Sunday, September 28, 2014

Hantu Perempuan dan Hotel Berarsitektur Kiri

Sambil melambaikan tangan, Tinuk bertanya padaku, “Apakah kau suka dengan tulisan-tulisan George Orwell?” Yang membingungkanku, Tinuk menanyakan hal itu tepat setelah aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Aku menimpali pertanyaannya dengan pertanyaan juga sebab aku memang bingung dituduh begitu.
Tinuk tertawa. Hal itu seolah membuat aku tampak begitu bodoh. Tapi aku benar-benar tidak paham apa hubungan pertanyaanku dengan pertanyaannya, atau lebih tepatnya apa hubungannya gedung berarsitektur kiri dengan George Orwell.
“Sudahlah, jangan cemberut begitu. Kalau kau penggemar George Orwell tentu pernah membaca esainya yang berjudul Dapatkah orang-orang Sosialis Hidup Bahagia. Dalam esai itu dia menyebutkan salah satu yang bisa dianggap kesalahan dari paham yang dianggap Kiri itu adalah membangun gedung dengan AC tersentral dengan lampu-lampu berderet yang bersinar terang,” katanya dengan nada membujukku agar tidak bingung dan terlihat sedih karena kebodohanku.
Aku melongo. Sebab yang aku tahu Orwell hanya menulis novel Animal Farm dan 1984 saja. Ketika aku berkata bahwa aku hanya tahu novel-novel Orwell, Tinuk kembali tertawa.
“Orwell juga menulis puisi,” katanya.
Kali ini aku melihat wajahnya dengan sangat jelas. Beberapa hari sebelum hari ini, aku tak pernah mau untuk menatapnya karena takut. Tinuk adalah hantu perempuan yang kutemui di apartemen, tempat aku menginap selama mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah kota kecil di benua Eropa ini. Dia suka muncul dari kamar mandi secara tiba-tiba. Lalu, jika kamar tidurku terbuka, dia akan segera masuk dan duduk di atas meja kerjaku. Duduk di antara tumpukan buku-buku.
Pertama kali aku bertemu dengannya, adalah ketika aku duduk menghadap ke arah pintu kamarku yang terbuka. Saat itu aku tengah membaca kumpulan sajak Rendra tepat pada sajak “Nyanyian Angsa”. Tiba-tiba aku mendengar suara gagang pintu kamar mandi seperti hendak dibuka. Aku berhenti membaca.
Kuperhatikan dengan seksama gagang pintu kamar mandi yang letaknya memang berhadapan dengan kamarku. Tidak. Gagang pintu itu tidak bergerak.
Belum lama aku pandangi gagang pintu itu dari jauh, tiba-tiba sesosok perempuan bergaun merah sudah berdiri di hadapanku.
Tentu aku tidak berpikir perempuan itu keluar dari buku Blues Untuk Bonnie itu. Tapi lucunya, aku sempat berpikir jangan-jangan dia bernama Maria Zaitun! Sebab dia tidak berperawakan orang Eropa, tetapi lebih mirip dengan orang dari Asia. Mungkin juga orang Indonesia.
Belum sempat aku melihat wajahnya yang tertutup rambut panjang hitam, aku melihat gaun merahnya semakin dekat dengan wajahku. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya gelap belaka.
“Aku senang jika ada teman. Di sini, aku sangat kesepian. Kota ini dingin dan seolah tenggelam dalam sepi. Itu sebabnya aku menampakkan diri padamu.” Hantu perempuan itu bicara tanpa henti begitu aku membuka mata. Dia seolah tahu aku telah siuman. Suaranya terdengar seperti dari belakang punggungku.
Aku masih ketakutan dan tak berani menoleh atau memalingkan wajahku ke arah suaranya. Tapi hantu itu masih bicara. Kudengar lamat-lamat dia bercerita tentang seorang tentara yang mencintainya dan membawanya ke kota ini. Aku jadi tertarik untuk mendengar ceritanya lebih lanjut.
Dengan memberanikan diri, aku bangkit dan menghadapkan tubuhku ke arah suara hantu itu berada, tapi wajah kutundukkan ke lantai. Takut jika penampakannya memang menyeramkan seperti gambaran hantu-hantu dalam film Jepang atau Indonesia.
“Ah. Kau rupanya tertarik dengan cerita percintaanku ya?” godanya.
Dengan rasa ragu karena malu mendengar perkataannya dan tebersit keberanian untuk menganggap hantu itu seolah khayalanku saja, aku mencoba mengangkat wajahku.
“Bagaimana tadi ceritanya kau bisa meninggal di kota ini?”
“Kau rupanya lebih tertarik dengan cerita daripada berkenalan denganku. Pantas kau masih sendiri sampai saat ini.”
Dia, tanpa diminta, memperkenalkan dirinya. “Aie Thin Noe namaku. Aku lahir di Burma, atau Myanmar saat ini. Perang telah membuat keluargaku berantakan. Dan kau pasti tahu gadis sepertiku akan mudah jatuh ke tangan yang salah dalam kondisi seperti itu. Singkatnya, aku menjadi budak nafsu para tentara. Untunglah seorang tentara dari kota ini datang dan menyelamatkanku. Meski awalnya tetap sama saja, sebagai laki-laki yang jauh dari rumah, lalu bertemu dengan pelacur seperti aku, dia hanya menginginkan aku sebagai pemuas nafsu belaka. Tapi cinta lama-lama tumbuh di hatinya, dan sampailah aku di sini.”
Aku mencoba mencari tahu seperti apa wajahnya yang tersembunyi di balik helaian-helaian rambut hitam panjang. Dan seperti tahu maksudku, tangannya bergerak menyibak rambutnya. Aku gugup. Alih-alih melihat wajah yang kini terbuka, aku kembali menunduk.
“Namamu susah kusebut. Bagaimana jika aku panggil kau Tinuk?”
Dia tertawa. Berbeda dengan suara tawa kuntilanak yang cenderung mirip ringkik kuda, tawanya terdengar renyah seperti seorang gadis manja.
Hari-hari selanjutnya, aku makin akrab dengan kehadiran Tinuk. Justru, Tinuk entah bagaimana caranya bisa membuatku merasa betah tinggal di kota ini. Tak jarang, dia ikut dalam perjalananku dari apartemen ke kampus. Dia juga sering mengejutkanku dengan membisikkan judul buku yang bagus ketika aku berada di toko buku. Setelah aku membayar di kasir untuk satu seri buku 1Q84 karya Haruki Murakami, dia tiba-tiba menyeletuk.
“Kamu paling suka cerpen Murakami yang mana?” tanyanya.
Tentu pertanyaannya tak segera kujawab. Takut dikira orang aku mengalami gangguan jiwa. Tapi dia mengulangi kembali pertanyaannya. Dengan langkah cepat, aku keluar dari toko buku. Memotong jalur sepeda dan menuju sebuah jalan kecil yang mengarah ke taman kota. Tepat di pagar taman kota yang di sana terdapat sebatang pohon yang tengah berbunga, lagi-lagi dia bertanya hal yang sama.
“Kau aneh. Aku baru membeli novel, kau malah bertanya soal cerpen,” jawabku ketus karena merasa terganggu.
“Aku yakin kau mau menjawab pertanyaanku. Benar, bukan?” godanya lagi.
Kulemparkan pantatku di atas bangku yang tersedia di trotoar. Meletakkan novel baru itu. Dan sambil melihat matanya yang hitam seperti dalam lukisan Jeihan, aku berusaha mengingat beberapa judul cerpen Murakami.
“Aku suka Second Bakery Attack,” kataku setelah lama terdiam.
“Aku menduga kau punya otak kapitalis!” rutuknya.
Kapitalis? Apa hubungannya pilihanku akan cerpen Murakami dengan ideologi ekonomi itu? Aku jadi bertanya tanya, apakah hantu itu memang punya kemampuan untuk menggabungkan beberapa hal dalam sebuah percakapan? Rasanya, aku tak mau bertanya atau menjawab pertanyaannya lagi.
“Berikan aku alasan mengapa kau beranggapan demikian?”
“Rasa lapar,” katanya, ”dalam cerpen pilihanmu itu teramat menakjubkan bukan? Nah, aku hanya menghubungkan jika kau suka dengan cerpen itu tentunya kau juga beranggapan ada banyak hal yang bisa dieksplorasi menjadi cerita. Artinya, dalam hidupmu, kau pun akan menganggap begitu.”
“Ah. Kau terlalu cepat menyimpulkan sesuatu,” sanggahku, “Aku justru seorang yang memimpikan semua orang dalam dunia ini hidup dalam harmoni. Boleh saja jika kau menganggapku seorang utopis.”
“Utopis?” selidiknya. Bola matanya yang hitam itu seakan-akan membesar memandangiku dengan lekat. “Semua orang yang dianggap pelopor suatu gerakan biasanya seorang yang utopis.”
Dia kemudian bercerita di masa pergerakan besar menentang kaum borjuis di kota ini, beberapa bangunan indahnya pernah beralih fungsi.
“Gedung di sebelah sana dulunya sebuah arena pertunjukan. Saat mereka berkuasa, gedung itu menjadi semacam laboratorium atau pusat pengkajian ilmiah. Dan gedung-gedung yang berderet di jalan utama itu, dulunya dibangun sebagai apartemen milik rakyat. Atau untuk rakyat yang mau dipimpin dengan ideologi mereka.” Ketika dia menjelaskan demikian, aku merasa sedang dibawa bertamasya dengan dipandu oleh seorang tour guide. Aku lantas teringat sebuah upaya pencarian jati diri bangsa melalui arsitektur bangunan yang sering disebut sebagai post-constructivism. Maka selesai dia bercerita, aku bertanya kepadanya apakah di kota ini ada gedung yang berarsitektur kiri kepadanya.
“Dalam hidup ini, semua itu dapat dihubung-hubungkan, termasuk pertanyaanmu itu dengan tulisan-tulisan George Orwell. Kau pasti belum tahu bahwa dia juga menulis puisi yang mirip dengan kisah hidupku, bukan?”
Kali ini aku tertarik dengan perkataannya. Aku menduga pasti puisi George Orwell yang dimaksud masuk dalam kategori puisi cinta, tetapi dia berkata puisi ini berjudul Ironic Poem about Prostitution.
Ah. Aku lupa bahwa latar belakang hidupnya adalah seorang pelacur. Tak berapa lama, dari bibirnya – atau setidaknya demikian – meluncurlah puisi tersebut;
When I was young and had no sense
In far-off Mandalay
I lost my heart to a Burmese girl
As lovely as the day.

Her skin was gold, her hair was jet,
Her teeth were ivory;
I said, "for twenty silver pieces,
Maiden, sleep with me".

She looked at me, so pure, so sad,
The loveliest thing alive,
And in her lisping, virgin voice,
Stood out for twenty-five.

Selesai dia membaca puisi itu, giliran aku yang tertawa getir. Pelacur berkebangsaan Burma. Mirip sekali dengan kisah Tinuk. Lalu, ironi pada soal sikap sedih pelacur itu dengan permintaan naiknya harga penawaran sungguh terasa menyedihkan. Tawaku cepat berganti dengan diam begitu aku melihat dia seperti termenung.
“Kenapa?” Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.
“Tak apa. Aku hanya ingin menjawab pertanyaanmu tadi soal gedung berarsitektur kiri yang ingin kau ketahui di kota ini. Kau lihat gedung di sebelah sana? Tepat di perempatan di seberang taman ini. Yang warnanya kuning tua dengan atap seperti berpagar dan ada semacam tugu kecil di empat sudutnya itu?”
Aku melempar pandangan searah dengan tangannya menunjuk. Memang ada bangunan besar berwarna kuning dengan banyak jendela berbingkai putih. Gedung itu seolah dibagi menjadi beberapa bagian. Lantai pertama dihiasi beberapa pintu besar yang melengkung seperti pintu gereja. Tiga lantai di atasnya berjendela dengan bentuk kotak sederhana. Menuju ke tiga lantai di atasnya, ada semacam balkon panjang. Dan jendela di lantai paling bawah - dari tiga lantai di atas balkon - dibentuk dengan bingkai melengkung, sedangkan dua lantai lagi sama seperti bentuk jendela tiga lantai pertama. Lalu setelah itu, ada satu lantai dengan jendela berukuran lebih besar dari semua jendela. Dan dua lantai terakhir dibangun agak menjorok ke dalam karena ada semacam selasar dengan tiang-tiang besar. Bangunan itu diakhiri dengan hal yang persis seperti dikatakan Tinuk; pagar dan tugu kecil di empat sudutnya.
“Apakah bangunan itu yang dibangun dengan arsitektur beraliran kiri?” Aku kembali bertanya pada Tinuk.
“Aku tak tahu sebenarnya yang kau maksud dengan arsitektur beraliran kiri, tapi bangunan hotel itu mirip sekali dengan apartemen yang ada di Kutuzovsky Prospekt, Moskow. Di sanalah aku dibunuh suamiku sendiri yang mengira aku hendak berselingkuh dengan temanku. Padahal aku datang ke hotel itu untuk menghadiri pertemuan orang-orang Burma perantauan di kota ini.”
Setelah Tinuk mengatakan hal itu, aku tertegun cukup lama memandangi bangunan itu, sampai-sampai tak kusadari Tinuk sudah tidak ada lagi di sampingku. Tapi bukan karena Tinuk menghilang aku memungut novel Murakami di atas bangku dengan cepat, memasukkannya ke ransel, lalu bergegas menyeberang jalan. Aku melakukan itu semua karena desakan rasa lapar. Rasanya, siapa pun tahu jika rasa lapar menyerang, apalagi ditambah suhu udara yang di bawah 10 derajat celsius, orang akan berjalan dengan sangat tergesa. Tidak terkecuali aku.

Jakarta, September 2014.

Labels: ,

Wednesday, September 17, 2014

Monumen Bulan dan Kota yang Ingin Merdeka

Panggih terlihat lebih kurus dan hitam dibandingkan beberapa bulan lalu aku melihatnya, tapi senyumnya tetap sama. Bersahabat. Dia merentangkan kedua lengannya, melupakan sejenak koper besar yang tadi diseretnya, untuk segera mengharapkan aku berada di dalam pelukannya.

“Kau tetap cantik dan menyenangkan untuk dilihat. Itu yang membuat aku bahagia bisa datang ke kota ini,” bisiknya.

“Kau tak berubah. Nggombal senantiasa,” balasku.

Dan tawa kami segera pecah, sebelum dihentikan oleh seorang bapak yang menggerutu karena tersandung kakinya oleh koper Panggih dan nyaris jatuh. Buru-buru Panggih melepaskan pelukannya dari tubuhku lalu menghampiri bapak tersebut dan meminta maaf. Aku memalingkan badan untuk menelepon Yanto, sopirku, untuk segera menjemput kami. Ketika badanku kembali ke posisi awal, Panggih sudah berdiri dekat denganku dengan raut muka seperti keheranan.

“Sudah berganti pemimpin, kota ini masih saja semrawut lalu lintasnya,” keluhnya.

Aku teringat tulisan-tulisan pendek Nalfin yang kerap mengomentari tentang kota dan tata pemerintahan kota termasuk janji-janji politik yang tak ditepati, tak jarang pula Nalfin menuliskan tentang perilaku warga kota yang justru membuat ruwet kota. Aku mengutipkan tulisan Nalfin untuk menimpali keluh kesah Panggih, ”Sebenarnya bukan pemimpinnya yang salah urus dan salah atur, tapi warganya juga semakin ngawur dan tetap mau menang sendiri. Lihat saja, di daerah yang sebenarnya tidak boleh parkir, mereka parkir semaunya. Ini baru di kawasan bandara.”

Panggih tertawa, lalu katanya, ”Kau tak perlu menjelaskan seperti itu, mentang-mentang aku baru kembali dari luar kota. Toh, aku penduduk kota ini.”

Aku jadi tersipu, tapi lantas egoku muncul.

“Kalau kau sudah tahu, kenapa tadi mengeluh? Pekerjaan yang sia-sia. Haha.”

Lagi-lagi Panggih mengubah raut mukanya. Kali ini terlihat sangat serius. Agaknya dia mau mengeluarkan argumentasinya. Benar saja, kata-kata ini segera meluncur dari bibirnya dengan cara yang sama sekali tidak mengandung nada bercanda – Di dunia ini tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Orang bisa saja menganggapnya begitu, tetapi kenyataannya belum tentu demikian. Kau pernah melihat topi yang dimuati gulungan tisu yang berfungsi jika penggunanya sedang kena flu? Bagi banyak orang hal itu sia-sia tetapi ada masanya hal itu berguna meskipun cuma sesaat. Banyak hal bagus dimulai dari apa yang dianggap sia-sia, tetapi karena perkembangannya, modifikasi, evolusi, bahkan revolusi, justru pada akhirnya menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Lihat saja sekarang ini trem yang dulu dianggap tak lagi memenuhi kebutuhan suatu kota, sekarang malah hendak dihidupkan lagi di Surabaya.

Kalau dia sudah mericau begitu, sulit untuk menghentikannya. Pertemuan yang tadinya dimulai dengan hangat berangsur dengan pasti menjadi sesuatu yang sangat menjemukan. Tapi Panggih bukanlah Panggih jika tidak bisa membelokkan cerita. Begitu melihat aku merengut, Panggih mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya. Sebuah novel!

“Novel apa itu? Karya siapa?”

Panggih mengatakan bahwa dia bertemu seseorang dalam perjalanan. Che Sien, namanya. Menurut Panggih pasti nama samaran atau nama pena, karena kata tersebut ada dalam petikan puisi Inferno karya Dante Alighieri, yang lengkapnya adalah “e avanti che sien di là discese, anche di qua nuova schiera s'auna.” Dan orang itu juga bukan seorang keturunan Tionghoa, lagi pula seorang Tionghoa tidak akan menulis Sien, pasti menulisnya Xian. Dan Chen Sien mengaku sebagai penulis.

“Novel ini mungkin nasibnya akan baik jika bisa mendapatkan penerbit yang jaringan distribusinya luas. Karena beberapa orang yang membaca mengatakan bahwa cerita yang saya bangun dalam novel ini sangat menarik, mengaduk-aduk perasaan. Ya, sayangnya karena penerbit novel ini hanya mampu mendistribusikan ke toko buku lokal dan sekitaran kota ini, akhirnya nasibnya berakhir sebagai tumpukan buku tak berguna di gudang. Saya sendiri harus menebus sekian ratus eksemplar agar bisa saya pasarkan sendiri,” gerutu Che Sien sambil membanggakan karyanya.

“Sudah melahirkan berapa novel, Mbak?”

“Ada tiga novel yang saya tulis, tapi yang berhasil diterima penerbit hanya satu ini,” katanya sambil menyerahkan novel berjudul Monumen Bulan kepada Panggih.

“Yang lainnya?”

“Satu novel tentang cara menulis novel yang saya kelindankan dengan cerita rakyat dikatakan terlalu dangkal ceritanya. Sedangkan yang bercerita tentang anak-anak muda yang penuh suka duka dalam membesarkan sebuah band indie sempat ditaksir untuk diterbitkan sebagai cerita bersambung di tabloid lokal, sayangnya kemudian tabloid itu bangkrut.”

“Kenapa judulnya Monumen Bulan? Memangnya itu ikon di kota ini? Maaf, saya baru sampai di sini jadi belum tahu banyak cerita tentang kota ini.”

“Bukan. Monumen Bulan hanya sebuah kiasan yang saya ambil dari cerita lelaki yang menikah dengan alien.”

“Menikah dengan alien? Betapa absurd cerita seperti itu!” kataku.

“Ya. Che Sien mengatakan begitu karena dia banyak membaca tentang dunia paralel yang menyatakan bahwa kemungkinan besar ada yang seperti kita di planet yang lain. Mereka yang bergerak dan berbicara seperti kita. Ah, kalau aku ceritakan kau tak akan membaca novel ini. Bagus kok!”

“Aku penasaran jadinya,” kataku sambil merebut novel itu dari tangan Panggih.

Panggih diam saja. Sepertinya tidak rela novel itu berpindah tangan.

“Kau masih percaya dengan cinta?”

“Apa?”

“Biasanya orang yang suka membaca kisah percintaan adalah mereka yang kesepian atau memikirkan bahwa cinta itu adalah sesuatu yang indah, sakral, dan begitu mengharu biru.”

“Apa itu salah?”

“Tidak. Tidak ada yang salah dengan kisah cinta. Yang salah adalah orang lebih banyak merasa begitu tetapi dalam keseharian justru menafikan cinta. Sembrono!”

Aku heran Panggih begitu kesal dengan fenomena yang menurutnya terjadi. Padahal aku justru merasa saat ini orang butuh lebih banyak diberikan gambaran tentang cinta agar tidak sembrono dalam menjalani hidup. Seperti pengalaman tadi pagi saat aku menyeberang jalan, seorang pengendara sepeda motor hampir saja menabraknya. Padahal aku sudah berada di tengah jalan dan dia hendak berbelok dari arah kiri ke kanan, dan tetap melaju kencang. Akhirnya aku hanya memelototi pengendara sepeda motor itu, sementara dia dengan tak acuhnya hanya memelankan laju sepeda motornya. Ya. Di kota ini, pejalan kaki adalah pihak yang selalu dituntut mengalah. Trotoar semakin sempit, ketika menyeberang harus menunggu jalan agak lengang, dan hampir tidak ada lampu tanda orang menyeberang.

“Kamu itu yang sembrono. Menuduh orang tanpa bukti-bukti. Bukankah lebih baik diperbanyak ajaran tentang cinta?”

“Percuma. Sudah begitu banyak orang bicara cinta, tapi manusia tetap tidak berubah. Apa kurang Budha, Kristus, Muhammad, Rumi, Gandhi, Neruda bicara soal cinta?”

Aku tertawa. Panggih heran.

“Kenapa tertawa?”

“Jangan-jangan. Kita ini adalah alien di kota ini. Sehingga selalu heran dengan perilaku manusia lain.”

Panggih tidak menimpali perkataanku, kali ini dia menunduk memperhatikan jam tangannya. Aku segera sigap. Kupencet lagi nomor Yanto.

“Sampai mana, To?”

Dari seberang, Yanto menjelaskan bahwa untuk keluar dari tempat parkir membutuhkan waktu 10 menit karena antriannya begitu panjang. Saat ini dia sudah ke luar, tetapi jalan menuju tempat penjemputan terhambat oleh rombongan bus yang menurunkan jemaah calon haji.

“Yanto sudah mengarah ke sini, tapi terhambat di ujung sana,” jelasku pada Panggih tanpa diminta. Panggih manggut-manggut. Dia menunjuk sebuah bangku panjang yang baru saja ditinggalkan dua orang dengan ransel besar. Aku menuruti kehendaknya, mengekor dia menuju bangku tersebut.

“Kau pernah tidak membayangkan kota itu sebagai suatu organisma yang terus bertumbuh?”

“Tidak. Buat apa? Bagiku kota seperti dikatakan oleh Trancik yang dipentingkan adalah makna dari setiap ruang yang ada di dalam kota itu. Artinya, kota bukanlah organisma tetapi tempat. Dan selalu begitu.”

“Jadi, tidak ada kota yang tumbuh?”

“Secara teori begitu. Kota tumbuh karena adanya aktivitas manusia dan penambahan fungsi dari daerah. Jadi kota itu harus tumbuh jika manusianya mulai kompleks dalam kehidupannya.”

“Wah. Kalau begitu kota harus merdeka dari keinginan manusia.”

“Kok?”

Kata Panggih, dalam novel Monumen Bulan itu, Che Sien menulis kota Dompayuba dimulai dari peristiwa kematian Sang Alien. Sebuah monumen kecil dibuat di atas kuburannya. Sejak itu, banyak orang datang untuk melihat kuburan Sang Alien. Orang-orang itu lantas membangun pemukiman yang awalnya adalah penginapan-penginapan. Kemudian di daerah perbatasan muncul pasar yang menjual kebutuhan perkabungan dan kebutuhan sehari-hari selama orang-orang itu menginap di dekat kuburan itu. Lalu dibangun areal parkir yang besar dan terminal. Dan seterusnya sampai akhirnya Dompayuba itu terbentuk sebagai kota yang besar.

Aku terbahak, dan menukas cepat, ”Kau bodoh, Panggih! Dari tadi kau cerita kalau Dompayuba tumbuh karena keinginan manusia-manusia itu. Jadi contoh yang kau buat sebagai kota yang tumbuh sebagai organisma itu salah!”

Panggih terkejut dengan komentarku. Dia berdiri dengan cepat, lalu meninggalkanku. Tanpa bicara apa-apa lagi.

Aku bengong melihatnya. Hari yang tadinya kupikir menyenangkan karena bertemu teman lama justru berakhir berantakan. Aku tak mengejar Panggih. Kubiarkan punggung dan koper yang diseretnya segera tenggelam dalam kerumunan orang-orang yang lalu lalang di terminal kedatangan bandara. Sementara pandanganku segera beralih kepada novel yang tadi diberikan olehnya.

Segera kubalik sampul berwarna hitam yang dihiasi gambar obelisk dan bulan purnama serta huruf Monumen Bulan berwarna perak yang di-embos untuk mencari tahu seperti apa tulisan Che Sien ini.

Sang Alien sudah pergi. Dunia yang tadinya merasa kedatangannya sebagai ancaman malah balik berkabung dan mengagumi perasaan cinta Sang Alien terhadap bumi ini terlebih cintanya terhadap Miru, istrinya yang adalah manusia biasa. Cinta, barangkali, kata yang kurang tepat untuk menggambarkan keinginan Sang Alien sebenarnya, karena menurut pengakuan Miru, kedatangan Sang Alien ke bumi ini hanya untuk belajar berinteraksi dengan manusia. Sang Alien merasa ada yang salah dengan manusia. Dia tahu itu dari adanya perang, perkosaan, pembunuhan, pencurian, korupsi, dan pembuangan bayi-bayi. Belum lagi selalu ada orang-orang yang berbohong dan ingkar janji. Termasuk kepada kekasih sendiri.

Kematian Sang Alien diberitakan Miru setelah lama dia menghilang dari keluarganya. Tentu, untuk melarikan diri bersama Sang Alien, karena sejak awal hubungan mereka tidak direstui oleh masyarakat. Miru menangis di pintu gerbang rumah Kolonel Andre, orang nomor satu di salah satu kota di distrik yang terletak di semenanjung pulau itu. Para penjaga rumah Kolonel Andre segera membawa masuk Miru untuk diinterogasi. Maklumlah, mendekati rumah itu saja sudah dicurigai apalagi dengan menangis terisak-isak dan terjatuh. Miru dibawa masuk setelah digeledah dengan seksama oleh penjaga-penjaga rumah itu.

Tangan dan kaki Miru diikat erat pada sebuah kursi. Di depannya, Kapten Yomi dan seorang lagi yang berkacamata dan merokok mengamati berkas yang didapat dari petugas lain. Berkas biodata Miru.

“Kau anak Tuan Modra?”

“Ya.”

“Kenapa sampai di sini? Bukankah rumah ayahmu berada tak jauh dari sini?”

“Aku memang sedang menuju ke sana. Tapi aku terjatuh.”

“Menurut biodata ini, kau sudah delapan bulan meninggalkan rumah. Pergi ke mana?”

“Aku menikah dan ikut suamiku.”

“Di sini tak ada nama suami. Kau pasti berbohong.”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya. Suamiku tidak diakui oleh keluargaku.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena dia seorang alien.”

Aku tertawa membaca tulisan Chen Sien. Pantas saja jika buku ini tidak laku di pasaran. Cara dia bercerita begitu buruk. Sama seperti tulisanku. Padahal tugasku membuat reportase feature dari Yayasan yang kerap melakukan CSR. Harusnya aku bisa membuat tulisan yang lebih baik dari tulisan-tulisanku sebelumnya. Aku merasa sebagai orang yang salah di tempat yang tidak seharusnya dalam pekerjaanku. Maka ketika Mas Abram memanggilku ke ruang kerjanya, aku tahu ada yang salah dalam pekerjaanku.

“Yun. Aku tahu kau berbakat sebagai penulis. Tapi aku lihat beberapa tulisanmu belum mampu membangkitkan minat bagi calon investor untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yayasan ini. Aku masih mau memberikan kesempatan. Ini penting buatmu dan buatku.”

“Baik. Mas. Maafkan jika saya masih belum becus, tapi saya mau belajar banyak.”

“Nah. Ini ada kesempatan bagus. Aku harap kau mau membuka telinga, mata, dan hati untuk bisa mendapatkan masukan sebanyak-banyaknya dari tamuku ini. Dia seorang jurnalis handal. Dia baru datang dari sebuah distrik di semenanjung. Namanya Panggih. Aku tahu kau mengenalnya melebihi aku. Sebab menurut kabar, kau adalah mantan pacarnya. Bisa kau menjemputnya besok pagi?”

Mendengar kata-kata Mas Abram, aku mendadak gugup. Aku tahu besok pagi mungkin aku harus segera mengajukan resign dari kantor ini.


Jakarta, September 2014

Labels: , ,

Tuesday, October 01, 2013

Dunia di Kepala Kakek

Kakek pernah bercerita bahwa dunia diletakkan di atas seekor mahluk serupa kura-kura. “Tapi,”tegasnya kakek lagi,”Jangan pernah membayangkan dia seperti kura-kura biasa. Dia bertaring panjang seperti seekor singa laut, kaki-kakinya sangat mirip dengan kaki burung, karena itu dunia bergerak dengan cepat. Siang berganti malam hanya dalam hitungan bukan hari, minggu, atau bulan.”

Aku mengingat sebuah gambar tua. Seorang lelaki bernama Atlas memanggul bola dunia di atas bahunya yang kekar.  Pernyataan kakek ingin aku tentang berdasarkan gambaran yang terlintas di kepalaku itu. Tapi dia adalah kakekku. Tak seorang pun bisa membantah perkataannya. Dia bekas tentara. Sering sekali dia menceritakan bagaimana suasana di medan perang kemerdekaan. Tentu saja dengan gaya bicara yang berapi-api agar kami yang terpaksa mendengarkan (karena kakek sudah sering menceritakannya) turut merasakan semangat tempurnya ketika menembaki musuh.

“Kau tahu, di ekor mahluk yang seperti kura-kura itu, ada wajah yang sangat sayu.” Tambahnya lagi. “Wajah?” Aku heran mendengarnya, dan kepadanya aku tanyakan, “Apakah berarti mahluk itu punya dua kepala atau dua muka?” Kakek tertawa terkekeh. “Bukan. Bukan seperti itu. Itu hanya gambaran imajinatif tentang kenangan. Wajah itu milik seorang dewi. Tepatnya Dewi Kesuburan. Karena dunia ini dimulai dengan kesuburan pepohonan dan tetumbuhan.”

Aku masih tidak paham, bagaimana mungkin wajah seorang dewi berada pada ekor mahluk seperti kura-kura itu, tapi aku malas untuk mendebat ucapan kakekku. Kepalaku manggut-manggut saja seolah mengerti perkataannya. Mata kakek menatap tajam kepadaku. “Kau pasti tidak mengerti apa yang aku katakan, bukan?”

“Baiklah, akan aku ceritakan bagaimana sebenarnya kejadiannya. Ketika Tuhan telah menciptakan dunia ini. Tuhan ingin semuanya teratur dan dalam pengawasannya. Maka dipanggillah mahluk-mahluk yang telah diciptakan sebelum tumbuhan, hewan, dan manusia. Mahluk yang berukuran sangat besar dan tinggal dalam kegelapan luar angkasa. Tentu saja tak seorang pun bisa melihatnya karena mereka tersembunyi dan juga tak kasat mata. Dan datanglah mereka, ada empat mahluk yang mendengar permintaan Tuhan, dua mahluk yang mirip manusia, tetapi punya sifat yang bertolak belakang. Yang satu suka dengan kegembiraan, di pundaknya ada binatang mirip singa tetapi selalu tertawa. Yang satu lagi sangat suka dengan kekerasan, kekejaman, dan kemarahan. Di dekat dadanya ada seekor binatang mirip seekor naga. Ketika Tuhan meminta salah satu dari mereka untuk membawa dunia ini, mereka segera berulah. Yang membawa singa tertawa terbahak-bahak dan mengatakan permintaan Tuhan itu sangat mustahil dilakukan. Yang membawa naga bersungut-sungut dan mengatakan permintaan Tuhan itu lebih berat dari tugasnya yang menghasut manusia untuk berbuat jahat.”

“Aku tahu satu mahluk lainnya adalah kura-kura itu. Benar ‘kan, Kek?” Aku memotong pembicaraan kakek agar ceritanya tentang dunia yang diangkut kura-kura ini segera berakhir. Lagi-lagi kakek menatapku tajam. Rupanya dia tidak senang disela begitu rupa.
“Kalau kau tak mau mendengarkan. Baiklah. Pergilah kau bermain!” Tukasnya.

Mendengar nada bicaranya yang meninggi, aku tentu saja tidak ingin mengecewakannya. Lagi pula, malam-malam begini, mana mungkin aku pergi ke luar rumah dan bermain-main? Maka kupasang tampang memelas agar Kakek mau melanjutkan ceritanya ini.

“Satu mahluk lainnya adalah seperti seorang perempuan. Dia berambut panjang dan suka sekali bersolek. Sepasang kakinya mirip dengan kaki naga yang ada di pundak Kemarahan. Dan yang paling mencengangkan adalah payudaranya yang jumlahnya sampai puluhan. Mahluk itulah yang banyak dikatakan orang sebagai Ibu Bumi. Dia tidak menyanggupi permintaan Tuhan karena tubuhnya lebih kecil dari yang lain. Lagipula, jika dia memanggul dunia ini, tentu tak ada waktu baginya untuk bersolek dan melihat wajahnya pada sebuah cermin yang selalu ada di tangannya.”

Sampai di sini, kakek kembali melihat padaku. Memperhatikan apakah aku kembali bosan mendengarkannya bercerita atau malah bersemangat. Nampaknya, aku mulai dirasuki imajinasi dalam cerita kakek. Aku menikmati apa yang digambarkan olehnya dalam cerita itu. Yang tak terbayang olehku adalah dari mana kakek mendapatkan cerita semacam ini. Cerita yang tak pernah kubaca di kitab-kitab suci. Melihat aku mulai tenang, kakek pun melanjutkan ceritanya,”Tinggallah mahluk yang seperti kura-kura itu. Melihat punggungnya yang kuat dan keras, Tuhan tanpa berkata lagi meletakkan dunia di atas punggung mahluk itu.”

“Jadi, begitu saja ceritanya?”
Aku memberanikan diri bertanya kembali karena kakek terdiam seolah cerita yang ingin disampaikannya sudah selesai.

“Ceritanya justru baru dimulai. Karena dunia diletakkan di atas punggung mahluk seperti kura-kura itu, maka terjadilah keributan dari tiga mahluk yang tadinya tidak mau membawa dunia itu. Mereka ternyata minta bagian dari tugas yang diberikan Tuhan. Akhirnya, Tuhan memberikan mereka tugas. Kegembiraan diminta memandu jalannya mahluk kura-kura, Kemarahan berjaga di belakang, agar dunia tidak oleng atau jatuh dari punggung mahluk kura-kura itu. Dan Ibu Bumi bertengger di ada dunia ini mengawasi jalannya dunia ini. Karena itu dalam hidup kita kita harus selalu mengutamakan kegembiraan dalam menjalani hari-hari. Kita boleh marah terhadap diri kita jika kita gagal. Dan kita harus selalu menjaga hidup kita agar segalanya bertumbuh, berbuah, dan berkembang. Bertumbuh cita-cita kita, berbuah segala apa yang kita perbuat, dan indah dilihat semua orang. Juga, kita harus selalu hati-hati dan waspada. Berjalan dengan penuh perhitungan, dan bisa menyiasati bahaya seperti kura-kura masuk dalam tempurungnya, dan tetaplah mengenangkan hal-hal yang subur. Hal-hal yang membuat kita selalu berpikiran positif.”

Kali ini aku manggut-manggut karena mengerti. Ternyata apa yang diceritakan kakek adalah sebuah nasehat yang sangat berharga meskipun dibungkus dengan cerita yang sangat aneh bagiku. Seulas senyum terkembang di bibirku. Cerita yang aneh tetapi punya pesan cerita yang bagus.

“Bagaimana dengan manusia, Kek? Apakah Kakek punya cerita tentang asal muasal manusia?” Aku penasaran.

“Hahaha. Kau tahu bahwa manusia turun ke dunia ini karena dikutuk, bukan? Baiklah aku ceritakan bahwa ketika manusia diturunkan ke dunia itu, dia terjun bebas sehingga mendarat di dunia ini dengan kepala di bawah dan kaki di atas.”

“Ha? Bagaimana bisa, Kek?”

“Tuhan sengaja membuatnya demikian. Agar manusia tidak sombong kepadaNya. Terlebih, agar manusia tahu bahwa jika dalam keadaan terjungkir seperti itu, maka dia merasa batas dari dirinya dan segala kenikmatan yang bisa diraihnya adalah kematian.”

Jakarta, 1 Oktober 2013

Labels: ,

Tuesday, August 13, 2013

Hari Ulang Tahun Seseorang



Hari ini, aku berada di kebun belakang sebuah rumah mewah. Mungkin karena tergesa, atau sisa mabuk semalam, aku tak ingat mengapa pada siang hari seperti ini aku sudah duduk dengan kikuk pada bangku lipat berwarna merah tua. Sepasang kakiku mengenakan sepatu kulit cokelat muda, dan celana hampir senada. Di atas kemeja putih yang kupakai, seseorang atau mungkin aku yang tak sadar tadi pagi, terdapat sweater yang didominasi warna putih tetapi dengan motif kotak-kotak cokelat tua. Seperti sweater yang dulu pernah dihadiahkan untukku dari seseorang teman yang habis jalan-jalan ke luar negeri. Entah Eropa atau Amerika. Rasanya aku mulai susah sekali mengingat segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Jangankan yang dulu-dulu, siang ini juga aku tak mengerti mengapa aku berada di kebun belakang sambil duduk dengan kikuk pada bangku lipat merah tua.

Dalam kebingungan, aku mencoba memraktikkan apa yang disebut sebagai ilmu pengamatan lingkungan. Aku melihat ke segala arah, apa yang ada di sana, apa yang tengah terjadi, dan beberapa orang yang lalu lalang di kebun belakang ini. Perlahan aku mulai mengerti bahwa di kebun belakang ini tengah disiapkan sebuah pesta. Di beberapa bagian kebun telah ditata makanan di atas meja-meja panjang. Pada bagian belakang ada beberapa lampu dan pengeras suara. Di dekat kolam renang, ada sebuah panggung kecil dengan latar belakang papan yang dihiasi dengan gambar-gambar dan juga tulisan “Selamat Ulang Tahun” yang menandakan bahwa pesta di kebun belakang ini adalah pesta ulang tahun. Jadi, aku berada di sini sebagai tamu undangan pesta ulang tahun seseorang. Pertanyaannya, siapakah yang berulang tahun itu, apakah dia punya hubungan denganku, atau yang paling penting adalah siapa yang telah membawaku ke sini? Semua pertanyaan itu harus segera dijawab sebelum tempat ini mulai ramai. Paling tidak agar aku bisa menyesuaikan diri dan membaur dengan para tamu undangan lainnya.

Mungkin, seseorang dari tamu itu akan menanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku tadi. Semisal apa hubunganku dengan orang yang berulangtahun. Atau bisa lebih detail lagi seperti menanyakan kapan pertama kali berjumpa atau dalam kesempatan apa aku pernah bertemu dengan dia. Ini yang harus segera aku temukan jawabannya. Maka aku putuskan untuk bangkit dari dudukku. Yang kutuju adalah bagian belakang rumah di seberang kolam renang yang tengah ditebari bola berwarna-warni. Mungkin supaya kelihatan semakin semarak pesta kebun itu. Belum lama aku berjalan, seseorang segera menggamit lenganku.

“Mau ke mana, Pak?”

Aku segera menoleh padanya, seorang perempuan dengan senyum yang manis. Rambutnya hitam legam dan wangi. Matanya mengingatkan aku pada seseorang yang sudah lama sekali berada dalam pikiranku.

“Ranti?”

Tiba-tiba saja aku bisa mengingat nama seseorang yang baru saja berkelebat dalam benakku setelah aku melihat matanya.

“Bukan, Pak. Aku Dewi, putrinya.”

Putrinya? Kenapa selama ini dia tidak pernah bercerita jika sudah punya anak? Dia menikah dengan siapa? Dalam hati aku merutuk karena di siang hari yang tidak terik dan dipenuhi beraneka warna di kebun belakang ini aku justru dibekap dengan beragam pertanyaan yang memintaku untuk bisa segera mendapatkan jawabannya.

Setelah mengatur nafas, aku memberi isyarat padanya untuk ikut bersamaku kembali ke jajaran bangku lipat merah tua itu. Dia mengangguk dan seperti seorang anak yang baik, dia menggamit lenganku dan membimbingku ke sana.

“Kalau boleh aku tahu, siapa yang membawaku ke mari?” Ini sebenarnya bukan pertanyaan pertama yang harus aku temukan jawabannya dari deretan pertanyaan yang aku punya, tapi ini akan memberiku banyak lubang cahaya pada kegelapan yang menyelimuti pikiranku.
Namun aku heran, mengapa dia tersenyum mendengar pertanyaanku itu. Sepertinya pertanyaanku adalah sebuah lelucon.

“Bapak. Tadi pagi, bapak itu bangun sangat pagi. Lalu mandi dan berpakaian rapi. Dan karena Bapak bilang bahwa hari ini Bapak harus menghadiri pesta ulang tahun Ibu, maka Bapak sama Mas Sasongko, dibawa ke sini.”

“Sebentar. Sebentar. Ibu siapa yang berulangtahun?” Itu pertanyaan pertama dalam daftar pertanyaanku, hanya sudah diberi panduan bahwa yang berulangtahun itu adalah seorang perempuan. Yang disebut Ibu olehnya.

“Ibu Miranti. Ibu saya.”

Miranti? Nah, kebetulan! Aku bisa tanyakan padanya sekarang apa hubunganku dengan yang berulangtahun itu. Lalu di mana dia?

“Ibu sudah lama meninggal. Lima tahun yang lalu. Bapak lupa? Ah. Pasti Bapak mulai pikun.” Dia bercerita dengan datar, tadinya, tapi lama-lama mukanya berubah ceria. Lalu dia berkata lagi, “Bapak tahu, Mas Sasongko sering bilang pada saya, bahwa dia ingin sekali seperti Bapak. Meskipun Ibu sudah lama meninggal, cinta Bapak terhadap Ibu tetap menyala. Buktinya, sepanjang lima tahun ini, Bapak tidak pernah putus menggelar perayaan ulang tahun Ibu!”

Jadi? Miranti adalah istriku dan Dewi yang tengah berbicara padaku adalah anakku? Mengapa aku bisa lupa semua ini dalam waktu semalam saja? Apa yang terjadi semalam denganku? Lagi. Semakin banyak pertanyaan masuk ke dalam pikiranku. Tapi aku tak mau seperti tadi, berusaha mencari jawabannya dengan segera. Aku memutuskan untuk tidak merusak hari ulang tahun seseorang dengan membuka rahasia bahwa aku sudah mulai lupa pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Aku kembali memraktikkan ilmu pengamatan lingkungan dengan memandang panggung kecil di seberang kolam renang. Tapi cahaya matahari yang memantul dari permukaan air membuat mataku terasa sangat silau, dan tiba-tiba membuat air mataku jatuh.

Dewi segera mengeluarkan tisu dari tasnya lalu mengusap pipi dan kelopak mataku, sambil berujar, ”Ibu pasti bahagia di sana melihat Bapak masih mencintainya dengan sangat.”

Lagi-lagi dia tersenyum memandangku.

Jakarta, 14 Agustus 2013

Labels: ,

Monday, June 10, 2013

Seseorang yang Kutemukan dalam Hujan

“Hujan sialan!” Aku merutuk kecil. Melepas jaketku dan mengibas-ngibaskannya karena basah. Mataku menangkap seseorang berdiri dengan canggung di bawah naungan atap halte bus itu. Rambut, bahu bajunya juga basah. Dia mungkin sama dengan aku, berhenti berjalan karena hujan turun tiba-tiba. Aku tak hendak berkenalan, meskipun dalam pikiranku menemukan beberapa nama seperti Sri, Ajeng, atau Galuh.

Tiba-tiba saja, ada pertanyaan yang menggoda untuk aku sampaikan padanya,”Kau juga membenci hujan?” Dia tersenyum dan mengangguk seolah mengiyakan. Hingga pertanyaan lain menggelincir begitu saja,”Kenapa?”

“Hujan memperlambat sebuah janji temu,” jawabnya cepat. Seolah hal itu adalah sebuah kesimpulan dari serangkaian cerita yang ingin dia sampaikan. Dalam pikiranku merangkai cerita sendiri. Gadis ini, entah Sri, Ajeng, atau Galuh namanya, sedang menuju sebuah tempat yang telah disepakati olehnya dan teman atau kekasihnya yang jaraknya tidak jauh dari sini sehingga dia berjalan kaki dan terpaksa dia hentikan karena hujan tiba-tiba datang.

“Sepertinya hujan akan membatalkan sebuah cerita.” Aku seperti dipaksa untuk bercerita karena jawabannya yang pendek tadi. Lalu aku mengatakan bahwa seharusnya malam ini aku berada di suatu perhelatan sastra di mana aku akan menjadi moderator dalam diskusi buku kumpulan cerpen berjudul “Gerimis Anjing.”

“Gerimis Anjing?” Tanyanya dengan alis terangkat. Pastinya dia terkejut dengan judul buku kumpulan cerpen itu tadi.

“Ya. Gerimis Anjing. Sebuah buku kumpulan cerpen karya seseorang yang tidak perlu disebut-sebut. Karena dia tidaklah setenar Kurnia Effendi atau Triyanto Triwikromo, penulis-penulis cerpen yang karyanya bisa dengan mudah kita temukan setiap minggu di surat kabar.”

Dia hanya tersenyum. Aku tahu dari ekspresinya, dia tidak tahu apa yang kubicarakan.

“Maaf, aku terlalu banyak mengoceh.”

“Tak apa.”  Lagi-lagi jawabnya lebih singkat dari gemuruh di langit setelah kilat menyambar.

Aku mengeluarkan telepon genggam dari saku celana.

“Tak baik menelepon saat hujan lebat,” katanya mencegah. Sepertinya dia tahu apa yang akan aku lakukan.

“Kenapa?”

“Telepon genggam memancarkan gelombang elektromagnetik yang bisa menarik energi lainnya seperti listrik. Bisa-bisa kamu tersambar petir, nanti.”

“Itu ilmiah? Bisa dipertanggungjawabkan?” Tanyaku sambil memasukkan kembali telepon genggamku dengan ragu ke saku celana. “Bagaimana dengan mengirim pesan pendek? Apakah bisa tersambar petir juga?”

Dia mengangkat bahu. Aku rasa dia tidak paham juga dengan apa yang barusan diucapkannya kepadaku. Atau informasi yang dia terima masih sepotong-sepotong.

“Aku ingin memberitahukan bahwa aku tidak bisa datang tepat waktu,” kataku.

Dia menunjuk sebuah taksi yang kelihatan melaju di kejauhan. “Kau bisa naik taksi.”

“Lalu bagaimana dengan kamu?” Tanyaku.

“Aku akan menunggu hujan reda saja. Tempat janji temuku tak jauh dari sini.”

Aku terdiam. Menghitung dalam hati berapa sisa uang di dompetku. Apakah uang itu cukup untuk ongkos taksi menuju tempat perhelatan sastra di daerah Bulungan itu atau tidak. Sebenarnya aku berniat untuk jalan kaki ke arah perempatan lalu dari sana aku akan naik metromini ke arah Bulungan. Cukup dengan uang dua ribu rupiah. Kalau aku memutuskan naik taksi, bisa keluar ongkos tak kurang dari dua puluh ribu. Apalagi hujan begini, jalanan pasti macet.

“Ah. Aku rasa telat sedikit tak mengapa.”

“Apakah aku harus merasa keberatan dengan hal itu?” Tanyanya.

Ya. Halte ini tempat siapa saja menunggu angkutan umum. Siapa saja bisa bernaung menghindari hujan di sini. Termasuk aku, dan Sri, atau Ajeng, atau Galuh ini. Entahlah siapa namanya. Aku tak hendak berkenalan dengannya. Bukan lantaran menurutku dia tidak cantik atau terlalu kurus, atau karena apa pun. Aku memang tidak sedang ingin berkenalan dengan seseorang. Siapapun dia.

“Apakah kau juga membenci hujan?” Dia tiba-tiba menanyakan yang tadi kutanyakan kepadanya.

Aku berusaha mengingat dengan baik larik-larik sajak Sapardi, atau siapa saja tentang hujan. Tapi tak ada yang kuingat selain sebuah peristiwa tentang seseorang yang menangis. Dengan seorang bayi yang diselimuti dan didekap erat, dia menenteng sebuah koper besar. Tepatnya menyeret koper itu. Sebuah rumah besar berwarna putih terlihat terang ketika petir menyambar. Suara seorang pria berkumis bercampur dengan bunyi guruh. Entah apa yang dia katakan. Tapi yang jelas membuat perempuan dengan bayi di gendongannya itu semakin deras airmatanya.

Rasanya sejak itu, aku membenci apapun yang berkaitan dengan hujan. Termasuk seseorang yang kutemukan dalam hujan. Seperti Sri, Ajeng, atau Galuh yang sedang menunggu hujan reda di dalam halte bus ini.

Tiba-tiba kulihat awan gelap seperti menyisih. Hujan berubah jadi gerimis yang tidak kencang. Segerombolan burung terbang dari pepohonan. Aku memakai kembali jaketku.

“Hujan hampir reda. Aku pergi dulu ya.” Kataku dengan nada yang kuinginkan keluar dari bibirku begitu sopan. Seperti seorang anak pamit bermain kepada ibunya.


Jakarta, Juni 2013

Labels: ,

Tuesday, October 04, 2011

Wabah Rasa Takut

Mulanya, rasa takut itu dirasakan oleh Guru Rakhim saat beliau hendak melakukan salat subuh di musala yang tak jauh dari rumahnya. Beliau merasa ada sesosok mahluk tinggi besar yang mengawasi gerak-geriknya mulai ketika beliau melepas sandal, mengambil air wudu, dan melakukan salat serta berzikir.

Guru Rakhim merasakan ada suara nafas yang sekilas namun tegas pada tengkuknya. Hal itu menandakan bahwa ada sosok lain selain dirinya yang berada di musala itu. Beliau mendadak merasa waswas barangkali inilah saat malaikat maut datang untuk menjemput nyawanya. Namun, ada pikiran juga bahwa sosok yang dirasakan kehadirannya dengan suara nafas yang tegas ditengkuknya itu hanyalah mahluk halus yang biasa disebut lelembut belaka.

Guru Rakhim menghentikan zikir dan memberanikan diri bertanya pada sosok yang tak hendak ditengok dengan memutar kepala ke samping, kuatir beliau mendadak kaget melihat perwujudannya. Sebab dari cerita-cerita orang, perwujudan lelembut itu bermacam-macam, dan kebanyakan yang dilihat orang adalah perwujudan yang menyeramkan.

“Salam. Kalau boleh saya tahu siapakah Anda yang mengikuti semua gerak-gerik saya selama di musala ini?”

Yang ditanya tidak segera menjawab, namun sekali lagi Guru Rakhim merasakan suara nafas yang tegas pada tengkuknya. Setelah itu, barulah Guru Rakhim merasa ada suara seseorang yang langsung masuk ke dalam alam pikirannya. Guru Rakhim mendapatkan banyak perkataan yang tak beliau dengar dengan kedua telinganya, melainkan beliau sangat bisa memahami semua itu. Perkataan-perkataan sosok itu membuat ketakutan yang sangat pada hati Guru Rakhim. Dan karena ketakutan itu, buru-buru Guru Rakhim meninggalkan musala itu dengan berlari untuk sampai ke rumahnya.

Nyi Mirah Ati, istri Guru Rakhim mendapatkan cerita itu sepulang Guru Rakhim pulang dari musala. Sepanjang Nyi Guru mengenal Guru Rakhim, beliau adalah orang yang jujur. Oleh karena itu Nyi Mirah Ati percaya bahwa Guru Rakhim memang benar-benar bertemu dengan sosok yang suara nafasnya terdengar tegas di tengkuk beliau. Demikian pula dengan perkataan-perkataan sosok itu yang telah merasuk ke pikiran Guru Rakhim. Bahkan tidak hanya itu, Nyi Mirah Ati pun bisa merasakan kehadiran sosok yang dimaksud oleh Guru Rakhim ketika mereka sedang memperbincangkan peristiwa yang dialami oleh Guru Rakhim di subuh itu. Demikian juga Nyi Mirah Ati bisa merasakan rasa takut yang sama seperti yang dialami oleh Guru Rakhim ketika mendengar perkataan-perkataan sosok bernafas tegas itu.

“Ada baiknya, kita pergi ke Kyai Musaba, guru kita itu, Suamiku. Sebab perkara ketakutan yang kita rasakan itu belum pernah kita rasakan sebelumnya. Mungkin Kanjeng Kiyai bisa menjelaskan mengapa ada rasa takut yang timbul saat apa yang dikatakan oleh sosok itu kita resapi. Kita juga harus memastikan apakah sosok itu berasal dari kebaikan atau kejahatan. Sebab apabila dari kejahatan, maka sudah sepantasnya kita tak perlu merasa takut!” Demikianlah Nyi Mirah Ati mengusulkan agar mereka mencari tahu hal-hal yang berkenaan dengan sosok itu serta perkataannya yang membuat mereka berdua merasa takut. Bahkan sangat takut.

Kyai Musaba mendengarkan dengan sangat seksama cerita Guru Rakhim, sebab menurut beliau cerita semacam ini harus dicermati karena apabila salah tanggap akan dianggap lelucon belaka bahkan mengada-ada. Sebab mirip sekali dengan peristiwa yang hanya dialami oleh Kanjeng Nabi dulu kala.

“Begitu sosok itu berkata, ada perasaan yang tiba-tiba menghujam dada saya, Kyai. Perasaan seperti saya akan mendapatkan kesakitan yang luar biasa. Kesakitan yang lebih sakit dari sayatan pedang atau bahkan saat nyawa sedang diregang.” Guru Rakhim menjelaskan perasaan beliau ketika beliau mendengarkan perkataan dari sosok yang hanya dapat dirasakan melalui suara nafas yang tegas di tengkuknya itu.

“Perkataan seperti apa yang dia katakan, Rakhim?” Kyai Musaba menyela, ”Tanpa mengetahui perkataannya, rasanya sulit sekali bagiku untuk menelusuri apakah sosok itu dari kebaikan atau kejahatan.”

Maka Guru Rakhim meneruskan ceritanya dengan mengungkapkan kata-kata yang tidak dia dengar melainkan seperti langsung masuk ke dalam pikirannya itu. Demi mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut Guru Rakhim, tiba-tiba wajah Kyai Musaba memucat. Matanya mendelik seolah beliau melihat sesuatu yang sangat mengerikan tengah terjadi. Tangannya memegang dada yang tiba-tiba merasa kesesakan. Bersamaan itu pula, di tengkuknya terasa ada nafas yang tegas dan teramat dekat. Sosok yang dibicarakan Guru Rakhim dan Nyi Mirah Ati nampaknya turut serta dalam perbincangan itu.

Begitu Guru Rakhim selesai bercerita, nafas Kyai Musaba tersengal-sengal. Segera saja tangannya mengambil cangkir dan menghabiskan teh yang sudah agak dingin.

”Rakhim, apa yang dikatakan oleh mahluk itu adalah keadaan yang sesungguhnya dari apa yang kita lihat sehari-hari dan juga yang telah dinyatakan oleh orang-orang sebelum kita. Orang-orang yang hidupnya dekat dengan Tuhan. Oleh sebab itu, bisa aku pastikan yang kau temui itu mahluk kebaikan dan datang untuk kebaikan kita semua.”

Guru Rakhim terdiam mendengar Kyai Musaba berkata demikian. Tiba-tiba di pikiran beliau berkecamuk: bagaimana jika pesan-pesan dari sosok nir suara itu disebarluaskan ke masyarakat.

Seperti telah mengetahui pikiran dari Guru Rakhim, Kyai Musaba tiba-tiba berkata, ”Ada baiknya memang pesan-pesan ini diketahui oleh banyak orang. Sebab ketakutan yang kita rasakan dan kehadiran sosok yang sepertinya mengawasi dengan ketat gerak-gerik kita ini akan membuat orang berbuat baik.”

Begitulah ceritanya, hingga pesan-pesan yang menimbulkan ketakutan itu disebarluaskan kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal Guru Rakhim dan Kyai Musaba. Demi mendengar pesan-pesan itu, setiap orang merasakan ketakutan yang luar biasa dan merasakan hadirnya sosok yang sepertinya mengawasi gerak-gerik mereka setiap saat. Dan seperti diharapkan, maka perubahan pada sikap orang-orang pun berubah. Mereka menjadi sangat ramah terhadap sesiapa saja. Saling membantu dan mau bergotong-royong dalam kegiatan kebersihan, penanggulangan bencana, atau membantu orang-orang yang lemah dan miskin, yang merupakan hal-hal yang sudah lama menghilang dari kebiasaan.

Anak-anak yang biasanya nakal, suka mencemooh bahkan suka membolos dari pengajian pun kini menjadi anak-anak yang manis dan sopan. Mereka sungguh sangat ketakutan karena banyak yang mengabarkan secara berlebihan apabila mereka berbuat tidak baik maka sosok yang dirasa dari suara nafas di tengkuk itu akan menjemput paksa mereka ketika tidur.

Demikianlah, orang-orang pun hidup berdampingan dengan rasa takut itu. Rasa takut itu telah menjadi senjata yang ampuh untuk menjadikan orang-orang hidup dengan baik. Kyai Musaba dan Guru Rakhim merasa bahwa keinginan mereka untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan rasa kehadiran akan sosok kebaikan itu telah berhasil menemu tujuannya: Orang-orang hidup dengan sikap yang sangat baik dan penuh kebaikan.

Hanya saja, Sanggah, seorang pemuda yang baru tiba dari kota merasa hal semacam itu hanyalah sesuatu yang dibesar-besarkan. ”Bukankah kita juga pernah diwejangi soal Neraka, tempat gelap, panas, penuh ratapan dan tangisan itu? Tetapi coba lihat, berapa banyak orang yang benar-benar menjalankan agamanya dengan baik?”

”Jangan berkata begitu, Sanggah.” Muridi menimpali,”Mungkin orang-orang dulu itu belum tahu bahwa kita memang benar-benar diawasi oleh sosok kebaikan yang tak kelihatan, yang hanya dapat dirasakan kehadirannya dengan suara nafas yang tegas di tengkuk kita itu.”

”Lho. Bukankah dulu juga kita sering diberi nasehat bahwa kanan-kiri kita ada malaikat yang mencatat semua amal perbuatan kita? Tapi buktinya, tetap saja ada orang mencuri, membunuh, memperkosa, bahkan korupsi!” Lagi-lagi Sanggah menyatakan ketidakpercayaannya pada pesan-pesan gaib yang disebarluaskan.

”Mungkin kamu belum merasakan kehadiran sosok itu, Sanggah!” Celetuk yang lain, ”Kau belum pernah merasakan ketakutan yang kami rasakan setelah mendengar pesan-pesan gaib itu.”

Maka Sanggah memutuskan untuk menemui sendiri Guru Rakhim. Dia begitu ingin tahu ketakutan seperti apa yang membuat orang-orang itu menjadi sangat baik sikapnya. Setelah dipersilakan masuk dan duduk, Sanggah memperhatikan setiap gerak-gerik Guru Rakhim dengan seksama.

”Sebenarnya, apa yang ingin Anda ketahui dari saya? ” Guru Rakhim langsung bertanya pada pokok persoalan yang membuat Sanggah berkunjung ke rumah beliau.

”Begini, Guru Rakhim, saya sudah banyak mendengar kabar dan pesan-pesan yang konon disebarkan oleh Guru dan Kyai Musaba di daerah ini. Kabar tentang sesosok mahluk gaib yang mengawasi tindak-tanduk kita, juga pesan-pesan yang disampaikan olehnya tanpa suara,” Sanggah melanjutkan mengutarakan maksud kedatangannya,” Yang ingin saya tanyakan adalah apakah mereka benar-benar mengalami ketakutan dan kehadiran sosok tersebut ketika mendengar cerita dari Guru Rakhim dan Kyai Musaba? Atau mereka hanya takut kepada Guru Rakhim dan Kyai Musaba saja?”

Guru Rakhim berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Sanggah. Jemarinya terus bergerak menghitung butiran tasbih, tanda sedang berzikir. Mata beliau tampak menerawang, seolah-olah ada sesuatu yang teramat berat di dalam pikirannya. Pelan-pelan, Sanggah melihat mata beliau semakin membelalak. Seolah-olah ada sesuatu yang amat mengejutkannya. Mulut beliau mendadak menganga.

Sanggah mengira Guru Rakhim tengah memberi contoh begitulah beliau dan Kyai Musaba mengalami ketakutan yang teramat mencekam. Begitu pula dengan orang-orang yang mendengar cerita beliau berdua. Namun Guru Rakhim tidak berhenti menunjukkan ekspresi ketakutan itu. Beliau juga tidak mengeluarkan suara sepatah kata juga.

Sanggah menghampiri Guru Rakhim dan memegang lututnya, sedikit mengguncangkan, bermaksud agar Guru Rakhim tersadar dari keadaan itu. Tapi Guru Rakhim tidak bergeming.

Sontak, Sanggah berteriak memanggil Nyi Mirah Ati agar segera datang ke ruang tamu dan menyadarkan Guru Rakhim. Nyi Mirah Ati tergopoh-gopoh dan mengguncangkan tubuh Guru Rakhim. Yang diguncang-guncang itu tetap diam terpaku dengan mata melotot dan mulut ternganga. Ruang tamu itu segera dipenuhi suara tangis yang menyayat.

Sanggah yang kebingungan, segera berlari meninggalkan rumah Guru Rakhim untuk mengabarkan keadaan Guru Rakhim kepada orang-orang di kampung. Siang itu, setelah kabar Sanggah tersiar, berduyun-duyun orang datang ke rumah Guru Rakhim untuk melihat Guru Rakhim yang terdiam dalam keadaan seperti orang dilanda ketakutan yang akut.

Melihat keadaan Guru Rakhim, semua orang semakin bertambah rasa takutnya. Mereka semakin percaya bahwa apa yang dikatakan Guru Rakhim tentang sosok gaib dan pesan-pesan tanpa suara itu adalah suatu kebenaran. Kyai Musaba pun diundang, barangkali sebagai guru dari Guru Rakhim, Kyai Musaba bisa menyembuhkan Guru Rakhim.

Demi melihat keadaan Guru Rakhim, Kyai Musaba pun bertambah rasa takutnya. ”Ini jelas rasa takut yang luar biasa yang dirasakan oleh Guru Rakhim. Saya tidak mungkin dapat menyadarkannya.” Jelas Kyai Musaba.

Tangan Kyai Musaba terulur pada dada Guru Rakhim. Rupanya, Kyai Musaba masih mendapatkan degup jantung Guru Rakhim sehingga tak berapa lama kemudian Kyai Musaba menghembuskan nafas keras, menandakan kelegaan bahwa Guru Rakhim masih bernyawa.

Setelah lama dalam kondisi demikian, Guru Rakhim pun mengedipkan kelopak matanya. Orang-orang berseru gembira, lalu ramai pertanyaan dilontarkan kepada beliau.

“Apa yang Guru Rakhim rasakan? Adakah penglihatan atau pesan gaib lainnya?”

Guru Rakhim berbicara dengan pelan, hampir tak terdengar, setelah mengatur nafasnya.

“Ada lagi yang harus aku ajarkan kepada kalian semua. Rasa takut yang lain. Yang lebih dahsyat dari apa yang kalian rasakan kemarin-kemarin.”

Guru Rakhim berhenti bicara, dan mengambil sikap seperti bersemadi. Orang-orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tak berapa lama, orang-orang berteriak menyebut-nyebut nama Tuhan dan menghambur berlarian. Terdengar pula jeritan Nyi Mirah Ati dan Kyai Musaba. Tubuh Guru Rakhim meledak tak berapa lama beliau mengambil sikap bersemadi. Serpihan-serpihan tubuh beliau yang hancur terlontar ke berbagai arah.

Jakarta, September 2011.

Labels: ,

Thursday, September 22, 2011

Pohon di Tengah Alun-Alun

Dia baru bisa membaca saat pertama kali diajak bersepeda - tepatnya dibonceng - ibunya saat mengetahui ada keganjilan dari apa yang dia lihat di alun-alun kota. Ada sebatang pohon asam gelugur tua, bukan beringin, tumbuh di tengah alun-alun itu. Padahal menurut cerita-cerita yang sering dilontarkan bibir ibunya, adalah pohon beringin yang biasanya ditanam sebagai lambang pengayoman kepala daerah kepada rakyatnya. Cabang-cabangnya yang rindang membentuk kanopi yang sangat teduh. Di antara dahan dan rantingnya yang rimbun, puluhan burung tekukur dan perkutut membuat sarang.

Dia mencoba mengeja nama latin dari pohon asam gelugur itu. Sebuah nama yang terasa sangat ganjil bagi lidahnya yang terbiasa dengan logat kental tanah kelahirannya. “Tam..mar..rindus in..di..ca,” Ejanya. Ibunya hanya bisa tersenyum. Bangga karena anak berumur empat tahun itu bisa membaca dengan cukup lancar.

Dia memandang ibunya dengan mata sedikit berbinar. Ibunya tahu, sekejap lagi anaknya itu pasti akan bertanya sesuatu. Dan benar saja, tak lama kemudian dari mulutnya yang kecil meluncurlah sebuah pertanyaan yang ibunya sendiri tidak tahu jawabannya. “Apa artinya itu, Bu?”

+++

Dia baru tahu bertahun-tahun kemudian bahwa nama latin Tamarindus indica berasal dari beragam bahasa. Tamarindus berasal dari bahasa Arab: Tamr Hindi, yang berarti kurma dari India. Tapi dia tidak mengerti mengapa disebut sebagai kurma, sebab buah dari pohon itu berasa asam sehingga di tanah kelahirannya disebut sebagai pohon dan buah asam, bukan kurma.

Dia juga belum mengerti mengapa di alun-alun kotanya itu bukan beringin yang ditanam di tengah-tengahnya melainkan pohon asam gelugur itu. Padahal pohon itu tidaklah terlalu rindang, dan cabang serta rantingnya mudah sekali patah. Tapi dia tahu, ibunya sering sekali membuat minuman dengan bahan dasar buah asam yang sudah sangat masak. Minuman yang segar itu bernama serbat. Enak diminum ketika cuaca sangat terik. Daun mudanya juga bisa dibuat minuman dengan mencampurnya dengan bahan-bahan lain seperti kunyit, juga bisa sebagai obat batuk dan demam. Karena itu, beberapa kali ibunya mengajak ke alun-alun itu sekedar mengambil buah yang jatuh, memetik daun muda, dan mengelupas kulit kayunya.

+++

Sesekali, dia melihat pada kedua mata ibunya itu merebak air mata. Dan sesaat kemudian, kadang kala, raut yang tampak sedih itu bisa berubah menjadi wajah yang penuh amarah. Dia tidak pernah mau menanyakannya, sebab jika dia bertanya bisa-bisa menambah tekanan perasaan pada ibunya. Dia tak mau itu terjadi.

Untuk mengubahkan suasana hati ibunya itu, dia kadang segera menyibukkan diri mencari jangkrik pada rerumputan di sekitar kaki pohon yang besar itu. Lalu dengan riangnya, disorongkan jangkrik yang tertangkap itu sambil berceloteh akan dikumpulkan sebanyak-banyaknya jangkrik untuk makanan burung-burung peliharaan kakek.

Selain dia, laki-laki yang ada di rumah adalah kakeknya. Kakek yang pendiam dan selalu sibuk dengan burung-burung peliharaannya. Beberapa hari dalam seminggu, kakek pergi mengikuti kontes burung berkicau. Sebenarnya dia juga ingin menangkapi burung-burung yang bersarang di pohon itu, tetapi tak satu pun burung di pohon tersebut menyerupai burung-burung yang ada dalam sangkar-sangkar milik kakeknya.

Kakek jarang sekali berbicara dengan ibu maupun dirinya. Ibu pernah bilang bahwa kakek tidak pernah menyetujui hadirnya laki-laki yang tak pernah lagi ada di sekitar dia dan ibunya. Ayahnya. Mungkin itu yang membuat ibunya sering bersedih atau marah setiap kali berada di dekat pohon asam di tengah alun-alun itu.

+++

Sampai suatu hari, menjelang hari pernikahannya, dia memberanikan diri bertanya kepada ibunya.

“Bu, dulu sewaktu aku kecil Ibu sering sekali membawaku pergi ke alun-alun memetik daun asam, mengumpulkan buahnya, dan sesekali mengerat kulit kayunya. Apakah Ibu ingat itu?”

Ibunya tersenyum dan mengelus kepalanya yang berada dekat dengan pangkuan.

“Tentu Ibu ingat. Apa yang ingin engkau tanyakan sebenarnya?”

Dengan menghela nafas panjang dan berat, dia menanyakan hal yang bertahun-tahun disimpan.

“Mengapa Ibu selalu menangis dan juga marah setiap kali kita ke sana? Kenangan apakah yang sebenarnya Ibu simpan?”

+++

Semenjak Ibunya tak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Ibunya dengan pohon asam gelugur di tengah alun-alun, dia tak pernah lagi bertanya. Hanya pada suatu reuni dengan teman-teman sekolahnya, dia bertemu Karman yang kini menjabat Sekretaris Daerah.

Dia yang kaget dengan penataan alun-alun kotanya itu mendapat penjelasan bahwa pohon asam gelugur itu sudah ditebang dan diganti dengan sebuah tugu berbentuk runcing yang menggambarkan keteguhan dan perjuangan untuk meraih cita-cita yang lebih baik.

“Oh. Pohon asam itu terlalu banyak menyimpan cerita pahit,” Jelas Karman ketika dia menanyakan alasan penebangan pohon itu.

“Memang cerita macam apa sehingga warga kota tak menginginkan pohon itu tidak perlu lagi ada di tengah alun-alun?” Dia tampak ingin menuntaskan rasa penasaran yang sekian lama bercokol itu.

“Kau pernah mendengar hukum picis, bukan? Seseorang yang dinyatakan bersalah disayat kulitnya dan pada lukanya itu diteteskan cairan dari buah asam. Dulu, pohon itu menjadi terkenal gara-gara seorang perampok besar menemui hari sialnya. Dia ditangkap dan ramai-ramai warga menghukumnya. Setiap orang menyayat kulitnya dan menyiramnya dengan cairan buah asam. Dia menemui ajal dengan tubuh hampir seluruhnya terkelupas kulitnya.”

“Perampok besar? Siapa namanya?”

“Orang-orang menyebutnya Man Jaha.”

Mendengar nama itu, dia menjadi sangat maklum mengapa kakeknya tak pernah mau bicara dengan ibu dan dirinya. Terlebih, dia pun kini bisa merasakan kesedihan dan kemarahan yang sama dengan ibunya jika dia mengingat pohon asam di tengah alun-alun itu. Untunglah, kini pohon asam itu sudah tidak ada lagi.


Jakarta, September 2011

Labels: