pemberontak itu. Dan meskipun aku tertembak dan akan mati kehabisan darah, tapi aku senang bisa menghancurkan mereka."

Jakarta, November 2014

Labels: , ,

Monday, October 20, 2014

Tikus



Tikus

Istriku mungkin adalah orang yang paling jijik dengan tikus. Setiap kali kami mengontrak rumah, yang paling dia risaukan adalah apakah rumah itu dengan mudah bisa dimasuki binatang pengerat berbulu abu-abu kehitaman yang bisa memasuki lubang berukuran 1 sentimeter itu. Karena itu, dia akan dengan sangat rewel memerintahkan tukang untuk menutup semua lubang angin dengan kawat kassa, menambal bagian bawah pintu dengan sebilah papan tripleks, serta memastikan semua lubang pembuangan air di kamar mandi tidak dapat dijebol dari bawah. Yang terakhir ini, jika tidak bisa dilem dengan lem besi maka dia akan membeli bata ringan untuk menutupnya.

Sebenarnya, hal yang terakhir itu menyisakan keruwetan tersendiri. Maklum, kami masih mempunyai seorang bayi yang belum bisa buang air besar di toilet. Walhasil, sisa-sisa tahi sering sekali menempel di bata ringan itu. Perlu ekstra waktu dan tenaga untuk membersihkannya, minimal seminggu sekali. Dari kegiatan membersihkan kamar mandi ini, aku kemudian mendapatkan musibah. Larutan pembersih lantai keramik sering menciprat ke kaos hitam yang sering aku kenakan, dan yang paling parah mataku pernah tepercik sehingga meninggalkan noda merah seperti berdarah selama berhari-hari.

Saat aku dipanggil atasanku, mataku yang merah itu membuat keningnya berkerut dan lantas dengan cepat dia menutupi matanya. “Ah. Kamu lagi sakit mata ya? Pakai kacamata dong! Biar teman-teman di kantor tidak ada yang tertular.” Buru-buru aku menjelaskan bahwa mataku baik-baik saja. Maksudku bukan sedang sakit mata akibat virus yang gampang menular lewat udara. Tetapi, penjelasanku seperti sia-sia. Dia lantas menyuruhku cepat-cepat meninggalkan ruangannya. Dan percakapan yang tadinya hendak disampaikan langsung disusulkan dalam bentuk e-mail.

Akibat email dari atasanku, hari ini aku lembur. Padahal, malam ini aku sudah berjanji untuk pulang cepat karena istriku kurang enak badan. Dia ingin tidur setelah minum obat dan tak ada yang menjaga bayi kami. Belum aku member kabar kepadanya, tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Nana! Istriku.

“Ya?”

“Katanya mau pulang cepat? Kok sudah jam 9 belum sampai rumah?” Cerocosnya seperti senapan serbu tentara.

“Lembur,” jawabku singkat.

“Huh. Kebiasaan! Selalu tidak bisa tepati janji. “ Suaranya terhenti dan tergantikan bunyi tut-tut-tut tanda panggilan itu sudah berakhir.

Belum lagi aku sempat memasukkan jenis kelamin, usia, dan pengeluaran per bulan untuk mencari media apa yang tepat bagi target penonton iklan yang hendak ditayangkan dalam sebuah sistem analisis data, telepon genggamku kembali berbunyi.

Nana! Istriku kembali meneleponku.

Sebelum aku berkata apa-apa, terdengar jeritannya, “Ayah! Ada tikus masuk rumah!”
Perkataan ini membuatku tidak bisa tidak untuk menyanggupi kepadanya untuk segera pulang. Aku minta waktu sepuluh menit untuk membereskan pekerjaanku, minimal mendapatkan data yang sedang aku cari, menyimpannya dalam format Microsoft Excel dalam folder data pengiklan yang bersangkutan. Sebenarnya, aku perlu waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di rumah. Artinya, setidaknya , aku akan berada di rumah setengah jam kemudian.

“Naik ojek saja biar cepat sampainya!” Teriaknya kembali di ujung telepon.

Sampai di rumah, istriku sudah tidur menurut pengakuan ibu mertuaku. Aku segera masuk ke dalam kamar. Kulihat anak bayi kami tertidur pulas sambil menyusu pada botol susunya dengan kaki di atas bantal guling. Istriku terbangun ketika aku tadi membuka pintu.

“Tikusnya di dapur. Tadi Nunik melihat ekornya di bawah lemari makan,” bisiknya pelan. Nunik adalah adik istriku yang tinggal bersama kami setelah memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai tenaga pemasaran di kota M.

“Kenapa Nunik tidak memburunya?” godaku.

“Kamu itu. Perempuan di mana pun takut sama tikus!” balasnya.

“Takut atau jijik?”

“Sudah, cepat sana cari! Keburu dia bersarang di gudang lalu beranak pinak. Hiii…”

Hanya mengganti celana panjang dengan celana pendek dan membuka kemeja, aku pun segera pergi ke dapur. Mengintai celah-celah lemari, kardus-kardus, galon-galon air minum, tabung gas, ember-ember, bahkan sampai keranjang pakaian kotor pun aku bongkar. Tidak ada tanda-tanda tikus itu.

Menunggu dan mencari tikus ke segala penjuru rumah itu membuat aku mengingat penelitianku sewaktu di bangku kuliah. Skripsiku adalah tentang morfologi, sebuah ilmu yang mempelajari bagian-bagian dari tubuh hewan untuk membedakan antar spesies. Ilmu inilah yang digunakan untuk menggolongkan aneka jenis burung finch ketika Darwin mendarat di Galapagos. Khusus untuk hewan mamalia, morfologi juga berarti tentang sidik jari. Penelitian yang aku lakukan ketika itu adalah mencari pola sidik jari tikus yang ada di Kota B. Membandingkan apakah ada perbedaan sidik jari tikus itu dengan catatan sidik jari yang pernah dibuat di Jepang dan Norwegia sekian puluh tahun silam sebelum penelitianku itu.

Jadi, menangkap tikus bukanlah pekerjaan yang sulit untuk aku lakukan sebenarnya. Tapi, setelah selesai penelitian yang memakan korban puluhan ekor tikus di Kota B itu karena aku memburunya setiap malam selama enam bulan, aku juga merasa jijik dengan binatang itu. Bau klorofom bercampur bau tikus yang setiap malam aku hirup telah membuat aku merasa sangat mual jika melihat binatang itu baik dalam keadaan hidup atau sudah berbentuk bangkai yang banyak ditemui di jalan-jalan perumahan akibat tertabrak sepeda motor atau mobil.

Rasanya sudah satu jam aku menekan perasaan jijikku sendirian di dapur. Aku tak berani untuk minum karena takut muntah. Rasa mual yang timbul di perut itu terjadi karena aku membayangkan bagaimana nasib Sang Tikus nanti di tanganku. Bisa-bisa kepalanya pecah karena terpukul gagang sapu, isi perutnya keluar karena tersabit, atau dia mengalami luka dalam karena terlempar kayu pengganjal pintu. Semua alat-alat pembunuhan itu telah kusiapkan dekat dengan tempatku berdiri. Senter di tanganku mengarah ke berbagai sudut ruang dapur yang temaram.

Telinga kuawas-awaskan untuk mendengar setiap bunyi, tapi tak kudengar cicit ataupun krasak-krusuk yang menandakan adanya tikus. Pernyataan dari Nunik bahwa ia melihat ekor tikus di bawah lemari makan kembali aku selidiki. Rasanya sudah tiga kali aku membungkuk untuk melihatnya, dan hasilnya tetap tidak ada. Aku pun mulai cemas. Kalau malam ini tikus itu tidak ditemukan, besok pagi bisa-bisa aku diminta untuk ijin tidak masuk kerja. Hanya demi mencari sampai dapat seekor tikus di dapur.

Kalau aku beralasan sakit, bisa-bisa teman-teman di kantor akan menganggap mataku yang merah dari kemarin itu memang benar sakit mata yang disebabkan karena virus. Lalu mereka akan memintaku mengambil sisa jatah cutiku untuk beristirahat di rumah. Apalagi jika atasanku mendengar kabar ketidakhadiranku di kantor. Dia yang dari tadi yakin kalau aku sakit mata pasti akan menelepon dengan panik untuk memastikan bahwa dia tidak tertular. Dan jika aku berkata aku sakit yang lain, pasti dia tidak percaya karena hari ini aku terlihat sehat dan bugar.

Paling-paling aku akan beralasan sakit perut akibat salah makan. Istilah yang aneh menurutku. Karena untuk makan, seharusnya kita bisa memilih makanan yang akan masuk ke dalam tubuh kita. Supaya kita tetap terjaga kesehatannya. Maka, mana mungkin kita bisa salah makan? Misalnya kita makan di warung pun makanan yang akhirnya masuk ke dalam perut kita adalah makanan yang kita pilih berdasarkan kesadaran kita. Artinya tidak mungkin salah.

Sambil menunggu tikus itu muncul – setidaknya memberikan tanda di mana dia berada – aku membaca novel Salman Rushdie, Harun dan Samudra Dongeng. Salah satu yang membuat aku membeli novel ini adalah gara-gara perkataan Murakami yang menyebut (tidak secara tepat begini ucapannya, tetapi bisa diartikan sama) bahwa agar kita punya pikiran yang berbeda dengan orang lain, carilah bacaan yang sekiranya orang tidak ramai membacanya. Dan menurutku, pilihanku untuk membelinya – meskipun salah satu alasannya adalah buku ini masuk dalam obral sebuah toko buku – tidak salah. Rushdie menulis dengan sangat lancar. Dia menceritakan dongeng yang tidak mirip dengan dongeng-dongeng yang pernah aku baca sebelumnya. Tidak ada tokoh yang begitu heroik, bahkan tokoh-tokohnya kebanyakan punya cacat dan tidak menarik tampilannya. Bayangkan saja seorang putri raja disebut-sebut punya deretan gigi yang tidak bagus dilihat. Belum lagi bentuk hidungnya. Belum lagi suaranya. Dan dia punya kebiasaan yang sangat aneh sebagai putri raja, jalan-jalan ke perbatasan negara tetangga yang bermusuhan dengan negerinya hanya untuk melihat senja.

Sebenarnya bisa dimaklumi kebiasaannya itu, karena negerinya adalah negeri yang selalu siang. Tidak ada pagi, senja, bahkan malam. Aku bisa mengerti alasannya. Dan aku yakin jika aku tinggal di tempat seperti itu juga akan melakukan hal yang sama dengan putri yang namanya berasal dari kata dalam Bahasa India yang artinya bergunjing. Stereotip memang, perempuan dan pergunjingan. Dan gara-gara membayangkan kebosanan Batcheat, putri raja itu, akan kondisi negerinya yang selalu siang, aku jadi mengantuk.

Tapi aku berpikir jika aku jatuh tertidur di dapur, bisa-bisa tikus itu mendekatiku dan masuk ke dalam celana pendekku. Bisa sangat menderita aku bila hal itu terjadi. Maka aku kuatkan mataku agar tidak menutup. Aku kembali mengawasi sekitarku. Dan…tiba-tiba aku lihat tikus berukuran sebesar anak kucing itu tengah berada di atas pipa air! Aku kebingungan – bagaimana cara membunuh tikus yang berada di atas pipa air seperti seorang akrobat di sebuah sirkus itu?

Walhasil, yang aku lakukan hanyalah menggusah agar tikus itu mengarah ke angin-angin di atas pintu yang kawat kasanya telah rusak karena pemasangan pipa air itu. Dan benar saja, dia berlari ke ujung pipa air di atas pintu. Aku bersyukur, setidaknya jalan pikiranku dengan tikus itu sama! Begitu dia terlihat berusaha merusak (tepatnya memperbesar bagian kawat kasa yang berlubang karena pemasangan pipa air itu) aku matikan lampu dapur, menutup pintu dapur yang ke arah ruang tengah dan mengganjal bagian bawah pintu dengan palang kayu agar tikus itu tidak bisa masuk ke dalam ruang tengah. Setelah itu aku masuk ke dalam kamarku.

Istriku terbangun ketika pegangan pintu kuputar.

“Sudah dibunuh tikusnya, Yah?”

“Tidak. Dia sudah lolos ke lubang kawat kasa di atas pintu dapur,” jawabku berbohong.

“O,” tanggapnya singkat dan bersiap untuk tidur kembali dengan menarik selimut.

“Besok, Ibu panggil saja tukang untuk membetulkan kawat kassa itu. Biar dia tidak bisa masuk,” aku menambahkan sebelum naik ke ranjang dengan teramat pelan supaya anak bayi kami tidak bangun.

Tapi aku belum bisa tidur meski mataku sudah sangat mengantuk. Aku berpikir bagaimana jika tikus itu berubah pikiran – tidak jadi ke luar malah masuk ke dalam kardus sepatu misalnya? Seperti dalam novel Harun dan Samudra Dongeng, Jikka, Sang Jin Air, itu mencuri (tepatnya mengambil) kembali alat pemutus hubungan dari bantal Harun yang tadinya digunakan oleh Harun untuk melakukan negosiasi dengannya agar dibawa ke majelis Kepala Telur untuk diberikan penjelasan mengenai Proses Rumit yang Tidak bisa Dijelaskan – kenapa dunia ini bisa terhubung dengan dunia dongeng setiap saat.


Jakarta, Oktober 2014.

Labels: , ,

Sunday, September 28, 2014

Hantu Perempuan dan Hotel Berarsitektur Kiri

Sambil melambaikan tangan, Tinuk bertanya padaku, “Apakah kau suka dengan tulisan-tulisan George Orwell?” Yang membingungkanku, Tinuk menanyakan hal itu tepat setelah aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan juga sebab aku memang bingung dituduh begitu.
Tinuk tertawa. Hal itu seolah membuat aku tampak begitu bodoh. Tapi aku benar-benar tidak paham apa hubungan pertanyaanku dengan pertanyaannya, atau lebih tepatnya apa hubungannya gedung berarsitektur kiri dengan George Orwell.
“Sudahlah, jangan cemberut begitu. Kalau kau penggemar George Orwell tentu pernah membaca esainya yang berjudul Dapatkah orang-orang Sosialis Hidup Bahagia. Dalam esai itu dia menyebutkan salah satu yang bisa dianggap kesalahan dari paham yang dianggap Kiri itu adalah membangun gedung dengan AC tersentral dengan lampu-lampu berderet yang bersinar terang,” katanya dengan nada membujukku agar tidak bingung dan terlihat sedih karena kebodohanku.
Aku melongo. Sebab yang aku tahu Orwell hanya menulis novel Animal Farm dan 1984 saja. Ketika aku berkata bahwa aku hanya tahu novel-novel Orwell, Tinuk kembali tertawa.
“Orwell juga menulis puisi,” katanya.
Kali ini aku melihat wajahnya dengan sangat jelas. Beberapa hari sebelum hari ini, aku tak pernah mau untuk menatapnya karena takut. Tinuk adalah hantu perempuan yang kutemui di apartemen, tempat aku menginap selama mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah kota kecil di benua Eropa ini. Dia suka muncul dari kamar mandi secara tiba-tiba. Lalu, jika kamar tidurku terbuka, dia akan segera masuk dan duduk di atas meja kerjaku. Duduk di antara tumpukan buku-buku.
Pertama kali aku bertemu dengannya, adalah ketika aku duduk menghadap ke arah pintu kamarku yang terbuka. Saat itu aku tengah membaca kumpulan sajak Rendra tepat pada sajak “Nyanyian Angsa”. Tiba-tiba aku mendengar suara gagang pintu kamar mandi seperti hendak dibuka. Aku berhenti membaca.
Kuperhatikan dengan seksama gagang pintu kamar mandi yang letaknya memang berhadapan dengan kamarku. Tidak. Gagang pintu itu tidak bergerak.
Belum lama aku pandangi gagang pintu itu dari jauh, tiba-tiba sesosok perempuan bergaun merah sudah berdiri di hadapanku.
Tentu aku tidak berpikir perempuan itu keluar dari buku Blues Untuk Bonnie itu. Tapi lucunya, aku sempat berpikir jangan-jangan dia bernama Maria Zaitun! Sebab dia tidak berperawakan orang Eropa, tetapi lebih mirip dengan orang dari Asia. Mungkin juga orang Indonesia.
Belum sempat aku melihat wajahnya yang tertutup rambut panjang hitam, aku melihat gaun merahnya semakin dekat dengan wajahku. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya gelap belaka.
“Aku senang jika ada teman. Di sini, aku sangat kesepian. Kota ini dingin dan seolah tenggelam dalam sepi. Itu sebabnya aku menampakkan diri padamu.” Hantu perempuan itu bicara tanpa henti begitu aku membuka mata. Dia seolah tahu aku telah siuman. Suaranya terdengar seperti dari belakang punggungku.
Aku masih ketakutan dan tak berani menoleh atau memalingkan wajahku ke arah suaranya. Tapi hantu itu masih bicara. Kudengar lamat-lamat dia bercerita tentang seorang tentara yang mencintainya dan membawanya ke kota ini. Aku jadi tertarik untuk mendengar ceritanya lebih lanjut.
Dengan memberanikan diri, aku bangkit dan menghadapkan tubuhku ke arah suara hantu itu berada, tapi wajah kutundukkan ke lantai. Takut jika penampakannya memang menyeramkan seperti gambaran hantu-hantu dalam film Jepang atau Indonesia.
“Ah. Kau rupanya tertarik dengan cerita percintaanku ya?” godanya.
Dengan rasa ragu karena malu mendengar perkataannya dan tebersit keberanian untuk menganggap hantu itu seolah khayalanku saja, aku mencoba mengangkat wajahku.
“Bagaimana tadi ceritanya kau bisa meninggal di kota ini?”
“Kau rupanya lebih tertarik dengan cerita daripada berkenalan denganku. Pantas kau masih sendiri sampai saat ini.”
Dia, tanpa diminta, memperkenalkan dirinya. “Aie Thin Noe namaku. Aku lahir di Burma, atau Myanmar saat ini. Perang telah membuat keluargaku berantakan. Dan kau pasti tahu gadis sepertiku akan mudah jatuh ke tangan yang salah dalam kondisi seperti itu. Singkatnya, aku menjadi budak nafsu para tentara. Untunglah seorang tentara dari kota ini datang dan menyelamatkanku. Meski awalnya tetap sama saja, sebagai laki-laki yang jauh dari rumah, lalu bertemu dengan pelacur seperti aku, dia hanya menginginkan aku sebagai pemuas nafsu belaka. Tapi cinta lama-lama tumbuh di hatinya, dan sampailah aku di sini.”
Aku mencoba mencari tahu seperti apa wajahnya yang tersembunyi di balik helaian-helaian rambut hitam panjang. Dan seperti tahu maksudku, tangannya bergerak menyibak rambutnya. Aku gugup. Alih-alih melihat wajah yang kini terbuka, aku kembali menunduk.
“Namamu susah kusebut. Bagaimana jika aku panggil kau Tinuk?”
Dia tertawa. Berbeda dengan suara tawa kuntilanak yang cenderung mirip ringkik kuda, tawanya terdengar renyah seperti seorang gadis manja.
Hari-hari selanjutnya, aku makin akrab dengan kehadiran Tinuk. Justru, Tinuk entah bagaimana caranya bisa membuatku merasa betah tinggal di kota ini. Tak jarang, dia ikut dalam perjalananku dari apartemen ke kampus. Dia juga sering mengejutkanku dengan membisikkan judul buku yang bagus ketika aku berada di toko buku. Setelah aku membayar di kasir untuk satu seri buku 1Q84 karya Haruki Murakami, dia tiba-tiba menyeletuk.
“Kamu paling suka cerpen Murakami yang mana?” tanyanya.
Tentu pertanyaannya tak segera kujawab. Takut dikira orang aku mengalami gangguan jiwa. Tapi dia mengulangi kembali pertanyaannya. Dengan langkah cepat, aku keluar dari toko buku. Memotong jalur sepeda dan menuju sebuah jalan kecil yang mengarah ke taman kota. Tepat di pagar taman kota yang di sana terdapat sebatang pohon yang tengah berbunga, lagi-lagi dia bertanya hal yang sama.
“Kau aneh. Aku baru membeli novel, kau malah bertanya soal cerpen,” jawabku ketus karena merasa terganggu.
“Aku yakin kau mau menjawab pertanyaanku. Benar, bukan?” godanya lagi.
Kulemparkan pantatku di atas bangku yang tersedia di trotoar. Meletakkan novel baru itu. Dan sambil melihat matanya yang hitam seperti dalam lukisan Jeihan, aku berusaha mengingat beberapa judul cerpen Murakami.
“Aku suka Second Bakery Attack,” kataku setelah lama terdiam.
“Aku menduga kau punya otak kapitalis!” rutuknya.
Kapitalis? Apa hubungannya pilihanku akan cerpen Murakami dengan ideologi ekonomi itu? Aku jadi bertanya tanya, apakah hantu itu memang punya kemampuan untuk menggabungkan beberapa hal dalam sebuah percakapan? Rasanya, aku tak mau bertanya atau menjawab pertanyaannya lagi.
“Berikan aku alasan mengapa kau beranggapan demikian?”
“Rasa lapar,” katanya, ”dalam cerpen pilihanmu itu teramat menakjubkan bukan? Nah, aku hanya menghubungkan jika kau suka dengan cerpen itu tentunya kau juga beranggapan ada banyak hal yang bisa dieksplorasi menjadi cerita. Artinya, dalam hidupmu, kau pun akan menganggap begitu.”
“Ah. Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu,” sanggahku, “Aku justru seorang yang memimpikan semua orang dalam dunia ini hidup dalam harmoni. Boleh saja jika kau menganggapku seorang utopis.”
“Utopis?” selidiknya. Bola matanya yang hitam itu seakan-akan membesar memandangiku dengan lekat. “Semua orang yang dianggap pelopor suatu gerakan biasanya seorang yang utopis.”
Dia kemudian bercerita di masa pergerakan besar menentang kaum borjuis di kota ini, beberapa bangunan indahnya pernah beralih fungsi.
“Gedung di sebelah sana dulunya sebuah arena pertunjukan. Saat mereka berkuasa, gedung itu menjadi semacam laboratorium atau pusat pengkajian ilmiah. Dan gedung-gedung yang berderet di jalan utama itu, dulunya dibangun sebagai apartemen milik rakyat. Atau untuk rakyat yang mau dipimpin dengan ideologi mereka.” Ketika dia menjelaskan demikian, aku merasa sedang dibawa bertamasya dengan dipandu oleh seorang tour guide. Aku lantas teringat sebuah upaya pencarian jati diri bangsa melalui arsitektur bangunan yang sering disebut sebagai post-constructivism. Maka selesai dia bercerita, aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang berarsitektur kiri kepadanya.
“Dalam hidup ini, semua itu dapat dihubung-hubungkan, termasuk pertanyaanmu itu dengan tulisan-tulisan George Orwell. Kau pasti belum tahu bahwa dia juga menulis puisi yang mirip dengan kisah hidupku, bukan?”
Kali ini aku tertarik dengan perkataannya. Aku menduga pasti puisi George Orwell yang dimaksud masuk dalam kategori puisi cinta, tetapi dia berkata puisi ini berjudul Ironic Poem about Prostitution.
Ah. Aku lupa bahwa latar belakang hidupnya adalah seorang pelacur. Tak berapa lama, dari bibirnya – atau setidaknya demikian – meluncurlah puisi tersebut;
When I was young and had no sense
In far-off Mandalay
I lost my heart to a Burmese girl
As lovely as the day.

Her skin was gold, her hair was jet,
Her teeth were ivory;
I said, "for twenty silver pieces,
Maiden, sleep with me".

She looked at me, so pure, so sad,
The loveliest thing alive,
And in her lisping, virgin voice,
Stood out for twenty-five.

Selesai dia membaca puisi itu, giliran aku yang tertawa getir. Pelacur berkebangsaan Burma. Mirip sekali dengan kisah Tinuk. Lalu, ironi pada soal sikap sedih pelacur itu dengan permintaan naiknya harga penawaran sungguh terasa menyedihkan. Tawaku cepat berganti dengan diam begitu aku melihat dia seperti termenung.
“Kenapa?” Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.
“Tak apa. Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu tadi soal gedung berarsitektur kiri yang ingin kau ketahui di kota ini. Kau lihat gedung di sebelah sana? Tepat di perempatan di seberang taman ini. Yang warnanya kuning tua dengan atap seperti berpagar dan ada semacam tugu kecil di empat sudutnya itu?”
Aku melempar pandangan searah dengan tangannya menunjuk. Memang ada bangunan besar berwarna kuning dengan banyak jendela berbingkai putih. Gedung itu seolah dibagi menjadi beberapa bagian. Lantai pertama dihiasi beberapa pintu besar yang melengkung seperti pintu gereja. Tiga lantai di atasnya berjendela dengan bentuk kotak sederhana. Menuju ke tiga lantai di atasnya, ada semacam balkon panjang. Dan jendela di lantai paling bawah - dari tiga lantai di atas balkon - dibentuk dengan bingkai melengkung, sedangkan dua lantai lagi sama seperti bentuk jendela tiga lantai pertama. Lalu setelah itu, ada satu lantai dengan jendela berukuran lebih besar dari semua jendela. Dan dua lantai terakhir dibangun agak menjorok ke dalam karena ada semacam selasar dengan tiang-tiang besar. Bangunan itu diakhiri dengan hal yang persis seperti dikatakan Tinuk; pagar dan tugu kecil di empat sudutnya.
“Apakah bangunan itu yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri?” Aku kembali bertanya pada Tinuk.
“Aku tak tahu sebenarnya yang kau maksud dengan arsitektur beraliran kiri, tapi bangunan hotel itu mirip sekali dengan apartemen yang ada di Kutuzovsky Prospekt, Moskow. Di sanalah aku dibunuh suamiku sendiri yang mengira aku hendak berselingkuh dengan temanku. Padahal aku datang ke hotel itu untuk menghadiri pertemuan orang-orang Burma perantauan di kota ini.”
Setelah Tinuk mengatakan hal itu, aku tertegun cukup lama memandangi bangunan itu, sampai-sampai tak kusadari Tinuk sudah tidak ada lagi di sampingku. Tapi bukan karena Tinuk menghilang aku memungut novel Murakami di atas bangku dengan cepat, memasukkannya ke ransel, lalu bergegas menyeberang jalan. Aku melakukan itu semua karena desakan rasa lapar. Rasanya, siapa pun tahu jika rasa lapar menyerang, apalagi ditambah suhu udara yang di bawah 10 derajat celsius, orang akan berjalan dengan sangat tergesa. Tidak terkecuali aku.

Jakarta, September 2014.

Labels: ,